Home / Berita / Sulteng Siapkan Pengamatan Gerhana Matahari

Sulteng Siapkan Pengamatan Gerhana Matahari

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memetakan lokasi pengamatan fenomena gerhana matahari total pada 9 Maret 2016. Selain pertimbangan ilmiah dan aksesibilitas, faktor integrasi dengan beragam obyek wisata lain menjadi pertimbangan. Pemerintah menaksir 5.000 wisatawan mancanegara akan menyambangi Sulteng, dari AS, Jepang, Korsel, Singapura, dan Australia.
”Kami sudah meninjau lokasi yang dipetakan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). Relatif mudah dijangkau,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sulteng Siti Norma Mardjuni di Palu, Sulteng, Selasa (12/1). Di Sulteng, gerhana matahari total bisa diamati di Kabupaten Poso, Sigi, dan Kota Palu. Sejumlah referensi menyebut, gerhana matahari total berdurasi relatif lama. Di Sulteng, rata-rata 2 menit 30 detik. Pelancong mancanegara menginap hingga empat hari. Pada periode itu akan diisi festival yang dipusatkan di pinggir Teluk Palu. Gerhana juga dapat dilihat dari Bangka Belitung dan Ternate, Maluku Utara. (VDL)
lintasan_gmt2016——————–
Gempa Talaud Tak Berdampak Hebat

Gempa bumi berkekuatan M 6,3 melanda Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Selasa (12/1) pukul 00.38. Wita. Pusat gempa pada koordinat 3,80 Lintang Utara dan 126,97 Bujur Timur berkedalaman 60 kilometer. Kekuatan gempa tidak cukup memicu tsunami. Guncangan gempa itu dirasakan di Melonguane, ibu kota Kabupaten Talaud, dalam skala intensitas III-IV modified mercalli intensity. Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono, gempa ini termasuk dangkal dengan mekanisme sesar naik. ”Gempa susulan sedikitnya terjadi 12 kali, dengan kekuatan terus mengecil. Tak ada potensi terjadi gempa dengan kekuatan lebih besar sehingga masyarakat Kepulauan Talaud agar tenang,” katanya. (AIK)
————–
Paparan Cahaya Berlebih Picu Kegemukan Anak

Paparan cahaya ternyata memengaruhi bobot anak balita. Mereka yang terpapar cahaya dengan intensitas sedang saat masih kecil cenderung meningkat berat badannya, sedangkan yang terpapar cahaya dalam jumlah tinggi—baik di dalam maupun luar ruangan—pada sore hari cenderung lebih ramping. Kesimpulan itu diungkapkan Cassadra Pattison dan sejumlah koleganya dari Queensland University of Technology atas studi yang diterbitkan di Jurnal Plos One, edisi 6 Januari 2016. Pengamatan terhadap anak balita di enam penitipan anak, yakni meliputi berapa banyak paparan cahaya yang diterima saat beraktivitas ataupun tidur. Setelah 12 bulan, anak-anak ini dilihat kembali pertumbuhan berat badannya. Paparan cahaya meliputi lampu buatan, sinar dari telepon seluler atau tablet, dan televisi. Menurut Pattison, 42 juta anak balita di dunia saat ini diklasifikasikan kegemukan. Penelitian ini diharapkan memberikan perspektif baru untuk memecahkan masalah ini. (AIK)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Januari 2016, di halaman 14 dengan judul “Kilas Iptek”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: