Home / Berita / The London Book Fair 2019, Napas Panjang Industri Kreatif Indonesia Terbuka

The London Book Fair 2019, Napas Panjang Industri Kreatif Indonesia Terbuka

Sebanyak 23 hak cipta buku terjual masing-masing 12 judul dari penerbit Asta Ilmu, delapan judul dari Mizan, satu judul dari Kepustakaan Populer Gramedia, dan dua judul Rumah Pensil melalui agen hak cipta Sapasar dari Malaysia. Selain itu, untuk sementara terdapat 408 judul yang serius diminati oleh penerbit 12 negara yang meminta arsip PDF buku-buku yang menarik minat mereka.

Koordinator Bidang Pemasaran Komite Nasional Indonesia sebagai Market Focus Country di the London Book Fair 2019 Thomas Atasena mengemukakan perkembangan terbaru itu, Jumat (15/3/2019). Hasil 23 hak cipta itu mendekati target yang ditetapkan sebelumnya yakni 50 hak cipta.

KOMPAS/LUKI AULIA–Pameran buku internasional the London Book Fair 2019 berakhir, Kamis (14/3/2019). Stan Indonesia yang tahun ini menjadi Fokus Pasar mendisplai 450 buku yg bisa dilihat oleh para pengunjung. Sampai sejauh ini ada 23 judul buku yang sudah terjual hak ciptanya.

Target itu diyakini akan tercapai karena masih banyak judul yang diminati dan prosesnya akan ditindaklanjuti. “Ini semua masih berproses,” ujarnya.

Selain penjualan hak cipta, terdapat pula lima distributor internasional dari Inggris, Amerika Serikat, dan Eropa yang sudah siap mendistribusikan buku-buku Indonesia yang sudah berbahasa Inggris ke Amerika Serikat, Inggris, Uni Eropa, Australia, dan India. Selain buku, film animasi “November 12th (Battle of Surabaya)” mulai didistribusikan secara global oleh Amazon Inggris.

Ketua Harian Panitia Pelaksana Indonesia Market Focus Country untuk London Book Fair 2019 Laura Bangun Prisloo mengatakan, Indonesia bisa menjadi pasar terbesar di kawasan Asia Tenggara dan ini menjanjikan bagi siapa saja yang mau memperluas pasarnya.

Indonesia memang diakui masih tertinggal dari dari negara-negara tetangga dari sisi produksi bukunya. Ini bisa dipahami karena, dari data yang ada, dari 1.500 penerbit yang ada mayoritas berada di Pulau Jawa (57,5 persen). Hanya 1,5 persen yang berada di wilayah Indonesia timur. Ini berarti peluang pasar buku di Indonesia masih terbuka luas.

“Semakin banyak buku Indonesia yang diterjemahkan berarti akan semakin terbuka juga peluang bagi penulis Indonesia ke dunia,” kata Laura.

Presiden Direktur Mizan Haidar Bagir juga menekankan masih luasnya pasar Indonesia terutama di daerah-daerah pelosok. Di negara seperti Indonesia, ancaman disrupsi teknologi sesungguhnya tidak terlalu besar. Masih ada banyak orang yang mau membeli buku dan penjualannya masih bagus karena daerah pelosok kini semakin terjangkau. Industri penerbitan tidak akan terpengaruh disrupsi teknologi selama selalu ada inovasi-inovasi penjualan.

KOMPAS/LUKI AULIA– Di dalam stan Paviliun Indonesia disediakan ruangan-ruangan interaksi bagi para penerbit Indonesia dengan penerbit-penerbit lain yang tertarik untuk menjalin kerja sama.

Haidar mencontohkan penjualan langsung dengan memanfaatkan teknologi digital. Seperti yang dilakukan oleh Mizan dengan membuka gudang penerbit dan menjual secara langsung. Ada 10.000 reseller yang juga menjual buku melalui media sosial. “Ada banyak inovasi yang bisa dilakukan. Tidak benar industri penerbitan itu akan berakhir. Masih banyak peluang yang bisa digarap,” ujarnya.

Apalagi kini banyak penerbit yang mulai memproduksi buku lokal atau yang berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Ini, kata Haidar, membuat pasar menjadi makin luas. Ini untuk menjawab kebutuhan generasi muda yang sekarang mulai banyak menggunakan bahasa Inggris.

Ada banyak inovasi yang bisa dilakukan. Tidak benar industri penerbitan itu akan berakhir. Masih banyak peluang yang bisa digarap.

Penghargaan
Dua penerbit Indonesia meraih penghargaan The London Book Fair International Excellence Awards 2019, ajang penghargaan tahunan yang diselenggarakan London Book Fair dan The Publishers Association. Penghargaan itu adalah Adult Trade Award untuk Penerbit Bentang Pustaka dan Children’s, Young Adult and Education Award untuk Penerbit Bestari Buana Murni.

Penghargaan ini diberikan kepada negara yang tengah menjadi Market Focus Country. Untuk tahun ini, terdapat dua kategori yang diberikan LBF The Market Focus Indonesia Adult Trade Award dan The Market Focus Indonesia Children’s, Young Adult & Education Award.

Selain dua kategori ini, beberapa penerbit dan tokoh penerbitan Indonesia juga masuk dalam sejumlah nominasi diantaranya West Java Agency of Library and Archive di tiga besar The Education Initiatives Award; Lontar Foundation sebagai tiga besar di The Literary Translation Initiative Award; dan Yuliani Liputo dari PT Mizan Pustaka Indonesia untuk tiga besar The Rights Professional Award; dan Makassar International Writers Festival sebagai tiga besar untuk The Literary Festival Award.–LUKI AULIA

Sumber: Kompas, 16 Maret 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: