Home / Berita / Tanda Tanya Huawei Mate S

Tanda Tanya Huawei Mate S

Mate S adalah varian terbaru yang diperkenalkan Huawei untuk pasar Indonesia di pengujung tahun 2015 setelah beberapa bulan sebelumnya sibuk menggarap lini produk segmen menengah, yakni Honor 6 Plus. Menyasar segmen atas, Huawei mematok harga Rp 9,4 juta untuk satu unit, jauh melampaui seri andalan sebelumnya, yakni P8 yang dijual dengan harga Rp 6,5 juta. Wajar jika Huawei harus menjelaskan alasan di balik harga yang cukup mencengangkan itu.

Diluncurkan pada Minggu (6/12) malam, Mate S menggunakan prosesor Kirin 935 yang diproduksi Huawei sendiri. Prosesor delapan inti berkecepatan 2,2 gigahertz ini dipadu dengan RAM sebesar 3 gigabit dan penyimpanan internal berkapasitas 64 gigabit dan masih bisa ditambah menggunakan kartu memori. Baterai yang dipasang berkapasitas 2.700 mAh.

Berdasarkan kebiasaan Huawei, prosesor ini umumnya dipakai produk yang menyasar segmen premium, sementara segmen lain lebih terbuka atau menggunakan prosesor dari Qualcomm atau MediaTek.

Layar berukuran 5,5 inci berteknologi AMOLED milik Samsung mampu menampilkan gambar dengan resolusi 1920 x 1080 piksel. Sepasang kamera dengan resolusi 13 megapiksel di punggung dan 8 megapiksel di muka juga didukung dengan aplikasi kamera yang dikembangkan sendiri oleh Huawei agar bisa menghasilkan karya dengan berbagai pengaturan, misalnya kecepatan rana rendah atau manipulasi lain.

Beberapa moda kamera lain juga membuat Mate S memiliki daya tarik terutama penggemar fotografi menggunakan gawai. Misalnya, mono dan black and white yang menghasilkan gambar hitam putih yang lebih menarik ketimbang efek yang dihasilkan kamera kebanyakan dengan memainkan pengaturan saturasi warna.

Fitur knuckle sense juga diperkenalkan untuk Mate S yang memungkinkan pengguna memberi perintah ke layar ponsel menggunakan buku jari, padahal kebanyakan masih mengandalkan ujung jari. Cara ini cukup memudahkan pengguna untuk memberi perintah lebih cepat ke ponsel. Beberapa gestur yang menyerupai huruf akan menghasilkan perintah yang berbeda. Pengguna juga bisa memotong sebuah gambar dengan pola tertentu yang dibuat dari gerakan buku jari. Tidak ketinggalan beberapa perintah seperti ketukan buku jari bisa dipakai untuk memulai merekam.

54eeed36d86547b9b65a24b76bdd80f0KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Huawei meluncurkan ponsel Mate S yang menyasar segmen premium di konsumen Indonesia berbekal spesifikasi yang cukup mengagumkan, Minggu (6/12). Harga jual untuk satu unit mencapai Rp 9,4 juta dan terbilang paling mahal dari portofolio produk yang mereka miliki.

Begitu halnya sensor sidik jari yang diperbaiki pada punggung ponsel sehingga memudahkan pengguna yang jarinya kerap berkeringat sehingga sulit dibaca oleh gawainya sendiri.

Dari segi desain, seperti diterangkan Nuramin, Sales Director Jabodetabek, Mate S dibuat untuk menyiratkan kesan mewah, mulai dari ketebalan 2,65 milimeter hingga uliran pada pojok ponsel.
“Kebijakan untuk mematok harga seperti ini memang diputuskan karena Huawei menggunakan komponen yang mahal untuk menghasilkan pengalaman yang terbaik oleh para pengguna,” kata Nuramin.

Mate S memiliki tampilan antarmuka dari varian sistem operasi Android yang dikembangkan sendiri, yakni EMUI versi 3.1 yang setara dengan Lollipop atau Android 5.1. Pengguna bisa memanfaatkan ekosistem yang dikembangkan Huawei untuk mencari konten yang didistribusikan secara eksklusif, seperti tema yang bisa disesuaikan menurut keinginan pribadi.

Namun, ada yang aneh dari lembar spesifikasi resmi yang dibagikan Huawei dalam acara tersebut. Mate S ternyata diketahui hanya beroperasi di jaringan 3G, cukup mengejutkan mengingat sudah banyak ponsel yang bisa beroperasi di jaringan seluler tersebut dan tersedia dari rentang harga Rp 1 juta hingga kelas premium seperti Rp 10 juta.

Hal tersebut dipertegas oleh penuturan Johnson Ma, South Pacific GTM Director Consumer Business Group. Saat ini mereka baru meluncurkan ponsel yang mendukung jaringan 3G saja.

“Versi 4G akan diluncurkan tahun 2016. Kami juga sudah bekerja sama dengan mitra dalam negeri untuk perakitan,” kata Ma.

Tentu saja hal tersebut menjadi pukulan yang telak bagi Huawei dalam memasarkan Mate S. Ponsel yang dibeli dengan harga Rp 9,4 juta, meski memiliki fitur yang dibanggakan, belum memanfaatkan teknologi seluler terbaru. Dari sisi investasi masa depan, pembeli harus berpikir dua kali karena nantinya harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli perangkat terpisah yang bisa berjalan di jaringan Long Term Evolution (LTE).

Lebih aneh lagi sewaktu mengamati situs resmi Huawei, hanya ada dua varian yang dirilis, yakni CRR-UL00 yang memanfaatkan dua kartu SIM dan CRR-L09 dengan satu kartu SIM. Keduanya tercantum mampu bekerja di jaringan LTE dan tidak ditemukan varian yang hanya bekerja di jaringan 3G.

f1b60466b23e416abe23eac727940dd9KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Hingga kini belum bisa diketahui pasti apakah Mate S yang beredar di Indonesia memang tipe khusus atau Huawei punya alasan tersendiri untuk tidak menyebutkan kemampuan untuk bekerja di jaringan 4G. Kompas belum bisa memverifikasi hingga mencoba menjalankan sendiri ponsel tersebut.

Tidak dicantumkan
Satu lagi tipe ponsel yang diluncurkan bersama Mate S adalah G8. Seri ini menyasar pengguna muda, terutama perempuan yang gemar mengambil swafoto alias selfie. Memiliki layar berukuran 5,5 inci dan resolusi 1982 x 1280 piksel, G8 juga memiliki RAM sebesar 3 gigabit dan penyimpanan internal 32 gigabit.

Melalui sepasang kamera 13 megapiksel di belakang dan 5 megapiksel di depan, pengguna dimanjakan dengan berbagai fitur kamera, seperti beautify atau cara mempercantik wajah melalui perintah di layar atau perfect selfie yang memungkinkan kamera untuk mengenali wajah pemilik yang sedang mengambil swafoto bersama-sama dan menerapkan efek mempercantik secara terbatas. Fitur make up virtual juga memungkinkan pengguna untuk mencoba berbagai skenario make up sebelum mencobanya sendiri atau berhenti sebagai foto narsistis semata.

Fitur pemindai sidik jari juga ditemukan di punggung ponsel, tepat di bawah moncong kamera. Perbaikan fitur pengenal sidik jari memungkinkan pengguna bisa membuka kunci atau memberikan beberapa perintah lewat sidik jari yang tidak harus dipasang pada posisi yang sama dengan saat didaftarkan pertama kali.

Diluncurkan dengan harga Rp 5,4 juta, Huawei juga belum tegas menyebut komponen utama yang dipergunakan G8 yakni prosesor. Dalam brosur yang disebarkan kepada konsumen, Huawei hanya menyebut bahwa G8 menggunakan prosesor delapan inti berkecepatan 1,5 Ghz.

Dalam situs resmi mereka diketahui bahwa prosesor yang dipergunakan adalah MSM8939 dari Qualcomm. Dan lagi-lagi, dari lembar spesifikasi yang sama juga diketahui bahwa G8 yang diedarkan di pasar global sudah mampu bekerja di jaringan 4G. Keterangan tersebut belum bisa dipastikan mengingat spesifikasi di sebuah negara bisa saja berbeda dengan spesifikasi yang diluncurkan di negara lain.

Kompas belum bisa memberikan rekomendasi sebelum memastikan beberapa hal dari dua tipe ponsel Huawei yang diluncurkan akhir tahun ini. Kepastian soal kemampuan beroperasi di jaringan 4G untuk seri Mate S dan G8 penting bagi mereka yang ingin menginvestasikan uang untuk membeli perangkat yang akan relevan pada beberapa tahun berikutnya. Begitu pula jenis prosesor yang dipakai pada G8 karena bisa menjadi dasar pertimbangan bagi konsumen untuk memilih produk yang sesuai dengan anggaran dan keinginan mereka.

DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

Sumber: Kompas Siang | 8 Desember 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: