Home / Artikel / Teritip (Barnacle) Sang “Pengotor” di Laut

Teritip (Barnacle) Sang “Pengotor” di Laut

PESATNYA laju perkembangan pembangunan dan teknologi menyebabkan perairan pantai merupakan lokasi alternatif yang penting untuk berbagai proyek pembangunan, seperti pembangunan pabrik-pabrik, galangan kapal, pemekaran pelabuhan, pariwisata dan lain-lain.

Di samping keuntungan tersebut, bangunan-bangunan di perairan pantai, muara dan teluk sering dimanfaatkan sebagai substrat oleh biota yang hidup di sekitar perairan.

Di antara sekian banyak organisme di laut, dikenal kelompok biota penempel. Biota penempel , dijumpai pada hampir semua benda yang terendam air laut. Biota tersebut terdiri dari bakteri, tumbuh-tumbuhan dan beberapa jenis binatang yang sering menimbulkan pengotoran dan bahkan kerusakan terhadap substratnya. Oleh sebab itu biota tersebut dikenal dengan sebutan organisme pengotor (fouling organism).

Organisme pengotor tersebut, umumnya merugikan karena dapat mengganggu bangunan, konstruksi di laut dan usaha perkapalan. Kehadirannya pada substrat atau benda-benda yang terendam di air laut merupakan peristiwa alam yang wajar. Akan tetapi sifat hidup yang demikian menimbulkan beberapa masalah seperti mempercepat pelapukan konstruksi kayu, mempercepat korosi berbagai bahan kapal dan bangunan besi dan logam, juga menimbulkan gangguan pada pipa atau saluran pengambil dan
pembuangan air laut untuk berbagai keperluan.

Pipa-pipa dan terowongan-terowongan bawah laut untuk sistem pendingin pembangkit tenaga listrik dapat menjadi tersumbat karena penempelan tersebut. Di samping itu juga penempelan teritip pada lunas-lunas kapal mengakibatkan mengurangnya kecepatan kapal dengan pemakaian jumlah bahan bakar sama, jika dibandingkan dengan keadaan sebelum dikotori teritip. Seorang pengamat arus bawah permukaan pun perlu berhati-hati terbadap teritip ini jika menggunakan alat pengukur arus yang dipasang terus-menerus di bawah laut untuk waktu yang lama. karena dapat menimbulkan kerusakan pada alat.

SI ” PENGOTOR” YANG MENYEBABKAN KERUSAKAN
Setiap kali kita ke pantai, melihat kapal atau perahu dan menemukan benda-benda terapung hanyut di laut hampir selalu dijumpai atau ditumpangi teritip. Teritip merupakan biota pengotor yang sudah cukup dikenal dan salah satu anggotanya adalah Balanus. Semua orang dapat dengan mudah mengenali organisme penempel itu, tetapi jarang yang memperhatikannya dengan cermat. Karena memang dalam bebera hal binatang ini tidak ada gunanya bagi manusia.

Marga Balanus mempunyai cangkang yang keras terbentuk karena adanya proseS pengapuran. Cangkang tersebut menyelubungi seluruh tubuhnya. Penempelan organisme pada substrat bersifat permanen. Selain itu hewan ini memiliki daya tahan yang cukup kuat terhadap adanya perubahan lingkungan yang besar, serta memiliki sistim berbiak hermaprodit menjadi faktor pendukung untuk memperluas penyebarannya.

Memperhatikan hal ini sudah bisa diduga bahwa teritip atau Balanus merupakan jenis yang kosmopolitan, penyebarannya luas, meliputi iklim sedang, sub-tropik. Secara vertikal dapat mencapai lokasi yang cukup dalam, pada suatu perairan laut, biasanya ditemukan menempel pada Gorgonian dan sejenis karang tanduk. Beberapa jenis lain ada yang hidup menempel pada kepiting, ikan cucut, penyu laut dan ikan paus.

Kapal mempunyai peranan yang penting dalam penyebaran teritip, tetapi sebaliknya menyebabkan kerusakan terhadap kapal yang ditumpangi tersebut.

MORFOLOGI
Teritip termasuk invertebrata yang hidup di laut, memiliki dua stadium yaitu stadium larva yang bersifat planktonis dan stadium dewasa yang bersifat menempel. Stadium larva terbagai dua yaitu larva nauplii dan larva cypris (Gambar 1).

Storer dan Usinger mendiskrip-sikan teritip sebagai kelompok udang-udangan (Crustaceans) dimana pada stadium dewasa (Gambar 2) bersifat hermaprodit, terselubung dalam cangkang kapur (Calcareous) dan hidup melekat. Sedangkan pada stadium larva terbentuk dari zat kapur dan bersifat planktonis.

Berbeda dengan kelompok udang-udangan yang lain, maka teritip kehilangan kemampuannya untuk bisa bergerak pindah secara bebas. Teritip yang umum dikenal adalah marga Balanus dan Lepas. Balanus spp. umum dikenal sebagai Rock Barnacle atau Acorn Barnacle, karena tidak mempunyai tangkai dan menempel pada batu-batu, benda-benda atau bangunan-bangunan di pantai. Sedangkan Lepas spp. disebut sebagai Goose Barnacle, karena bentuknya yang menempel bertangkai seperti angsa atau disebut juga sebagai Palagic Barnacle, karena menempel pada benda-benda yang hanyut di laut (Gambar 3).

Ukuran dan warna cangkang bermacam-macam, tergantung dari jenisnya. Umumnya cangkang Balanus spp. berwarna putih, kuning, merah, merah muda, jingga, ungu dan bergaris. Diameter cangkang + 13 mm – 80 mm.

PERKEMBANGAN DAN DAUR HIDUP
Teritip yang sering kita lihat adalah bentuk dewasanya. Dalam perjalanan hidupnya teritip berbiak secara hemaprodit, dengan fertilisasi secara internal yang terjadi di dalam rongga tubuh (Mantle Cavity). Pembuahan dapat berlangsung apabila sperma membuahi sel telur dari individu yang sama atau individu yang lain. Telur yang telah dibuahi dieramkan dalam rongga tubuh sampai menjadi larva nauplii. Larva nauplii dilepaskan ke laut sebulan setelah penetasan, kemudian berkembang m enjadi larva cypris melalui pergantian kulit. Pergantian kulit akan berlangsung sekali atau tiga kali dalam seminggu dan berubah bentuk secara perlahan. Stadium larva cypris berlangsung 4 hari sampai dengan 10 atau 12 minggu, bercangkang seperti bivalva dan mempunyai organ tambahan serta organ pengapung.

Selanjutnya larva cypris akan mengendap menuju suatu substrat untuk menempel, dan cangkang bivalva mulai menghilang digantikan oleh cangkang baru yang disebut cangkang dewasa (Gambar 4). Teritip akhirnya melekat dengan mantap (Fixed) pada substrat yang dijumpainya.

Makanan teritip berupa plankton hewani kecil yang masuk bersama aliran air ke dalam mulut. Aliran air ini terjadi oleh gerakan kaki-kaki berbulu, dan itulah fungsi kaki teritip tersebut bukannya untuk berjalan atau berenang.

EKOLOGI DAN USAHA PENANGGULANGAN
Di dalam penyebarannya, teritip dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kuat arus, gelombang, turbulensi, cahaya dan musuh di alam seperti binatang karang dan purpura. Di daerah yang didominasi populasi karang tidak akan dijumpai teritip, karena tidak akan tumbuh pada substrat karang.

Arus yang kuat dapat menghalangi penempelan larva cypris pada suatu substrat, sehingga tidak akan mencapai stadium dewasa. Persaingan di dalam mendapatkan tempat menempel akan mengganggu perkembangan teritip. Kematian teritip sering terjadi pada stadium larva nauplii, sewaktu pergantian kulit pertama dan kedua karena pada saat itu teritip sangat lemah dan masih muda.

Untuk mematikan dan melepaskan penempelan teritip dari substrat cukup mudah yaitu dengan memasukan benda-benda yang ditempeli tersebut ke air tawar, maka teritip akan segera mati dan terlepas dari tempat penempelannya. Pada waktu teritip terlepas dari substrat, biasanya akan membawa lapisan permukaan benda yang ditempeli tersebut, seperti cat pada kapal dan lapisan teratas pada benda-benda lain yang ditempeli. Di samping itu gelombang juga memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup marga ini. Perairan yang mempunyai gelombang besar dengan sendirinya akan menghalangi penempelan slarva cypris pada substrat.

Oleh: RIANTA PRATIWI, PUSLITBANG Oseanologi – LIPI, Jakarta.

Sumber: Majalah AKUTAHU/JANUARI 1992

Share
%d blogger menyukai ini: