Home / Berita / Teknologi AI Semakin Dekat dengan Keseharian

Teknologi AI Semakin Dekat dengan Keseharian

Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Di Indonesia, kecerdasan buatan dipakai untuk mendukung pengembangan bisnis.

KOMPAS/BOSCH–Sistem pelindung silau matahari (visor) digital berbasis kecerdasan buatan (AI) pertama di dunia yang dikembangkan perusahaan layanan dan teknologi Bosch.

Di luar negeri, banyak perusahaan yang telah mengembangkan teknologi tersebut untuk pengemudian otomatis hingga rumah pintar.

Direktur Eksekutif Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI) Indra Purnama, Kamis (9/1/2020), mengatakan, teknologi AI banyak digunakan untuk menyederhanakan dan mengotomatisasi proses yang semula rumit dan panjang.

Sebagai contoh, teknologi chatbot yang dipakai untuk merespons pesan dari pengguna platform digital secara otomatis. Teknologi ini berguna bagi bisnis layanan pelanggan, seperti dalam platform e-dagang atau teknologi finansial.

”Chatbot ini mulai banyak dikembangkan start up Indonesia. Beberapa start up juga mengembangkan solusi AI lainnya, baik sebagai produk akhir maupun untuk mendukung bisnis utamanya. Solusi-solusi tersebut dikembangkan engineer (insinyur) lokal,” katanya.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG–Pengguna memakai chatbot Veronika, asisten virtual Telkomsel, Senin (7/5/2018). Pemanfaatan asisten virtual oleh sejumlah perusahaan mampu meningkatkan layanan konsumen, menunjang produktivitas, dan membangun kedekatan dengan pelanggan.

Selain chatbot, para ahli teknologi dalam negeri juga banyak yang mengembangkan teknologi image recognition (pengenalan gambar) untuk mengenali obyek yang ada di gambar atau video secara otomatis. Ada juga penerapan teknologi natural language processing (NLP) untuk analisis sosial media, teks, atau dokumen lain.

Teknologi AI juga terus dikembangkan untuk manfaat keseharian. Baru-baru ini, perusahaan layanan dan teknologi global, Bosch, mengeluarkan produk pelindung silau matahari (visor) digital berbasis AI pertama di dunia.

Sistem yang dinamakan Virtual Visor bekerja melalui layar LCD transparan yang terhubung dengan kamera pemantau interior untuk mendeteksi posisi mata pengemudi. Sistem itu menganalisis informasi tersebut dan kemudian akan menggelapkan bagian kaca depan, yang apabila tersorot sinar matahari dapat membuat silau pengemudi.

”Bosch juga baru-baru ini menawarkan sistem pemantauan interior kendaraan. Sistem itu mampu mendeteksi pengemudi yang mengantuk atau sedang melihat ponsel pintar berdasarkan pergerakan kelopak mata, arah pandangan, dan posisi kepala serta mengingatkan kondisi darurat pada pengemudi,” kata Manager Corporate Communications Bosch Indonesia Shinta Maryke dalam siaran pers baru-baru ini.

Sistem juga memantau interior kendaraan untuk mendeteksi berapa jumlah penumpang dan di mana mereka duduk serta bagaimana posisi duduk mereka. Dengan demikian, pengoperasian sistem keselamatan dapat dioptimalkan, misalnya fungsi kantong udara dalam keadaan darurat.

Pada 2019, penjualan Bosch untuk sistem bantuan pengemudi meningkat hingga 12 persen menjadi sekitar 2 miliar euro atau sekitar Rp 30 triliun. Pada 2022, perusahaan itu akan mengeluarkan sekitar 4 miliar euro atau sekitar Rp 62 triliun untuk investasi pengembangan pengemudian otomatis dan menambah jumlah insinyur di Bosch sampai lebih dari 5.000 orang.

DOKUMENTASI MICROSOFT INDONESIA–Ilustrasi program Rinna Tuker Kado. Rinna adalah nama chatbot sosial milik Microsoft.

Sinergi
Menurut Indra, sumber daya manusia Indonesia terbilang mampu untuk dapat mengembangkan teknologi AI lebih jauh lagi seperti negara maju. Namun, sinergi antara peneliti akademik dan perusahaan perlu lebih dikuatkan agar ada solusi terbaik dari penelitian yang tepat.

”Di negara-negara yang inovasi teknologinya unggul, sinergi tersebut sudah sangat baik, dengan pengaturan kerja sama yang menguntungkan kedua belah pihak,” ujarnya.

Selain itu, ia menilai, Indonesia juga harus mempersiapkan angkatan kerjanya agar dapat bekerja berdampingan dengan kecerdasan buatan.

”Ini agar peluang kerjanya tidak terdisrupsi oleh kehadiran AI dan justru terbantu produktivitasnya dengan memanfaatkan AI tersebut,” ucapnya.

Oleh ERIKA KURNIA

Editor: PASCAL S BIN SAJU

Sumber: Kompas, 9 Januari 2020

Share
x

Check Also

Atmosfer Investasi Energi Terbarukan Belum Baik

Cadangan bahan bakar batubara semakin terbatas, transformasi menuju energi terbarukan menjadi pilihan. Pemerintah harus menciptakan ...