Tak Tidur Semalam Bisa Memicu Kenaikan Berat Badan

- Editor

Jumat, 24 Agustus 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penelitian terbaru menunjukkan, saat pria kehilangan satu malam saja kebiasaan tidurnya, tubuh mereka merespons perubahan itu, yang bisa mendorong kenaikan berat badan dan kehilangan otot. Studi yang dipublikasikan pada 22 Agustus 2018 pada jurnal Science Advances yang dikutip Live Science, para peneliti mengamati perubahan jaringan lemak dan otot pada 15 lelaki muda untuk merespons kehilangan waktu tidur ini.

”Setelah sehari saja para lelaki tersebut tidak tidur, peneliti membuktikan indikasi lemak dan otot merespons dengan cara berbeda,” kata ketua tim penulis Jonathan Cedernaes pada Divisi Endokrinologi pada Northwestern University Feinberg School of Medicine di Chicago, Amerika Serikat.

Seiring dengan perubahan itu, tubuh meningkatkan kapasitas lemaknya dan jaringan otot menunjukkan tanda pemecahan otot.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masih belum jelas bagaimana perubahan pada lemak dan otot ini terjadi saat waktu tidur diganggu ataupun bagaimana efeknya jika waktu tidur berkurang lebih dari satu malam.

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO MANUMOYOSO–Seorang penumpang tidur di bangku tunggu bandara

Namun, perubahan ini membantu menjelaskan penelitian sebelumnya yang menunjukkan perubahan ritme alami tubuh (circadian) dan meningkatan risiko diabetes tipe 2 dan obesitas. Ritme tubuh berubah dapat terjadi pada seseorang yang memiliki waktu kerja malam dan seseorang yang memiliki gangguan tidur.

Studi ini bertempat di laboratorium tidur di Uppsala University, Swedia, tempat Cedernaes bekerja pada Departemen Neurosains. Di dalam laboratorium, sejumlah 15 lelaki muda sehat berusia 22 tahun dilibatkan dalam penelitian selama dua malam. Setiap hari, contoh darah dan jaringan tubuh diambil.

Partisipan ini mengaku tidur normal selama 7-9 jam. Jadi, pada malam pertama, mereka diminta tidur selama 8,5 jam. Pada malam kedua, 15 lelaki itu disimulasikan bekerja sehingga semalaman tidak tidur. Saat lampu ruangan dibiarkan menyala, mereka berada di ranjangnya dan terjaga selama 8,5 jam.

Saat peneliti menganalisis contoh jaringan lemak dan otot tubuh di saat mereka kehilangan kesempatan tidur, ditemukan perubahan ekspresi gen dan tingkatan protein.

”Perubahan ini membuktikan peningkatan kerusakan otot dan peningkatan kapasitas untuk menambah lemak tubuh, dibandingkan dengan tidur malam normal,” kata Cedernaes.

Ritme tubuh
Lebih lanjut, ia mengatakan, mekanisme yang mendorong perubahan adalah fluktuasi tingkatan hormon termasuk kortisol, perkembangan hormon, dan testosteron. Sebagian perkembangan hormon ini bisa mengubah ritme alami tubuh.

Temuan ini juga menunjukkan, kehilangan waktu tidur, protein otot kehilangan kemampuan untuk menggunakan gula darah sebagai bahan bakar.

”Ini menjelaskan seseorang yang kekurangan waktu tidur menurunkan kemampuannya untuk mengontrol gula darahnya sehingga membawa ke penyakit diabetes,” kata Cedernaes.

Frank Scheer, pakar saraf dan Direktur Medical Chronobiology Program di Brigham dan Women’s Hospital in Boston, yang tak terlibat dalam penelitian ini, memuji teknik analisis yang komprehensif dalam riset itu. Penelitian itu memberikan informasi baru efek kekurangan tidur pada massa otot dan lemak.

Penelitian ini juga menemukan perubahan gen yang menyebabkan perubahan jam ritme alami tubuh pada otot dan lemak, serta perubahan spesifik jaringan pada jalur metabolisme, kata Scheer.

Ia menyarankan, riset lanjutan untuk mengetahui perubahan pembatasan tidur dan keterpaparan cahaya malam hari pada pria yang juga dapat memengaruhi sistem ritme alami tubuh.

Scheer juga menyebutkan, riset ini termasuk kecil karena hanya melibatkan pria muda dari ras Kaukasia yang bergadang semalaman. Temuan itu pun perlu dikonfirmasi kepada perempuan serta orang dari berbagai usia dan ras serta individu dengan obesitas maupun diabetes.

”Teknik analitik serupa juga perlu dilakukan pada orang-orang setelah mereka mengalami beberapa malam pembatasan tidur,” imbuhnya.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 24 Agustus 2018

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 7 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB