Tender Elektronik Hemat Rp 65 Triliun

- Editor

Sabtu, 14 Februari 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sistem pengadaan atau pembelian secara elektronik dapat memotong rantai suplai hingga meningkatkan efisiensi anggaran. Sejak 2008 hingga 2014, e-tender di lingkungan pemerintah menghemat hingga Rp 65 triliun, karena ada pengurangan biaya dalam proses kontrak setelah tender hingga 15 persen.


Sejalan program e-tender, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) juga melakukan e-catalog. Memasukkan data spesifikasi produk pada katalog elektronik dimulai tahun 2012. Proses itu diawali produk mobil dan motor dengan berbagai merek dan negara produsen. ”Pengadaan secara daring ini menekan harga hingga Rp 25 juta setiap kendaraan,” kata Kepala LKPP Agus Rahardjo Seusai bertemu Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo di Jakarta, Kamis (12/2) malam.

Kini, produk alat kesehatan juga masuk e-catalog. Pengadaan alat kesehatan dengan tender konvensional, berdasar temuan KPK, harganya bisa melonjak 400 persen dari harga impor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

materi-iacfgtc2-menutup-celah-korupsi-di-pengadaan-barang-dan-jasa-12-638Untuk alat tulis kantor, pihak LKPP sejak 3 Desember 2014 juga memasukkan data produk dari pasar swalayan besar di Indonesia, seperti Carrefour dan Hypermart. Melalui e-catalog dan pengadaan secara daring diperoleh potongan harga 1,5 persen, yang selama ini diberikan untuk distributor.

Data e-catalog dapat diakses melalui inaproc.lkpp.go.id yang merupakan portal pengadaan barang dan jasa nasional. Portal itu, pintu gerbang sistem informasi pengadaan elektronik yang terkait pengadaan barang atau jasa pemerintah secara nasional.

Menurut Indroyono Soesilo, program e-catalog hendaknya juga dilakukan untuk pengadaan peralatan pembangkit listrik yang terkait program kelistrikan nasional hingga 3.500 megawatt. Program itu akan menyerap dana sekitar Rp 1.000 triliun.

Dana sebesar itu, semaksimal mungkin akan dimanfaatkan untuk membeli produk dalam negeri. Untuk itu akan dilibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi untuk mengkaji kemampuan industri dalam negeri demi memenuhi kebutuhan komponen pembangkit.

Peralatan yang masuk kategori prototipe hendaknya juga dapat masuk e-catalog. ”Namun, prototipe harus lulus dalam uji produksi awal,” kata Indroyono.

Sementara itu, karya inovasi yang telah masuk e-tender, antara lain, alat traktor ”Jajar Legowo” hasil rancangan Astu Unadi yang juga Direktur Indonesian Center for Agricultural Engineering Research and Development. ”Melalui program tersebut dalam dua minggu dapat melayani pesanan hingga 6.800 unit atau senilai total Rp 120 miliar,” kata Astu. (YUN)

Sumber: Kompas, 14 Februari 2015

Posted from WordPress for Android

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 6 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru