Home / Berita / Tercemar Logam Berat, Pindahkan Sapi dari Tempat Sampah

Tercemar Logam Berat, Pindahkan Sapi dari Tempat Sampah

Masyarakat Indonesia adalah penggemar daging dan jerohan sapi. Asal daging jerohan itu bisa berasal dari mana saja, termasuk peternakan sapi rakyat di tempat pembuangan akhir sampah di pinggiran kota besar. Beberapa penelitian menunjukkan, daging dan jerohan sapi yang makan sampah mengandung logam berat berbahaya.

Sapi makan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di kawasan Alak, Kota Kupang, Nusa tenggara Timur, Senin (20/4). –Kompas/Frans Sarong (ANS)

Sebelum ditemukannya logam berat pada jerohan sapi, peternakan sapi di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah dianggap menguntungkan secara ekonomis. Hal itu dianggap menjadi solusi menyelesaikan masalah sampah di kota besar. Sapi dapat mengkonsumsi sampah organik itu.

Harian Kompas tercatat pertama kali melaporkan sapi makan sampah di TPA Putri Cempo, Kota Solo, Jawa Tengah, 1 Juni 1991. Dalam foto di halaman 14 tampak puluhan sapi menyantap sampah di TPA. “Setiap hari puluhan sapi jenis kereman sengaja diumbar oleh pemiliknya untuk mengais makanan di atas tumpukan sampah baru” demikian bunyi teks fotonya.

Lima tahun kemudian, Harian Kompas mengulas sapi makan sampah di TPA Putri Cempo dalam edisi 12 Desember 1996 di halaman 8. Menurut laporan wartawan Harian Kompas, usaha peternakan milik para pemulung yang sehari-hari mengais rezeki di TPA Putri Cempo itu diawali tahun 1992. Bermula dari kebetulan, ketika penduduk setempat yang semula pemilik lahan di kampung Putri Cempo digusur untuk lahan pembuangan akhir sampah kota Solo tahun 1985. Para petani ini kehilangan lahan untuk menggembala ternak mereka. Sebagai ganti, hewan ternak berupa sapi dan kambing mereka gembalakan di tengah lahan sampah.

Dalam perkembangannya, usaha sapi di TPA Putri Cempo berkembang. Sapi potong jenis peranakan Ongole dipelihara oleh 28 anggota Kelompok Tani Ternak Bhakti Mulya di Kampung Putri Cempo, mampu mencapai berat ideal antara 300-400 kg. Dengan bobot seperti itu nilai jualnya mencapai Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta per ekor. Pada tahun 1996 itu jumlah sapi di TPA Putri Cempo sebanyak 650 ekor.

Dirjen Peternakan Departemen Pertanian saat itu, Erwin Soetirto yang berkunjung ke kelompok tani tersebut di Mojosongo, Sabtu, 7 Desember 1996, menyatakan amat terkesan. Dirjen mengatakan, hendaknya kelompok peternak tersebut bisa menjadi salah satu pemasok ternak sapi potong untuk industri makanan yang menggunakan daging sapi nasional.

Dalam laporan Harian Kompas, peternakan sapi di TPA tersebut tidak hanya dilakukan di Solo, melainkan di sejumlah kota seperti Kota Yogyakarta; Kota Semarang, Jawa Tengah, Denpasar, Bali; Kupang, Nusa Tenggara Timur; Kota Gorontalo; Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Potensi peternakan sapi di TPA tersebut bahkan menjadi bahan penelitian, misalnya oleh peneliti Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Penelitian oleh Senja PY, Z Moesa, dan dan H Nuraini itu berjudul “ Potensi Peternakan Sapi Pedaging untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat di TPA Putri Cempo, Mojosongo, Solo”, dimuat dalam jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil Peternakan edisi 1 Januari 2013.

Senja PY dan kawan-kawan menyimpulkan peternakan sapi di TPA Putri Cempo adalah peternakan semi intensif. Penggunaan sampah organik sebagai pakan sapi mengurangi sampah di TPA Putri Cempo dan mengurangi biaya pakan peternak. Kesejahteraan peternak meningkat secara nyata sejak adanya peternakan di TPA Putri Cempo.

Penelitian serupa juga dilakukan di TPA Piyungan, Yogyakarta, oleh peneliti Pusat Teknologi Badan Pengkajian dan Penetapan Teknologi Sri Wahyono. Penelitian berjudul “Analisis Dampak Penggembalaan Sapi di TPA” itu dimuat dalam jurnal Teknologi Lingkungan Mei 2010. Berbeda dengan penelitian Senja PY dan kawan-kawan, penelitian Sri Wahyono yang dilakukan tiga tahun sebelumnya telah menyinggung bahaya logam berat.

Dalam kesimpulannya, Sri Wahyono menyebutkan, penggembalaan sapi di TPA berdampak positif dalam mereduksi sampah organik dan meningkatkan perekonomiaan penduduk yang bermukim di sekitar TPA. Namun demikian, penggembalaan sapi di TPA juga berdampak negatif yaitu mengganggu operasi harian TPA, berpotensi menimbulkan konflik sosial dalam perbaikan TPA, dan indikasi tingginya kandungan logam berat pada organ sapi sehingga membahayakan konsumen daging sapi.

“Menimbang dampak tersebut, sebaiknya kebijakan menggembalakan sapi di TPA perlu ditinjau ulang karena pentingnya pengoperasian TPA yang sesuai dengan kaidah sanitary landfill (TPA) di masa mendatang dan isu perlindungan konsumen akan daging sapi yang aman dikonsumsi. Sayangnya sampai saat ini belum ada tindakan nyata pemerintah terhadap kebijakan penggembalaan sapi di TPA”, tulis Sri Wahyono.

Sri Wahyono mengutip penelitian M Arifin dan kawan-kawan dari Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro berjudul “Residu Logam Berat Pada Sapi Potong Yang Dipelihara Di TPA Jatibarang, Kota Semarang Pascaproses Eliminasi Selama 90 Hari”. Penelitian itu dipaparkan dalam Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner tahun 2005.

KOMPAS/KARINA ISNA IRAWAN–Puluhan sapi berkeliaran bebas di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Jatibarang, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (18/7/2017). Menurut warga setempat, sapi itu sengaja dilepasliarkan pemiliknya untuk mencari makan di tumpukan sampah. Setiap hari TPA Jatibarang menerima 850-900 ton sampah dari Kota Semarang dan sekitarnya.

M Arifin meneliti residu logam berat timbal (Pb), air raksa atau merkuri (Hg), dan kadmium (Cd) dalam daging dan jerohan sapi. Bagian daging yang diteliti adalah otot paha (musculus biceps femoris) dan daging paling lembut dan mahal dari sapi yaitu daging lulur (musculus longissimus dorsi). Jerohan yang diteliti adalah ginjal, usus, babat (rumen), dan hati.

Hasilnya, kadar residu timbal dalam daging dan jerohan masih aman menurut standar Kementerian Kesehatan, tetapi tidak aman menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Air raksa ditemukan di hati, tetapi masih dalam kadar aman menurut Kemenkes. Residu air raksa juga ditemukan dalam tidak aman di ginjal menurut standar Kemenkes dan WHO. Residu kadmium ditemukan di ginjal menurut standar WHO.

M Arifin dan kawan-kawan menyimpulkan, pengeluaran sapi dari lokasi TPA dan menggantikan pakan dengan bahan konvensional selama 90 hari ternyata dapat membantu mengeluarkan residu timbal, air raksa dan kadmium dari dalam tubuh ternak tersebut melalui urine dan feses. Pemotongan ternak yang dilakukan setelah proses eliminasi ternyata menghasilkan kadar residu timbal, air raksa dan kadmium pada produk pemotongan ternak. Berada di bawah batas yang diperbolehkan, sehingga menjadi aman untuk dikonsumsi, kecuali untuk organ hati dan ginjal.

“Ternak sapi yang akan dikeluarkan dari TPA untuk dipotong, sebaiknya tiga bulan sebelumnya tidak diberi pakan sampah lagi” demikian saran M Arifin dan kawan-kawan atas kesimpulan penelitiannya.

Penelitian terbaru tentang kadar timbal dalam jerohan dilakukan peneliti Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana (FKH Unud), Denpasar. Penelitian dilakukan Ni Made Kunti Janardani, I Ketut Berata, dan I Made Kardena berjudul “Studi Histopatologi dan Kadar Timbal pada Ginjal Sapi Bali di TPA Suwung, Denpasar”. Penelitian dimuat dalam jurnal Indonesia Medicus Veterinus Januari 2018.

Hasilnya, ginjal sapi bali yang dipelihara di TPA Suwung terpapar logam berat timbal. Perubahan histopatologi atau jaringannya berupa peradangan dan nekrosis atau jaringan mati.

Selain di ginjal, peneliti lain FKH Unud Erena Hajar Kartika, juga bersama I Ketut Berata dan I Made Kardena meneliti kadar timbal di otak sapi bali. Penelitian berjudul, “Studi Histopatologi dan Kadar Timbal Pada Otak Sapi Bali di TPA Suwung Denpasar” itu juga dimuat dalam jurnal Indonesia Medicus Veterinus edisi Januari 2018.

Kesimpulan penelitian mereka menunjukkan bahwa otak sapi bali yang dipelihara di TPA Suwung tercemar logam berat Pb. Perubahan histopatologi berupa degenerasi neuron atau sel syaraf, demyelinasi atau hilangnya selaput neuron dan vaskulitis. Vaskulitis adalah peradangan yang terjadi pada pembuluh darah, dalam hal ini di otak. Secara mikroskopik digambarkan sebagai infiltrasi sel inflamasi pada dinding pembuluh darah.

Bagaimana logam berat seperti timbal itu bisa berada dalam daging dan jerohan sapi? Jalur masuknya timbal ke dalam tubuh dapat melalui saluran pernapasan dan saluran pencernaan, kemudian didistribusikan ke dalam darah, dan terikat pada sel darah. Sebagian timbal disimpan dalam jaringan lunak dan tulang, sebagian dieksresikan lewat kulit, ginjal dan usus besar. Timbal bersirkulasi dalam darah setelah diabsorpsi dari usus, terutama berhubungan dengan sel darah merah kemudian didepositkan dalam tulang dan sebagian kecil tersimpan dalam otak (Kartika, dkk, 2018).

Dalam kasus sapi makan di TPA dapat dipastikan logam berat tersebut berasal dari sampah yang dimakan sapi, terlebih sapi yang dilepas bebas memakan sampah. Sejumlah penelitian tentang isi perut sapi yang makan sampah telah membuktikannya.

Penelitian itu antara lain dilakukan peneliti FKH Unud Eldarya Envisari Depari, Annas Farhani, I Wayan Batan, dan I Made Kardena yang dimuat dalam jurnal Sain Veteriner edisi Juni 2017. Penelitian mereka berjudul “Gambaran Histopatologi Rumen dan Retikulum Sapi Bali Akibat Adanya Benda Asing”.

Rumen dan retikulum adalah bagian perut sapi memegang peranan penting dalam saluran pencernaan ruminansia seperti sapi. Penelitian ini menggunakan 10 sampel dari sapi bali dari Rumah Potong Hewan Desa Mambal, Kecamatan Abian Semal, Kabupaten Badung, Bali. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap rumen dan retikulum sapi bali, terdapat berbagai benda asing berupa plastik, logam, kayu dan batu. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa ditemukan adanya benda asing dalam rumen dan retikulum sapi bali, dan benda asing tersebut mengakibatkan kerusakan jaringan (Depari, dkk, 2017).

Selain itu prevalensi sapi untuk cacingan lebih besar pada sapi di TPA daripada di peternakan sapi intensif. Hal itu dibuktikan dengan penelitian Indri Agustin Stevi Sajuri, I Made Dwinata, Ida Bagus Made Oka dari FKH Unud. Penelitian mereka berjudul “Prevalensi Infeksi Cacing Nematoda Saluran Pencernaan pada Sapi Bali di TPA Suwung, Denpasar”.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi infeksi cacing nematoda saluran pencernaan pada sapi bali di TPA sebesar 30 persen. Jenis cacing yang menginfeksi saluran pencernaan sapi bali ditemukan jenis cacing tipe Strongyl sebesar 28 persem dan cacing Strongyloides sp sebesar 8 persen.

Sajuri dan kawan-kawan membandingkan prevalensi cacing di tubuh sapi di TPA Suwung dengan sapi yang diternakkan secara semi intensif di Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Prevalensi cacing di Sobangan hanya 9,31 persen.

“Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa lingkungan TPA Suwung Denpasar kurang layak digunakan untuk memelihara sapi bali,” demikian saran Sajuri dan kawan-kawan.

Dengan berbagai bukti penelitian tersebut sudah saatnya pemerintah pusat dan pemerintah daerah mengambil kebijakan mendasar untuk memindahkan ternak sapi dari TPA di seluruh Indonesia. Masyarakat juga berhak menuntut ke pemerintah karena kesehatan masyarakat tidak terlindungi dari logam berat dan materi mencemarkan lainnya.–SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 26 Juni 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: