Home / Berita / Tenaga Pemasaran; Bekerja Itu Melelahkan, tetapi Honornya Menggiurkan

Tenaga Pemasaran; Bekerja Itu Melelahkan, tetapi Honornya Menggiurkan

Banyak mahasiswa bekerja untuk mengisi liburan semester. Jenis pekerjaan yang dipilih di antaranya menjadi tenaga pemasaran atau bagi mahasiswi menjadi sales promotion girl (SPG). Sering kali pekerjaan itu membuat kita berpikiran negatif, misalnya mereka yang berprofesi sebagai tenaga pemasaran itu mudah digoda.

Sebaiknya kita tidak berprasangka negatif karena menjadi seorang tenaga pemasaran itu tidak mudah. Mereka harus tahan berdiri berjam-jam sembari menawarkan produk perusahaan yang mempekerjakan.

Untuk menjadi seorang tenaga pemasaran, seseorang harus mau berusaha keras dan tahan malu supaya hasilnya maksimal. Apabila mencapai angka penjualan yang tinggi, selain mendapat honor sesuai perjanjian, perusahaan biasanya akan memberikan tambahan uang.

Secara tak sadar, menjadi tenaga pemasaran membuat mahasiswa mengenal dunia kerja yang sesungguhnya. Hal yang tak kalah penting, mereka pun menjadi lebih ”menghargai” uang karena tahu untuk mendapatkannya tidak gampang.

Hal itulah yang dirasakan Kayta (21), mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Al Azhar Jakarta. Sejak tahun 2012, Kayta bekerja di sela-sela waktu kuliah.

”Enggak hanya sewaktu libur semester, tetapi juga pada Jumat, Sabtu, dan Minggu saya bekerja,” kata dia. Kayta tak hanya menjadi tenaga pemasaran, tetapi juga penerima tamu pada berbagai acara, seperti seminar, peluncuran produk, sampai pernikahan.

Sales Promotion Girl (SPG)”Sekarang aku sangat berhati-hati mengeluarkan uang karena tahu mencarinya enggak mudah,” ujar Kayta. Dia juga lebih menghormati ayahnya yang bekerja dan ibunya yang membereskan semua urusan di rumah. Setelah menerima honor, sesekali dia mengajak orangtuanya berjalan-jalan sambil makan di luar rumah.

Umumnya, perusahaan yang mempekerjakan mahasiswa memberi honor lumayan besar kepada mereka. Angkanya berkisar dari Rp 150.000 sampai Rp 750.000 per hari. Lamanya waktu bekerja itu pun bervariasi, mulai dua hari sampai satu bulan.

Namun, kita sebaiknya tidak langsung tergiur dengan nilai angka yang relatif besar itu, juga waktu bekerja yang biasanya mulai pukul 15.00 sampai 22.00. Honor ataupun jam kerja tenaga pemasaran amat bergantung pada tugas dan perusahaan yang mempekerjakan mahasiswa.
Dilarang duduk

Beberapa mahasiswa punya alasan mengapa bersedia bekerja selama liburan sekitar satu bulan. Bahkan ada mahasiswa yang bekerja hingga tiga bulan. Sebagian dari mereka beralasan ingin punya kesibukan yang berbeda, tergiur honor tinggi, dan mencari pengalaman, atau kombinasi dari ketiga alasan itu.

Meskipun menjadi tenaga pemasaran ”hanya” merupakan pekerjaan sampingan, mereka tetap tak bisa hanya asal-asalan dalam bekerja. Ada aturan yang wajib ditaati mahasiswa seperti selama bertugas tidak boleh duduk. Meskipun ada pula pengawas yang relatif baik hati dan bisa menoleransi sebagian aturan itu.

”Kalau sudah kecapekan, aku bilang sama dia (pengawas), minta izin untuk duduk sebentar. Biasanya dia izinkan, tetapi di belakang stan,” kata Kayta.

Daniel Gerri Tedjasukmana (20), mahasiswa semester VI Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah, juga mengaku capek menjadi tenaga pemasaran sebuah produk teknologi.

”Kita enggak cuma tidak boleh duduk. Pada awalnya saya sempat malu saat menawarkan produk kepada orang-orang yang lewat di depan stan. Tetapi lama-kelamaan, saya lihat, teman saya bisa berarti saya juga harus bisa,” ujar dia.

Mengusir rasa malu dan harus bisa berkomunikasi dengan baik dengan pengunjung menjadi kunci dari keberhasilan mahasiswa sebagai tenaga pemasaran.

”Selama empat bulan saya bekerja, hasilnya lumayan karena bisa dapat bonus, he-he-he,” kata dia menambahkan. Honor hasil bekerja tersebut kemudian dia tabung. Dengan demikian, jika ia memerlukan sesuatu, tak perlu meminta kepada orangtua.

Sebagai tenaga pemasaran, mahasiswa umumnya wajib memakai seragam. Dewi Levianti, mahasiswi semester IV Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta, yang pernah menjadi tenaga pemasaran produk makanan di dua perusahaan bercerita, setiap malam dia harus mencuci seragamnya.

”Aku hanya mendapat jatah satu seragam, tetapi harus dipakai setiap hari. Jadilah, setiap pulang kerja, aku harus mencuci seragam dulu biar besok siangnya bisa dipakai lagi,” ujar Dewi.

Kayta menambahkan, pernah mendapat seragam lengkap dari baju sampai sepatu. Dia juga dirias oleh tim dan rambutnya pun ditata. Dia mengibaratkan, tinggal datang membawa badan saja.

”Waktu itu saya harus memakai sepatu yang tinggi haknya sekitar 9-12 sentimeter. Kaki ini terasa pegal juga,” kata Kayta tentang tugasnya waktu itu di arena Java Jazz.

Untuk soal seragam, Citra Lestari (19), mahasiswa London School of Public Relations, merasa lebih beruntung. Dia boleh memakai kaus dan celana jins saat menjadi fotografer di stan produk obat-obatan pada Jakarta Fair 2014.

”Kalau harus memakai rok, aku susah karena enggak bisa bebas menggerakkan badan,” kata dia sembari tertawa. Meski ”bebas” berpakaian, jadwal kerja yang padat tetap harus dia ikuti.

Mengatur waktu
Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, Semarang, Dr Suharnomo menilai, apa yang dilakukan para mahasiswa itu sebagai hal positif. Menurut dia, mahasiswa perlu menerapkan ilmu yang dia dapatkan di bangku kuliah lewat mempraktikkan langsung di dunia kerja.

Hal itu berguna untuk melatih soft skills mahasiswa karena banyak perusahaan tak hanya butuh karyawan yang menguasai ilmu, tetapi juga cakap dalam mengambil keputusan. ”Akan lebih baik lagi kalau mahasiswa memilih pekerjaan sesuai jurusannya,” kata Suharnomo.

Dia mencontohkan mahasiswa fakultas ekonomi akan lebih baik jika mencari pekerjaan sampingan yang berkaitan dengan bidang studinya, seperti bursa atau menjadi pialang.

Namun, pengajar mata kuliah Sumber Daya Manusia itu mengingatkan, mahasiswa harus mampu mengatur waktu antara kuliah dan bekerja. ”Selain itu, mereka sebaiknya tidak tergiur honor yang besar karena ada kasus mahasiswa tak selesai kuliah karena lebih memilih bekerja sebelum lulus,” kata Suharnomo. (TRI)

Sumber: Kompas, 8 Juli 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: