Home / Berita / Tiga Respons Berbeda terhadap Tertawaan Pasangan

Tiga Respons Berbeda terhadap Tertawaan Pasangan

Tertawa memainkan peran penting dalam hubungan romantis pasangan kekasih atau suami istri. Namun, respons terhadap tertawa ternyata dapat berbeda. Penelitian di Jerman menunjukkan ada tiga ciri respons terhadap tertawa, yaitu takut ditertawakan (gelotofobia), senang ditertawakan (gelotofilia), dan suka menertawakan orang lain (katagelastisisme).

ANASTASIA EFRIN–Tertawa lepas

Penelitian berjudul ”Untuk Mencintai dan Tertawa: Menguji Aktor, Mitra, dan Efek Kesamaan dari Disposisi terhadap Ejekan dan Ditertawakan pada Kepuasan Hubungan” itu dimuat dalam Journal of Research in Personality, yang juga dipublikasikan sciencedaily.com.

Penelitian tentang tertawan itu dilakukan Kay Brauer dan René T Proyer dari Departemen Psikologi Universitas Martin Luther Halle-Wittenberg, Jerman.

”Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa orang mencari pasangan dengan rasa humor dan yang menikmati tawa,” kata René Proyer.

HANDRI RAMDHANI–Pasangan pengantin ini benar-benar bahagia dan menunjukkan kebahagiaannya dengan tertawa, menari, dan meloncat-loncat bersama.

Namun, reaksi orang-orang yang ditertawakan sangat berbeda: sebagian orang takut ditertawakan atau gelotofobia. ”Mereka cenderung menafsirkan tawa sebagai sesuatu yang negatif atau merendahkan,” kata Proyer.

Ada orang lain yang senang menjadi pusat perhatian dan dengan sengaja memancing situasi yang membuat orang lain tertawa tentang mereka. Bagi banyak orang, ditertawakan adalah ungkapan penghargaan. Ciri ini disebut gelotofilia.

Ciri lainnya adalah menikmati tertawa tentang orang lain dan sengaja membuat mereka menjadi lelucon, yang disebut sebagai katagelastisisme.

Ketiga karakteristik ini adalah ciri-ciri kepribadian yang dapat terjadi pada saat yang sama untuk berbagai tingkat dan dalam kombinasi yang berbeda. Mereka dapat berkisar, misalnya, dari membuat lelucon yang tidak berbahaya untuk mengejek orang lain. Kombinasi ciri-ciri individu lain, misalnya seseorang yang suka tertawa tentang orang lain tetapi tidak suka ketika orang lain menertawakan mereka. ”Semua karakteristik ini normal hingga titik tertentu, termasuk takut ditertawakan,” ujar Proyer.

KOMPAS/ARBAIN RAMBEY (ARB)–Seorang petarung tertawa gembira.

Untuk penelitian mereka saat ini, para psikolog melakukan wawancara daring dengan 154 pasangan heteroseksual. Para peserta secara terpisah menjawab pertanyaan tentang hubungan mereka, misalnya tentang seberapa puas pasangan dengan hubungan mereka secara keseluruhan, apakah pasangan sering berdebat dan seberapa puas kedua pasangan itu dengan kehidupan seks mereka. Para peneliti juga menyelidiki bagaimana peserta studi menangani ditertawakan dan apakah mereka suka menertawakan orang lain. Untuk analisis selanjutnya, para peneliti membandingkan pernyataan yang dibuat oleh setiap orang

Para peneliti mengamati bahwa memprovokasi orang lain untuk menertawakan Anda memiliki efek positif. ”Perempuan melaporkan lebih sering bahwa mereka cenderung puas dengan hubungan mereka dan merasa lebih tertarik pada pasangan mereka. Mereka dan pasangan mereka juga cenderung sama puas dengan kehidupan seks mereka,” kata Brauer.

Menjadi takut ditertawakan, di sisi lain, cenderung memiliki efek negatif. Orang yang memiliki rasa takut ini kurang puas dalam hubungan mereka dan cenderung tidak memercayai pasangan mereka. Ini juga memiliki konsekuensi bagi pasangan. ”Laki-laki mengatakan lebih sering bahwa mereka tidak benar-benar merasa puas dengan kehidupan seks mereka jika pasangan mereka takut ditertawakan,” kata Brauer.

ZULKARNAENSL–Mbah Kromo Suwito mengaku berumur 40 saat ditanya usia sambil tertawa memperlihatkan deretan giginya yang sudah tanggal semua. Meski ditinggal oleh semua anaknya merantau ke Sumatera, Mbah Kromo tetap bahagia.

Peneliti menemukan pasangan cenderung lebih sering berdebat. ”Itu tidak mengherankan mengingat bahwa orang-orang ini sering bertindak terlalu jauh dan membuat komentar yang bersifat mengejek yang kemudian dapat mengarah pada pertengkaran,” kata Brauer.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa data apakah salah satu dari dua pasangan dalam suatu hubungan takut ditertawakan bisa menjadi informasi yang berguna untuk terapi pasangan atau konseling hubungan suami istri.

Anda tergolong yang mana? Gelotofobia, gelotofilia, atau katagelastisisme?

SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 17 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: