Susut Hasil Perikanan Tangkap Rp 30 Triliun

- Editor

Jumat, 13 November 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengelolaan tidak layak hasil tangkapan ikan di perairan Indonesia menimbulkan kerugian sekitar Rp 30 triliun. Upaya menekan kerugian bisa dengan menerapkan “sistem rantai dingin” dan penggunaan palka berinsulasi.

Penyusutan kualitas fisik ikan 30 persen itu terjadi di tiap tahapan. “Mulai dari penangkapan, penyimpanan, hingga distribusi ikan ke pasar,” kata Agus Heri Purnomo, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan (P4BKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan, Rabu (11/11).

Menurut Singgih Wibowo, peneliti pada Balai Besar P4BKP, besaran susut 30 persen itu perhitungan kasar tangkapan laut tahun 2014 sebanyak 5,8 juta ton senilai Rp 99 triliun. “Ini taksiran kasar karena hasil tangkapan tersebut termasuk kerang dan nonikan lainnya,” katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat menangkap ikan, pemasangan jaring saja perlu sekitar dua jam. Untuk mengangkat ikan tangkapan di jaring lebih lama lagi. Cara yang memakan waktu itu menimbulkan susut nilai ikan hingga Rp 21 juta per kapal. Itu dapat ditekan dengan pemasangan mesin penarik jaring ikan.

Pada saat didaratkan, ikan tak dilindungi dari paparan sinar matahari. Penyusutan nilai juga terjadi saat ikan diolah.

Introduksi teknologi
Untuk mengurangi penyusutan kualitas ikan, menurut Achmad Poernomo, Staf Ahli Menteri KKP, yang juga mantan Kepala Balitbang KP, perlu diterapkan sistem rantai dingin, yaitu teknik pendinginan untuk menjaga suhu tubuh ikan hasil tangkapan tidak melebihi 4 derajat celsius. Itu sejak di kapal, didaratkan, disimpan di pelabuhan, dan dipasarkan.

Pada kapal nelayan, pendinginan ikan dilakukan dengan mencampurkan es. Perbandingannya 1 : 2. Namun, penggunaan es balok itu mengurangi kapasitas tampung ikan di kapal. Lama pendinginan pun terbatas.

Di kapal besar digunakan unit pembekuan sehingga tidak perlu membawa es dari darat.

Mengatasi masalah pendinginan di kapal nelayan yang terbatas, lanjut Achmad, digunakan sistem pendingin bertenaga surya. Selain itu, introduksi elpiji dan gas alam terkompresi (CNG).

Penggunaan bahan bakar bersih memiliki daya jangkau hingga 3 kali lipat dibandingkan BBM. Dengan unit transportasi dan pengangkatan lebih cepat, pendaratan dapat lebih awal. Saat itu, ikan dalam kondisi lebih baik.

Menurut Agus, untuk mengurangi kerusakan ikan selama disimpan di kapal, dikenalkan sistem palka berinsulasi. Sistem itu terdiri atas kotak-kotak berbahan styrofoam.

Setiap hasil tangkapan akan ditempatkan dalam satu kotak sehingga tangkapan ikan pertama tidak rusak tertimbun tangkapan berikutnya. “Cara ini mereduksi susut ikan hingga 50 persen,” kata Agus.

Sejauh ini, taksiran susut ikan KKP lebih rendah dari survei Organisasi Pangan dan Pertanian PBB. (YUN)
————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 November 2015, di halaman 14 dengan judul “Susut Hasil Perikanan Tangkap Rp 30 Triliun”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 50 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB