Home / Artikel / Senja Kala Koran dan Jurnalisme Kita

Senja Kala Koran dan Jurnalisme Kita

Wartawan senior Kompas, Bre Redana, menulis dalam kolomnya di Kompas Minggu berjudul “Inikah Senjakala Kami”. Tulisan tersebut dibuat merespons suatu presentasi dalam forum Ombudsman Kompas edisi akhir tahun, 16 Desember 2015, yang penulis buat dengan judul “Senja Kala Surat Kabar di Indonesia”.

Presentasi yang penulis sampaikan ingin menampilkan banyak data, terutama kondisi industri media di Indonesia dewasa ini, sembari melihat fenomena gugurnya sejumlah media cetak belakangan ini, seperti harian Sinar Harapan, menyusul tutupnya harian Bola, Jakarta Globe, belasan majalah dari Grup Gramedia, dan sejumlah media cetak lain. Lewat aneka data yang penulis coba ramu dari berbagai sumber, pertanyaan utamanya adalah: betulkah media cetak akan mati dalam waktu dekat? Lalu, apa yang kemudian terjadi: apakah betul media online akan menggantikan posisi media cetak yang sudah ada selama in?

Mengapa mundur

Berdasarkan referensi buku dan berita yang melihat perkembangan media di Amerika Serikat dan beberapa belahan dunia lain, ada sejumlah faktor yang mengakibatkan tutupnya media cetak itu: (1) perkembangan teknologi digital, (2) pertumbuhan ekonomi yang melambat, (3) kebiasaan pembaca mengonsumsi informasi bergeser dari media cetak ke media online, (4) generasi muda yang diharapkan menjadi pembaca belum terbentuk menjadi pembaca masa depan.

Presentasi penulis kemudian memaparkan kondisi dunia periklanan terkait industri media saat ini. Berdasarkan data Media Scene 2014/2015 yang penulis kutip, total belanja iklan untuk 2015 (dalam buku masih disebut sebagai “prediksi”) diperkirakan hampir mencapai Rp 124 triliun dan Rp 84 triliun adalah perolehan iklan oleh televisi, sekitar Rp 37 triliun masih diambil oleh media cetak (koran dan majalah), radio “hanya” Rp 865 miliar, dan iklan di luar ruang mencapai Rp 1,6 triliun.

Media “online” sebagai pengganti koran
Sayang data Media Scene belum mencatat perolehan untuk media online yang sering disebut makin berkembang saat ini. Penulis mencari data dari tempat lain, Marketing.co.id. Data yang didapat, misalnya 2012, perolehan iklan untuk media online Rp 600 miliar-Rp 750 miliar. Media online dimaksud adalah media online berbasis jurnalistik. Jadi, jika ditarik perkiraan dari angka empat tahun lalu, perolehan iklan media online saat ini belumlah bisa menandingi media cetak walaupun banyak pihak mengklaim pertumbuhan iklannya naik sangat pesat.

Di sinilah letak jurang besarnya: di satu sisi sejumlah media cetak tutup dan itu artinya peluang iklan bisa diambil, tetapi di sisi lain media online belum bisa menggapai ruang kosong tadi karena perolehan iklan media online setara atau masih kalah dengan radio. Betul bahwa kebiasaan masyarakat perkotaan mengonsumsi berita bergeser ke media online, tetapi media online sendiri baru sedikit yang bisa dikategorikan sehat beroperasi sebagai perusahaan.

Penulis mencoba melihat tren global dan data Marketing.co.id menunjukkan bahwa di dunia iklan media online telah meraup porsi 17 persen dari total belanja iklan dunia. Itu angka 2012 saat total belanja iklan mencapai 495 miliar dollar AS dan media cetak (koran dan majalah) secara total meraup 27 persen total belanja iklan. Kalau dikembalikan pada kondisi di Indonesia, iklan media online (dengan angka 2012 itu) baru mencapai 1 persen atau maksimal 2 persen dari total belanja iklan di Indonesia.

Pertanyaannya: mengapa terjadi demikian? Sumber lain yang penulis dapatkan (Marketing.co.id) menuliskan beberapa alasannya: (1) para pengiklan masih minim pengetahuan soal dunia media digital, (2) minimnya kisah sukses merek atau perusahaan akibat iklan yang ditaruh di media online, (3) tampilan iklan dalam media online masih monoton dalam bentuk banner atau display, (4) perilaku pengguna internet di Indonesia masih dominan menggunakan internet untuk akses media sosial yang “tak produktif”, juga layar gawai yang kecil dan membuat iklan tampil tidak maksimal.

Memang tak ada faktor tunggal penyebab kemunduran surat kabar dan tak ada faktor tunggal yang menjelaskan bagaimana posisi ini pun belum lagi tergantikan oleh industri media online yang ada (dalam konteks di Indonesia). Sebagai gambaran sederhana, sebuah perusahaan media yang melakukan pendekatan multiplatform menghitung bahwa total pendapatan media online-nya setahun senilai dengan angka iklan media cetak dalam waktu dua minggu saja. Jadi, memang jurang yang lebar masih harus dikejar industri media online jika ingin betul-betul menggantikan posisi media cetak.

Fajar (baru) jurnalisme
Bagaimana dengan konten media online? Ketika tulisan Bre muncul di akhir tahun, dalam waktu cepat banyak muncul komentar di mana-mana terkait tulisan itu. Antara lain muncul pertanyaan, sebenarnya Bre itu sedang berbicara kepada siapa? Khalayak industri media di Indonesia secara umum atau dia sebenarnya sedang berbicara secara internal. Yang menarik, senja kala surat kabar ini oleh banyak penanggap dianggap hal yang niscaya dan banyak yang percaya bahwa media online bisa menggantikannya. Bre sendiri dalam tulisannya menyebut sejumlah contoh, banyak wartawan media online tak profesional, tak mendalam, tidak memberikan konteks suatu peristiwa, dan hanya dikejar dengan kecepatan menyampaikan berita. Beberapa pihak pun menyetujui ini.

Namun, itu baru setengah fakta yang disampaikan Bre. Bre, entah sengaja atau tidak, tak mau membahas banyak perkembangan atau inovasi baru dalam jurnalistik yang juga memukau dan memberi harapan. Wartawan Tempo yang tahun lalu ikut program Nieman Fellowship di Universitas Harvard, Wahyu Dhyatmika, menulis dalam Indonesiana, banyak hal baru dalam dunia jurnalistik online/digital yang tak dapat dimungkiri, ini memberi suasana segar pada jurnalisme.

Pada Juni 2009, penulis berkesempatan mengikuti seminar berjudul “Beyond Broadcasting 2009”, yang diselenggarakan Annenberg School of Communication, Universitas South California. Satu ungkapan penting yang muncul dalam seminar itu adalah: “We don’t need newspaper, we need journalism”. Ungkapan ini merujuk pada ajakan untuk kembali pada ajaran dasar jurnalisme, di mana informasi disiarkan oleh para pengelola media untuk membuatnya bermakna bagi para konsumennya. Surat kabar, radio, televisi, atau media siber sekalipun, hanyalah mediumnya. Medium bisa berubah-ubah, tetapi jurnalisme yang mendasarinya tak perlu berubah. Justru ia harus jadi lebih kuat.

Saya pun teringat buku yang ditulis Dave Kindred, Morning Miracles: Inside The Washington Post: A Great Newspaper Fights for Its Life (Doubleday, 2010). Salah satu nama besar dalam jurnalisme di Amerika, The Washington Post, pun merasa ajalnya akan segera tiba, tetapi salah seorang wartawan veteran The Post, Gene Weingarten, yang jadi narasumber Kindred menyebut situasi demikian: “Buku yang kamu tulis ini adalah kisah tentang sebuah surat kabar besar yang menuju kematiannya…, tetapi ia mati secara terhormat.”

Ada buku lain yang judulnya saja membuat miris, Will The Last Reporter Turn Off The Light Please: The Collapse of Journalism and What Can Be Done to Fix it? (Robert W Mc Chesney & Viktor Pikard eds, New Press, 2011). Namun, isi buku ini tak semenakutkan judulnya karena di dalamnya ada tulisan menarik berjudul The Reconstruction of American Journalism yang ditulis Leonard Downie Jr (wakil presiden dan mantan direktur eksekutif Washington Post) dan Michael Schudson (Profesor Jurnalistik Universitas Columbia).

Inti tulisan Downie Jr dan Schudson adalah bagaimana orang-orang yang bergerak dalam industri media memahami perkembangan, pergeseran situasi yang ada. Sikap utamanya: bagaimana memelihara liputan yang independen, original dan kredibel dalam masyarakat. Untuk mempertahankan liputan independen-original dan kredibel tersebut: reportase tak hanya dilakukan wartawan, tetapi juga para blogger, wartawan freelancer, mahasiswa jurnalistik, dan masyarakat umum. Blogger, citizen journalist tak perlu dianggap musuh, tetapi sebagai rekan berkolaborasi.

Internet, oleh Downie Jr dan Schudson dikatakan membuka beberapa kemungkinan baru, termasuk dalam hal penyediaan data yang bisa dipergunakan untuk kepentingan jurnalistik. Oleh kedua penulis disebutkan contoh dari Los Angeles Times yang pada 2009 memenangi hadiah Pulitzer untuk kategori explanatory reporting yang menggunakan bahan dari internet. Laporan tersebut membahas tentang intensitas kebakaran yang terjadi di wilayah California dan wartawan yang menuliskannya menggambarkan mengapa hal ini terjadi.

Kedua penulis ini juga menunjukkan kecenderungan bahwa di Amerika berbagai media lokal tetap bertahan karena mereka terfokus pada hal-hal di sekitar mereka dan kondisi ini rupanya tak tergantikan. Masih ada sejumlah inovasi lain dalam dunia jurnalistik yang ditunjukkan Downie Jr dan Schudson, yang membuat kita harus terbuka pada inovasi baru dalam dunia jurnalistik. Dengan demikian, kalimat “Kita tak butuh koran, tetapi kita butuh jurnalisme” menjadi sangat relevan.

Dihadapi, bukan dihindari
Pemikir strategi kebudayaan, Van Peursen (1985), menyebutkan tiga cara pandang sebagai proses kita melihat perkembangan baru: cara pandang mitis, cara pandang ontologis, dan cara pandangan fungsional. Cara pandang mitis menempatkan obyek baru sebagai suatu yang tak bisa dikenali, penuh prejudice. Jika kita ingin bergerak maju, kita harus mengenali obyek baru itu dan mempelajari sedalam-dalamnya fenomena itu. Itulah cara pikir ontologis. Setelah kita mengenal fenomena baru itu, kita lalu bisa mempertimbangkan apa yang akan kita perbuat dan tidak menjadikannya suatu mitis. Itulah cara pikir yang fungsional, dalam strategi kebudayaan.

Dalam alam atau lanskap media yang sedang berubah ini, kita harus mengenali situasi baru ini serta melihat apa dan bagaimana kondisi baru ini. Setelah itu, apa peluang yang bisa kita manfaatkan dari kondisi baru ini. Jurnalisme, inovasi, adalah dua kata yang dalam sejarah selalu bergandengan, dari sejak ditemukan mesin cetak, penggunaan huruf besi untuk mencetak, ilustrasi surat kabar yang dibuat dari gambar pensil atau tinta, ditemukannya foto, teknologi cetak offset, sistem cetak jarak jauh, penemuan surat elektronik, media online, penggabungan foto, video, teks, dan seterusnya.

Jurnalisme masih akan menghasilkan inovasi-inovasi lain dan, untuk itu, kita harus terus mempelajari perkembangan baru ini karena jurnalisme sudah seperti udara sehat yang harus kita hirup dan makanan sehat untuk pertumbuhan jasmani. Jurnalisme, jika didefinisikan sebagai kegiatan membuat laporan bagi masyarakat yang dapat dipercaya untuk mengenali lingkungan sekitarnya, adalah hal baik yang harus terus dilakukan lewat medium apa pun, sampai kapan pun.

Ignatius Haryanto, Peneliti Senior LSPP, Anggota Ombudsman Kompas sejak 2008
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Januari 2016, di halaman 7 dengan judul “Senja Kala Koran dan Jurnalisme Kita”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Menyoal Kenetralan Pendidikan

Riset pendidikan matematika telah mengungkapkan secara jelas bahwa mengajar matematika merupakan ”highly political act” atau ...

%d blogger menyukai ini: