Home / Artikel / Tantangan Jurnalisme Data

Tantangan Jurnalisme Data

Di Indonesia saat ini ada sejumlah media yang telah menerapkan pendekatan jurnalisme data

Ini perkembangan bagus ketika muncul cara lain membuat tumpukan data, apakah itu angka atau tumpukan dokumen yang telah menguning di pojokan, menghasilkan suatu cerita bermakna.

Jurnalisme data sebenarnya berkembang sejak beberapa waktu lalu. Paling tidak sejak diterbitkannya buku The Data Journalism Handbook: How Journalists Can Uses Data to Improve News (2012), hasil kolaborasi belasan jurnalis dari sejumlah media dalam sebuah lokakarya di MozFest tahun 2011 di London.

Empat tahun kemudian terbitlah buku Data Journalism: Inside the Global Future (Tom Felle, John Mair, & Damien Radcliffe, eds, 2015) yang membahas perkembangan beberapa tahun terakhir setelah jurnalisme data diumumkan hadir dalam ranah jurnalisme dunia. Secara sederhana dikatakan bahwa jurnalisme data adalah jurnalisme yang dikerjakan dengan data. Namun, data yang dimaksud di sini bukanlah suatu data sebagaimana kita mendapatkan suatu dokumen tertentu, tetapi data dalam volume yang sangat besar.

Pengolahan data tersebut kerap kali dibantu aneka program komputer sehingga jurnalisme data ini juga kerap dikenal dengan nama computer-asissted reporting,pelaporan dengan bantuan komputer.

Apa yang membuat jurnalisme data berbeda daripada jurnalisme lainnya?

Menurut Jonathan Gray, Liliana Bounegru, dan Lucy Chambers, perbedaan terletak pada kemungkinan-kemungkinan baru yang terbuka ketika jurnalis memadukan ”kepekaan terhadap berita” dan kemampuan untuk menuturkan sebuah cerita yang menyentuh hati dengan skala dan informasi digital yang tersedia saat ini.

Beberapa contoh disebutkan dalam buku The Data Journalism Handbook, seperti yang dilakukan The Telegraph di Inggris yang menyisir ratusan ribu dokumen terkait pengeluaran para anggota parlemen. Miami Heralds memanfaatkan jurnalisme data untuk menganalisis bagaimana respons tak memadai dari pihak departemen sosial di Miami, AS, membuat hilangnya nyawa ratusan anak akibat kekerasan domestik. Reuters dan tim investigasinya menganalisis ribuan petisi di Mahkamah Agung AS dan mereka menemukan adanya sejumlah pengacara tertentu yang selalu menang perkara di sana. Ada juga Wall Street Journal yang membongkar bagaimana 1 persen dokter di AS menikmati pembayaran Medicare (semacam BPJS Kesehatan) antara 2012 dan 2013. Beberapa kasus ini penulis kutip dari presentasi Wahyu Dhyatmika.

Jurnalisme data dapat membantu seorang wartawan untuk menceritakan satu kisah yang kompleks melalui infografik yang menarik. Global Editors Network menyelenggarakan Data Journalism Award setiap tahunnya sejak 2014 (www.datajournalismawards.org). Akhir Mei 2018, para juri akan menentukan siapa yang menjadi pemenang Data Journalism Awards tahun ini.

Tantangan di Indonesia
Indonesia sudah sejak 2008 memiliki Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (UU Nomor 14 Tahun 2008) yang memberikan jaminan keterbukaan informasi publik untuk bisa diakses dan dimanfaatkan oleh siapa pun. Akan tetapi, adanya UU ini tak menjamin ketersediaan data atau informasi krusial yang menyangkut berbagai sektor. Masih banyak petugas pemerintahan yang tak merasa terikat dengan adanya UU ini, dan permintaan jurnalis atau warga masyarakat untuk informasi tertentu diabaikan begitu saja.

Inisiatif lain dari pemerintah adalah program open government atau pembuatan portal satu data Indonesia (data.go.id) yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk dapat mengakses data-data dari pemerintah. Bahkan, Kantor Staf Presiden pernah menyelenggarakan kegiatan bagi para jurnalis dan mahasiswa untuk makin mengenali data terbuka tersebut.

Keterampilan atau kemampuan petugas pemerintahan dalam hal pengolahan data untuk mencari suatu informasi tertentu juga patut dipertanyakan.

Banyak informasi tersedia begitu saja dalam bentuk fisik, tetapi ketika dicari, sulit ditemukan. Digitalisasi sebagai satu solusi untuk memanggil kembali informasi tersebut juga belum dimanfaatkan sepenuhnya.

Jurnalisme data akan sangat bertumpu pada tumpukan data yang ada dan jurnalis ditantang untuk menemukan cerita di antara tumpukan data yang ada. Misalnya, data soal pertumbuhan kendaraan di wilayah Jabodetabek selalu menunjukkan kenaikan, tetapi hal ini tak langsung dikaitkan dengan dampaknya pada kemacetan di Jakarta.

Kampanye terkait penggunaan kendaraan umum jadi seolah-olah macan kertas ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa tak ada kebijakan yang mengerem pertumbuhan kendaraan, sembari memperbaiki fasilitas kendaraan umum yang ada.

Jurnalisme data juga bisa dimanfaatkan untuk membuka cerita tahunan yang menyangkut tingkat prevalensi pengidap HIV/AIDS di Indonesia. Ketika Komisi Penanggulangan AIDS dibubarkan beberapa tahun lalu, apakah itu artinya bahwa tingkat prevalensi menurun? Rasanya data yang ada akan menunjukkan hal sebaliknya.

Masih banyak cerita lain yang bisa digali bila jurnalis memanfaatkan data yang ada dan dibantu dengan keterampilan komputer untuk mengolahnya. Jurnalis akan menemukan sesuatu dari timbunan data yang ada.

Selanjutnya apa?
Tantangan lain dari jurnalisme data adalah tantangan yang sama dengan karya jurnalisme lainnya. Apakah dampak dari penyajian jurnalisme data? Apakah penyajian jurnalisme secara berbeda ini telah memenuhi tugas para jurnalis untuk mengangkat masalah-masalah yang selama ini ditutupi ke permukaan? Apakah masyarakat jadi lebih memahami masalah yang diangkat? Kalau pun sudah diangkat ke permukaan, apakah ia berkontribusi pada upaya penyelesaian masalah?

Hal yang terakhir ini memang bukan tugas jurnalis untuk menyelesaikan masalah karena ada lembaga lain yang bertugas melakukan hal tersebut.

Tugas jurnalis sudah cukup ketika membawa masalah ke permukaan dan meminta perhatian banyak pihak atas masalah yang diangkat, baik mereka yang menjadi korban maupun pihak yang seharusnya membereskan masalah-masalah ini.

Jadi, jurnalisme data memang memberi kontribusi pada pemahaman masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya dan cara penyajian jurnalis akan membuat tumpukan data jadi lebih memiliki berita ketimbang tumpukan dokumen atau kertas tak bermakna. Keterampilan ini baik dimiliki oleh para jurnalis masa kini dan keterampilan seperti ini harusnya membuat kegiatan jurnalisme jadi tetap relevan serta menjadikannya lebih menarik dilakukan.

Memang tidak semua jurnalis harus menjadi jurnalis data. Namun, apabila semakin banyak wartawan yang memiliki keterampilan ini, mungkin kita bisa mengharapkan mereka bisa mengangkat lebih banyak masalah yang ada.

Ignatius Haryanto Dosen Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara, Serpong, Tangerang

Sumber: Kompas, 7 Juni 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: