Home / Artikel / Terapi Cuci Otak dan Efek Plasebo

Terapi Cuci Otak dan Efek Plasebo

Efek plasebo berkaitan dengan mekanisme komplek neurobiologis yang melibatkan neurotransmitter (endorphin, cannabinoids dan dopamine). Plasebo dapat menstimulasi respons psikologis mulai dari laju jantung, tekanan darah hingga aktivitas berbagai area di otak.

Publik saat ini sedang disuguhi kontroversi terapi cuci otak yang diperkenalkan oleh dokter Terawan. Kegaduhan muncul saat tersebar amar keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) yang menyatakan ahli radiologi intervensi itu melakukan pelanggaran etik serius dan menetapkan sanksi pemecatan sementara.

Sanksi berlaku selama satu tahun disertai dengan pencabutan surat izin praktik. Kontroversi tidak segera mereda walaupun Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menunda amar keputusan tersebut. Apakah kegaduhan ini bersumber pada terapi cuci otak yang dianggap mengada ada dan bersifat plasebo?

Plasebo biasanya didefinisikan sebagai terapi obat-obatan maupun prosedur medis tanpa memiliki kandungan terapi namun berperan menghilangkan atau meredakan keluhan pasien.
Termasuk dalam plasebo adalah bentuk komunikasi, situasi lingkungan, sentuhan tangan, dan sikap-sikap lain yang menyentuh emosi pasien. Efek plasebo bersifat subyektif dan berperan meringankan kecemasan, depresi, serta keluhan sakit.

Efek plasebo
Plasebo baik obat maupun tindakan medis tidak mengubah perjalanan penyakit atau pun menurunkan kematian akibat penyakit itu. Jadi bila kita kembali ke terapi cuci otak untuk mengatasi pembuluh yang tersumbat di otak maupun jantung, tindakan yang bersifat plasebo tidak efektif memperbaiki aliran darah namun berpotensi meringankan keluhan yang ada.

Plasebo berperan mengurangi derita efek samping kemoterapi kanker namun tidak menghambat pertumbuhan tumor. Plasebo meringankan secara dramatis sesak asma namun tidak memengaruhi tes faal paru. Keluhan pingsan atau dalam medis disebut syncope dapat mereda dengan terapi plasebo.

Riset klinis terbaru membuktikan bahwa efek plasebo sebenarnya merupakan fenomena biopsikososial. Saat ini studi genetik mulai mampu mengidentifikasi pasien yang sangat responsif terhadap plasebo.

Efek plasebo berkaitan dengan mekanisme komplek neurobiologis yang melibatkan neurotransmitter (endorphin, cannabinoids dan dopamine). Plasebo dapat menstimulasi respons psikologis mulai dari laju jantung, tekanan darah hingga aktivitas berbagai area di otak.

Tongkat Perkins
Kemujaraban plasebo dalam mengatasi derita penyakit telah dikenal berabad lalu. Kisah paling terkenal adalah tentang tongkat ajaib dokter Elisha Perkins yang muncul pada akhir abad 18.
Dokter Perkins mampu membuat orang sakit yang terbaring lama bangkit kembali berdiri dan berjalan. Belum pernah ada dokter Connectitute-Amerika Serikat, yang mampu melakukan hal demikian sebelumnya. Rahasia kemampuan dokter Perkins terletak pada tongkat baja ajaib. Tongkat itu bila disentuhkan pada area tubuh yang sakit maka ‘sim salabim” rasa sakit itu menghilang.

Keajaiban tongkat Perkins bergema seantero Amerika hingga Eropa Barat. Masyarakat berduyun duyun mencari penyembuhan. Tidak kurang 5.000 orang tersembuhkan dan proses penyembuhan itu tersertifikasi oleh 8 profesor, 40 dokter dan 30 pendeta termasuk presiden Amerika kala itu. Namun, asosiasi kedokteran Connectitut memecat Perkins dari keanggotaan karena menganggap terapi Perkins adalah bualan.

Dokter John Haygarth asal Inggris mengganti tongkat metal itu dengan tongkat kayu yang mirip metal dan ternyata memiliki efek serupa dengan tongkat Perkins. Haygart memastikan tongkat Perkins tak lebih dari plasebo. Ia kemudian menulis buku berjudul Imagination as a Cause and as a Cure of Disorders of the Body.

Cerita lama tongkat Perkins ini diangkat kembali oleh Johann Hari dalam bukunya Lost Connection yang diterbitkan pada Januari 2018.

Terkait untuk menguji apakah efek terapi dokter Terawan itu plasebo atau bukan, diperlukan suatu disain uji klinis yang tepat untuk menjawab segala keraguan. Dokter Terawan akan jadi ikon kebanggaan bangsa bila terapi ini memang benar-benar berperan dalam mengatasi dan bahkan mencegah stroke yang menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Intervensi pembuluh darah
Eforia dunia atas keberhasilan tindakan renal denervation yaitu intervensi pembuluh darah ginjal dalam mengatasi hipertensi membandel segera surut saat Dr Deepak L Bhatt dan kawan kawan mempublikasi studi Symplicity HTN-3.

Studi yang dimuat di The New England Journal of Medicine pada 2014 itu membuktikan penurunan tekanan darah pada kelompok pasien yang mendapat terapi invasif tidak berbeda dengan kelompok pasien dengan prosedur plasebo (sham control).

Berdasar studi tersebut, renal denervation tidak lagi direkomendasikan untuk intervensi hingga ada bukti berikutnya.

Dunia kedokteran jantung belum lama ini juga dikejutkan dengan hasil studi Orbita oleh Dr Rasha Al-Lamee dan kawan kawan yang termuat di Lancet pada akhir 2017. Para peneliti Inggris ini membuktikan adanya efek plasebo pemasangan stent pada penderita penyakit jantung koroner stabil.

Para peneliti tidak mendapati perbedaan hasil dalam kurun enam minggu pada mereka yang menjalani pemasangan stent jantung dan mereka yang menjalani pemasangan stent pura pura (sham control). Studi Al-Lamee dan kawan-kawan memang belum menisbikan studi-studi besar peran intervensi koroner. Namun, tak urung studi ini menegaskan profesi medis selalu berhak meragukan manfaat terapi walaupun terapi tersebut sudah berjalan empat dekade pada jutaan pasien di dunia.

Kesempatan baik
Terkait untuk menguji apakah efek terapi dokter Terawan itu plasebo atau bukan, diperlukan suatu disain uji klinis yang tepat untuk menjawab segala keraguan. Dokter Terawan akan jadi ikon kebanggaan bangsa bila terapi ini memang benar-benar berperan dalam mengatasi dan bahkan mencegah stroke yang menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Tim Health Technology Assessment (HTA) Kementerian Kesehatan berperan menilai terapi metode cuci otak ini. Bila Kemenkes memandang terapi ini bermanfaat tentu peserta BPJS berpotensi menikmati terapi ini. Bukan sekadar mereka yang punya uang.

Keriuhan terapi cuci otak ini merupakan kesempatan baik bagi kalangan medis dari berbagai institusi untuk membuktikan tanggung jawab dan profesionalisme dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat.

Profesi medis tidak terkokohkan dengan dukungan jenderal dan tidak terlemahkan dengan cibiran politikus. Keterbatasan profesi medis kerap terungkit dari dalam profesi sendiri.

A Fauzi Yahya, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Anggota IDI

Sumber: Kompas, 11 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Menghijaukan Kenormalan Baru

Mungkinkah Covid-19 adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepada umat manusia untuk mengasihi alam sebelum terlambat? ...

%d blogger menyukai ini: