Target Incaran Gigitan Nyamuk

- Editor

Senin, 24 Juni 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nyamuk suka tinggal di wilayah yang hangat. Karena itu, masyarakat yang tinggal di wilayah tropis atau wilayah subtropis saat musim panas tiba, tentu sudah terbiasa dengan kehadiran nyamuk yang mengganggu, bahkan gigitannya yang menyakitkan.

Namun, nyamuk tidak sembarangan dalam mencari mangsa. Bakteri kulit, suhu tubuh, uap air dan warna pakaian jadi pertimbangan utama nyamuk dalam menentukan target. Situasi itu membuat meski sejumlah orang berada di lokasi yang sama, tidak semua orang akan merasakan banyak gigitan nyamuk yang sama.

USDA–Nyamuk Aedes aegypti menggigit manusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Nyamuk menentukan target gigitannya berdasarkan lanskap kimia udara sekitarnya. Materi kimiawi itu berasal dari tubuh manusia yang dilepaskan ke udara. Jejak kimia itu kemudian dianalisis nyamuk menggunakan sejumlah indera dan perilaku khusus.

Secara khusus, nyamuk mengandalkan karbondioksida untuk menentukan sasarannya. Saat manusia menghembuskan napas, karbondioksida dari paru-paru manusia itu tidak langsung menyatu dengan udara, tetapi terikat dalam satu gumpalan khusus.

Ketika gumpalan karbondioksida itu terbawa angin, maka dia akan ditangkap nyamuk. Dengan paparan karbondioksida itu, nyamuk akan mengunci target dan menjejaknya hingga menemukan sumber materi tersebut. Namun, nyamuk hanya bisa menjejak sumber karbondioksida itu jika jaraknya maksimum 50 meter dari sumber.

“Nyamuk akan terbang melawan arah angin guna mencari konsentrasi karbondiosida yang lebih tinggi dibanding kandungan karbondioksida di udara sekitar,” kata ahli entemologi Universitas Wageningen, Belanda, Joop van Loon kepada Live Science, Sabtu (22/6/2019).

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Kader Pemantau Jentik se Surabaya apel Gebyar Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di Lapangan Thor, Surabaya, Jumat (1/2/2019). Sebanyak 23.000 kader bertugas sukarela memeriksa jentik nyamuk di rumah-rumah serta mensosialisaikan program 3M agar warga terhindar dari demam berdarah.

Sangat personal
Saat nyamuk berada pada jarak 1 meter dengan sumber karbondioksida tersebut, maka penilaian sasaran gigitan nyamuk menjadi sangat personal. Tidak sembarang orang akan digigit nyamuk. Variabel utama yang dijadikan pertimbangan utama nyamuk untuk menentukan target gigitan adalah senyawa kimia yang dihasilkan koloni mikroba yang hidup di kulit manusia.

“Bakteri mengubah hasil sekresi kelenjar keringat manusia menjadi senyawa volatil (mudah menguap). Senyawa di kulit itu akan terbawa ke udara hingga sampai ke sistem penciuman nyamuk yang ada di kepalanya,” tambahnya.

Komposisi senyawa di kulit manusia itu sangat kompleks, bisa terdiri lebih dari 300 senyawa dan unsur berbeda. Kandungan senyawa itu juga sangat bervariasi antarindividu, bergantung kondisi genetik dan juga lingkungannya.

“Kandungan senyawa yang dihasilkan mikroba di kulit antara ayah dengan anak perempuannya yang tinggal dalam satu rumah yang sama, bisa berbeda rasionya,” kata ahli biologi Universitas Washignton, Seattle, Amerika Serikat, Jeff Riffell.

Studi Niels Verhulst yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE, 28 Desember 2011 menunjukkan laki-laki dengan keragaman mikroba kulit yang lebih besar cenderung kurang mendapatkan gigitan nyamuk dibanding laki-laki yang jenis mikroba kulitnya lebih terbatas.

Jenis mikroba yang ada pada kulit laki-laki dengan keragaman mikroba rendah umumnya adalah Leptotrichia, Delfitia, Actinobacteria Gp3 dan Staphylococcus. Sedangkan jenis mikroba pada orang yang memiliki keragaman mikroba tinggi di kulitnya adalah Pseudomonas dan Variovorax.

“Komposisi koloni mikroba di kulit pada individu tertentu itu bisa bervariasi dari waktu ke waktu, terutama jika orang tersebut sakit,” tambah Riffell.

Perbedaan kecil dalam komposisi kimia hasil pengubahan sekresi kelenjar keringat oleh bakteri itulah yang memberi perbedaan besar dalam jumlah gigitan nyamuk yang diterima seseorang. Namun, manusia tidak memiliki kendali diri untuk menentukan jenis mikroba apa yang ada pada kulitnya.

KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO–Petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas melakukan pengasapan untuk mencegah berkembangbiaknya nyamuk di Perumahan Grand Harmoni, Desa Karangrau, Kecamatan Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (29/1/2019).

Selain itu, lanjut Riffel, nyamuk menyukai warna hitam. Karena itu, mereka yang ingin beraktivitas di luar ruang saat malam hari disarankan menggunakan baju berwarna terang untuk menghindari banyaknya gigitan nyamuk.

Cara lain yang bisa menghindarkan kita dari gigitan nyamuk adalah dengan bersikap rileks. Menurut ahli entomologi Universitas Florida, AS, Jonathan Day seperti dikutip Live Science, 7 Juni 2018, nyamuk lebih tertarik pada orang yang menghabiskan banyak energi. Seseorang yang aktif akan menghasilkan lebih banyak karbondioksida saat bernapas dan asam laktat dari aktivitas fisik yang dilakukan.

“Orang dengan tingkat metabolisme tinggi menarik lebih banyak nyamuk,” katanya. Kondisi itu membuat orang yang berolahraga atau berkeringat pada malam hari lebih banyak mendapat gigitan nyamuk.

Namun saat aktivitas luar ruang maupun aktivitas fisik yang tinggi pada malam hari sulit dihindari, maka sejumlah cara bisa dipilih untuk menghindari gigitan nyamuk. Selain menggunakan baju yang menutupi kulit tubuh, penggunaan losion nyamuk, obat anti nyamuk, kipas angin, lampu antinyamuk, hingga menjaga kebersihan lingkungan bisa dilakukan untuk meminimalkan gigitan nyamuk.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 24 Juni 2019

Informasi terkait

Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Berita ini 21 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital

Senin, 27 Jul 2026 - 18:53 WIB

Berita

Terkubur untuk Hidup

Sabtu, 18 Jul 2026 - 09:20 WIB

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB