Home / Profil Ilmuwan / Sutopo Purwo Nugroho, Penerus Informasi Bencana

Sutopo Purwo Nugroho, Penerus Informasi Bencana

Sutopo Purwo Nugroho merupakan salah satu sosok paling populer di negeri ini. Jika tidak percaya, ketik namanya di mesin pencari. Dalam waktu 0,4 detik, tersedia sekitar 2,81 juta informasi terkait Sutopo. Angka ini terus bertambah, apalagi ketika terjadi bencana, seperti gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Hampir tiap hari ini Sutopo tampil media massa, baik elektronik, daring, hingga cetak. Telepon genggamnya pun nyaris tak berhenti, menerima pertanyaan masyarakat maupun dari berbagai instansi pemerintah.

“Telepon wartawan sementara saya batasi, tetapi saya bikin konferensi pers tiap pukul 13.00 WIB di kantor. Untuk masyarakat saya usahakan untuk tetap layani,” ujarnya.

Sebagai Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo menjadi tumpuan pertanyaan masyarakat. Apa saja ditanyakan, mulai dari permintaan mencarikan anggota keluarga yang hilang, hingga keluhan soal listrik yang padam dan kesulitan makanan. Permintaan-permintaan ini biasanya dicatat Sutopo dan kemudian disampaikan ke para relawan dan berbagai instansi di lapangan.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Sutopo Purwo Nugroho

“Bahkan, pernah ada telepon dari korban gempa di Lombok yang meminta bantuan mengusir kuntilanak. Katanya, rumah tetangganya ambruk dan seluruh penghuninya meninggal, sejak itu anaknya selalu ketakutan karena merasa dihantui,” ujarnya.

Sejak dibentuk pada tahun 2007, BNPB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), yang seharusnya untuk menanggulangi dan mengurangi risiko bencana, seolah-olah menjadi institusi yang melayani berbagai persoalan. “Pernah ada orang yang manjat kelapa tidak bisa turun juga manggil BPBD. Kambing masuk sumur juga manggil kami,” kata dia.

Tak hanya masyarakat Indonesia, dalam bencana letusan Gunung Agung, Bali, dia juga mendapat banyak pertanyaan dari warga negara asing. Sebagai pulau tujuan wisata, letusan Gunung Agung banyak telah membingungkan banyak wisatawan mancanegara.

Salah satunya turis dari Jerman yang menghubungi Sutopo karena jauh-jauh hari sudah merencanakan menggelar pesta pernikahan di Ubud, Bali dengan pasangannya dari Amerika Serikat. Sang turis sudah menyebar undangan, namun terancam batal karena informasi yang simpang siur.

“Bayangan orang luar saat itu, seluruh Bali terancam Gunung Agung,” kata Sutopo. Kondisi ini memukul ekonomi masyarakat di Pulau Dewata yang tergantung pada sektor pariwisata.

Berbekal peta potensi terdampak dan informasi terbaru, Sutopo meyakinkan calon mempelai untuk tetap melangsungkan pernikahan di Ubud. “Saya berani jamin Ubud aman karena memang jauh dari zona bahaya. Akhirnya dia jadi menikah di Bali. Bahkan kemudian saya sarankan bulan madu ke Karangasem, asalkan di luar radius bahaya 10 kilometer,” kata dia.

Foto-foto pasangan ini dengan pose berangkulan dengan latar belakangan kepulan asap letusan Gunung Agung kemudian menjadi ikon di media sosial bahwa Bali aman. Letusan Gunung Agung telah menjadi daya tarik wisata, utamanya turis asing. “Ada satu keluarga turis dari Spanyol yang datang ke Kantor BNPB untuk berterimakasih, bahkan kemudian ingin tahu lebih banyak tentang gunung-gunung api di Indonesia,” kata dia.

Sosial media membuat Sutopo terhubung dengan berbagai lapis masyarakat, di Indonesia maupun di luar negeri. Dia dikenal sangat aktif menggunakan sosial media, khususnya twitter. Cuitannya hingga sejauh ini mencapai 12,7 ribu kali dengan pengikut 110 ribu.

Semua media sosialnya dikelola sendiri. Kegiatan ini dilakukannya di tengah membuat materi-materi siaran pers harian yang biasanya dikirim ke lebih dari 3.000 kontak, sebagian besar wartawan. Daari materi siaran pers yang kemudian dibukukan BNPB, bisa diketahui bahwa dalam setahun rata-rata Sutopo mengeluarkan 500 – 600 siaran pers. “Saat ini tantangan paling berat adalah menghadapi hoax, dan ini hanya bisa dilawan dengan memberikan informasi yang akurat dan tersebar luas ke masayarakat,” ujarnya.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Sutopo Purwo Nugroho

Pernah menolak
Sekalipun dikenal sebagai salah satu humas dan juru bicara dari institusi pemerintah yang paling aktif, namun Sutopo awalnya tak pernah membayangkan akan berkarir di bidang ini. Dia merupakan doktor bidang hidrologi yang menjadi peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Pada tahun 2010 dia ditugaskan ke BNPB untuk menjadi Direktur Pengurangan Risiko Bencana. Namun, dia kemudian dipaksa menjadi Syamsul Maarif, Kepala Badan BNPB saat itu untuk memegang jabatan sebagai Kepala Pusat Data dan Humas BNPB. “Memang dipaksa karena saya awalnya menolak. Saat itu saya berpikir posisi humas itu jauh dari bayangan saya sebagai peneliti. Apalagi, saya tidak punya banyak pengalaman di sana,” ujarnya.

Namun, Syamsul melihat kemampuan Sutopo dalam berinteraksi dengan media dan publik. Terutama setelah gempa dan tsunami Mentawai pada Oktober 2010, Sutopo yang saat itu ikut survei ke lokasi dengan cepat mampu menyiapkan materi siaran pers. “Tiba-tiba saja saya sudah diberi SK (Surat Keputusan) sebagai humas,” kata dia. “Namun, akhirnya harus saya akui bahwa saya kecanduan dan merasa inilah panggilan saya.”

Kemampuannya sebagai peneliti, memudahkan Sutopo dalam menyampaikan data-data yang dibutuhkan media dan publik secara cepat. Sedangkan kemampuannya menulis, menrut dia, diperoleh secara otodidak. Saat ini, dia biasa menulis di lapangan menggunakan telepon genggam. Bahkan, dia berani diuji adu cepat dengan wartawan dalam meliput dan melaporkan peristiwa jika terjadi kejadian di lapangan.

Sebagai juru bicara, Sutopo sangat jarang menolak wawancara. Dia juga tidak pelit memberikan data dan informasi. Hal ini terkadang membuatnya berurusan dengan instansi lain. Misalnya, cuitan dan siaran persnya terkait kebakaran hutan, membuat dia pernah kena tegur dari pejabat.

Selain apresiasi, Sutopo mengaku banyak mendapat hujatan dan sasaran kemarahan korban bencana. Misalnya baru-baru ini, beberapa korban gempa di Lombok, termasuk beberapa politisi hingga pejabat daerah, menelpon Sutopo dan memaki-makinya karena Pemerintah Pusat tidak mau menetapkan bencana di pulau menjadi dengan status bencana nasional.

“Ada yang menelpon yang mendoakan supaya sakit saya tambah parah dan tidak disembuhkan,” keluh Sutopo.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Sutopo Purwo Nugroho

Sejak Januari 2018, Sutopo bergelut dengan sakit kanker paru-paru stadium empat. Keluarga dan dokter sebenarnya telah memintanya mengurangi aktivitas. Namun, dia menolak berhenti. “Sekarang sudah menyebar ke sumsum. Sakit sekali, terpaksa harus pakai morfin,” ujarnya.

Sutopo tak bisa menyembunyikan sakitnya. Dalam beberapa kali pertemuan, terlihat sekali perubahan fisiknya. Tubuhnya meringkih dan kurus. Namun, semangatnya tak pernah surut, terutama jika bicara dengan wartawan. Seperti malam itu, Rabu (26/9/2018), selama dua jam lebih dia bicara nonstop kepada peserta pelatihan wartawan di Aceh tentang kebencanaan. “Sekarang saya sudah ikhlas. Ingin menggunakan waktu agar bermanfaat kepada sesama, terutama dalam hal kebencanaan,” ujarnya.

Dr. Sutopo Purwo Nugroho, M.Si, APU
Lahir: Boyolali, Jawa Tengah, 7 Oktober 1969
Pendidikan:
– SD-SMA di Boyolali
– S1 Fakultas Geografi UGM
-S2 dan S3 di IPB Bogor.

Karier:
1. 2009-2010 : Kepala Bidang Teknologi Mitigasi Bencana, Pusat Teknologi Pengelolaan Lahan, Wilayah dan Mitigasi Bencana BPPT
2. 2010 : Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB
3. 2010-sekarang : Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB

Karya:
– 77 artikel di jurnal nasional
– 7 tulisan di jurnal internasional
– 13 buku

AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 5 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: