Home / Berita / ”Superspreader”, Risiko Dua Arah Penularan Covid-19 dari Pejabat Publik

”Superspreader”, Risiko Dua Arah Penularan Covid-19 dari Pejabat Publik

Sejumlah pejabat publik dari menteri hingga kepala daerah dinyatakan positif terinfeksi Covid-19. Dengan segala aktivitas para pejabat tersebut, mereka berpotensi menjadi penular super atau ”superspreader” wabah ini.

KOMPAS/NIKOLAUS HARBOWO–Wakil Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Albertus Budi Sulistya, bersama Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno, menggelar konferensi pers terkait kondisi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang positif terinfeksi virus korona, di Jakarta, Sabtu (14/3/2020).

Virus korona tidak diskriminatif. Sejumlah pejabat publik di Indonesia juga telah positif tertular penyakit virus korona, Covid-19. Peran mereka sebagai pejabat publik mengandung risiko tersendiri dalam penularan pandemi ini. Kecenderungan untuk menggelar atau menghadiri acara yang dihadiri massa, membuat mereka riskan berperan tanpa sadar sebagai super spreader.

Batuk-batuk dan sesak napas membuat Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana tidak bisa melanjutkan pidatonya pada acara pelantikan kepala desa di wilayahnya pada Jumat (20/3/2020). Beberapa hari kemudian, pada Selasa, ia mengungkapkan telah positif terinfeksi virus SARS-CoV-2.

Sulit untuk memperkirakan dari mana Cellica tertular. Sebagai orang nomor satu di Karawang, ia hadir di banyak acara masyarakat selama masa 14 hari inkubasi virus korona. Dari kunjungan ke pasar induk hingga apel hari ulang tahun pemadam kebakaran dan seminar pendidikan.

Sekitar dua pekan sebelumnya, Cellica juga sempat menghadiri Musyawarah Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jawa Barat. Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana juga hadir dalam acara tersebut.

Yana ternyata juga positif tertular virus korona, beserta 5 orang peserta lainnya. Kini, sekitar 400 peserta acara tersebut masuk kategori orang dalam pemantauan (ODP).

Seminggu setelah acara HIPMI tersebut, Cellica juga menghadiri Kongres V Partai Demokrat, Sebanyak 600 kader partai dari seluruh Indonesia berkumpul di Jakarta Convention Center pada 15 Maret 2020. Belum ada temuan peserta kongres yang positif korona sejauh ini.

Selain Celica dan Yana, nama Wali Kota Bogor Bima Arya juga dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi terdapat pada daftar pejabat pemerintahan yang positif korona. Selasa kemarin, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Zulfikri juga telah dinyatakan positif.

“Super spreader”
Pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Syahrizal Syarif mengatakan, tidak semerta-merta seorang pejabat pemerintah otomatis menjadi seorang super spreader.

Super spreader, atau penular super, kata Syarizal, adalah orang yang menularkan penyakit ke orang lain dengan jumlah melebihi kecepatan penularan penyakit tersebut.

Kecepatan penularan ini biasa disebut sebagai angka R0. Covid-19, kata Syahrizal, memiliki R0 pada angka 2 hingga 3. Artinya, satu orang dapat menularkan ke sekitar 2-3 orang lainnya.

Apabila melalui pelacakan kontak (contact tracing) seseorang ditemukan menularkan penyakit lebih dari angka tersebut, maka dia dapat disebut seorang super spreader. “Orang ini bisa siapa saja,” kata Syahrizal.

SEKRETARIAT PRESIDEN/MUCHLIS JR–Presiden memimpin rapat terbatas kabinet melalui telekonferensi di Istana Kepresidenan Bogor, Senin (16/3/2020). Rapat membahas tentang agenda percepatan kerja kementerian.

Namun, kecenderungan aktivitasnya yang membuat seorang pejabat publik ataupun tokoh masyarakat memiliki risiko yang tinggi untuk tertular maupun menulari.

Syahrizal mengatakan, tokoh masyarakat sering berada dalam acara kerumunan orang, dan juga sering menerima jabatan tangan serta tidak menjaga jarak. Jadi, mereka termasuk risiko tinggi tertular Covid-19.

“Tetapi, jika tanpa disadari pejabat itu sudah terinfeksi dan tetap beraktivitas seperti sedia kala—baik rapat atau ke tengah kerumunan massa, maka mereka dapat menjadi super spreader,” kata Syahrizal.

Septian Hartono, sukarelawan KawalCovid19, mengatakan, fenomena sejumlah pejabat publik yang tertular ini dimungkinkan karena jumlah kontak yang mereka lakukan tergolong tinggi. “Jadi gampang kena, mudah menularkan juga,” kata Septian.

DOKUMENTASI TIM MEDIA GUBERNUR SULSEL–Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah memimpin rapat dengan Gorkopimda Sulsel membahas pembatalan pertemuan Ijtima Jamaah Tabligh se Asia, Kamis (19/3/2020)

Semakin besar jumlah kerumunan, semakin tinggi juga risiko penularannya. Direktur program Quantitative Bioscience di Georgia Institute Technology, Joshua Weitz mengkalkulasikan, di Amerika Serikat, apabila ada kerumumunan massa sebesar 15.000 orang, maka ada 95 persen peluang acara tersebut dihadiri oleh satu orang yang telah terinfeksi korona.

Jika kerumunan hanya beranggotakan 250 orang, peluang adanya seseorang yang terinfeksi korona hadir pada acara tersebut hanya 5 persen. “Jadi sangatlah penting untuk memperkecil jumlah kerumunan dan tetap jaga jarak,” kata Weitz kepada National Geographic.

Untuk itu, Syahrizal mengingatkan para pejabat untuk menerapkan jaga jarak dan mengurangi interaksi sosial dengan orang lain. “Kalau rapat harus berjarak. Dan yang penting harus mendidik masyarakat agar bisa patuh tinggal di rumah dan menjaga risiko jika keluar rumah,” ujar dia.

Pasien 31
Di Korea Selatan, fenomena super spreading identik dengan “Pasien 31”, seorang perempuan berusia 61 tahun warga kota Daegu. Pasien ini sempat mengeluh demam pada 7 Februari, namun menolak untuk dites korona.

Dia kemudian dites sepuluh hari kemudian dan ditemukan positif keesokan harinya. Namun, dalam jangka waktu beberapa hari tersebut, Pasien 31 telah mengunjungi sejumlah tempat publik; dari prasmanan di hotel, pemandian umum, hingga dua kali ke gerejanya, Gereja Shincheonji Daegu. Total, dipercaya, pasien ini berkontak dengan 1.160 orang.

AFP/YONHAP–Pekerja mengenakan baju pelindung saat mereka menyemprotkan cairan disinfektan untuk mencegah meluasnya inveksi virus korona tipe baru di pasar di Daegu, Korea Selatan, Minggu (23/2/2020).

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Korea Selatan (KCDC) pada 18 Maret, mengumumkan bahwa penyebaran virus yang terkait dengan Gereja Shincheonji adalah 4.482 kasus, atau sekitar 60 persen total kasus di negara tersebut pada saat itu.

Fenomena super spreader dengan jumlah masif juga pernah terjadi pada pandemi SARS 2003. Kejadian bermula ketika Lui Jianlun, seorang dokter asal Guangdong, China—asal mula virus penyakit tersebut—pergi menginap selama satu malam di sebeuah hotel di Hongkong pada 21 Februari 2003.

Mungkin hanya satu malam, tetapi Jianlun telah menularkan ke setidaknya 16 orang tamu hotel yang menginap di lantai yang sama.

WHO mencatat, dalam empat bulan setelah kejadian tersebut, lebih dari 4.000 kasus dan 550 pasien meninggal akibat SARS di seluruh dunia, memiliki kaitan dengan Jianlun.

Oleh SATRIO PANGARSO WISANGGENI

Editor KHAERUDIN KHAERUDIN

Sumber: Kompas, 26 Maret 2020

Share
x

Check Also

Selaraskan Energi Terbarukan dan Konservasi Alam

Pembangunan PLTA Batang Toru agar seiring dengan penyelamatan dan pelestarian orangutan tapanuli yang sangat endemik ...

%d blogger menyukai ini: