Teknologi Pemanenan Air Hujan Diterapkan

- Editor

Selasa, 16 Februari 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Air hujan tak hanya berpotensi menimbulkan bencana banjir. Dengan inovasi teknologi, air hujan bisa diolah sebagai sumber air bersih.

Hal itu terungkap dalam diskusi panel “Kota Cerdas dan Pemanenan Air Hujan” di Universitas Atma Jaya, Jakarta, Senin (15/2). Dalam diskusi itu dipaparkan inovasi teknologi pemanenan air hujan atau PAH (rain water harvesting), yakni teknik penyaringan air hujan menjadi air bersih.

Koordinator Program PAH Universitas Atma Jaya Liling Pudjilestari mengatakan, teknologi itu dikembangkan sejak 2010. Inovasi teknologi itu merupakan hasil tugas akhir seorang mahasiswa fakultas teknik. Hingga kini, PAH diaplikasikan di 10 sekolah dasar di Jakarta dan lebih dari 7.000 siswa mengakses air bersih dari teknologi itu. Biaya pembuatan instalasi PAH Rp 138 juta dan biaya pemeliharaan Rp 1 juta per tahun. “Teknologi ini bisa memenuhi kebutuhan air bersih,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat hujan, air mengalir di talang pada atap bangunan. Talang itu lalu mengalirkan air hujan ke bak penampungan sementara. Air hujan yang masuk disaring kawat saring, lalu mengalir ke tangki bilas untuk disaring lagi. Kemudian, air bersih mengalir ke bak penampungan utama berkapasitas 42.000 liter, lalu dipompa ke tangki penampung air untuk dialirkan ke toilet.

Fungsi lain PAH ialah edukasi siswa tentang pentingnya hidup bersih dan sehat. Sekolah yang punya fasilitas PAH mengajari peserta didiknya mencuci tangan dengan sabun dan bahaya air kotor bagi kesehatan. “Target awal siswa SD, karena lebih mudah dibentuk,” ujarnya.

Koordinator Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Evelyn Loanda mengatakan, PAH bisa dikembangkan di tempat publik, seperti gedung perkantoran. “Itu bisa untuk rumah meski lebih sulit karena lahan terbatas,” ucapnya.

Menurut Kepala Unit Pengelola Teknis Jakarta Smart City Setiaji, pihaknya mengembangkan penataan air bersih pada aplikasi kota cerdas. Informasi PAH, seperti kapasitas bak, penghematan air, dan peta persebaran, bisa diakses warga. “Publik perlu diedukasi akan pentingnya air bersih,” katanya.

Menurut Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), sekitar 748 juta orang tak punya akses ke sumber air bersih. (C08)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Februari 2016, di halaman 14 dengan judul “Teknologi Pemanenan Diterapkan”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 28 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB