Home / Artikel / Suhu Air Laut Naik, Karang Menjadi Stres

Suhu Air Laut Naik, Karang Menjadi Stres

AKIBAT STRES yang hebat sebagian besar karang di laut Karibia berubah warnanya menjadi putih. Peristiwa ini melebihi peristiwa yang sama pada tahun 1987, sehingga menimbulkan kecemasan terhadap masa depan kehidupan karang itu.

Penyebab memutihnya karang pada tahun 1987 masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan, tetapi sebagian besar ahli kelautan mencurigai penyebabnya adalah akibat naiknya suhu air laut semata ataupun perpaduan pengaruh suhu air laut dengan pengaruh lainnya. Tetapi sungguh sangat disayangkan karena data suhu laut Karibia jangka panjang hampir tidak tercatat.

Akhir-akhir ini pendapat tersebut diperkuat oleh dua orang ilmuwan yaitu Tom Goreau dan Raymond Hayes, masing-masing dari laboratorium kelautan di Jamaica dan Universitas Harvard yang menyatakan bahwa yang menyebankan memutihnya karang itu hampir dapat dipastikan ada hubungannya dengan suhu. Ada suatu kekurangan dari pendapat mereka, yaitu mereka tidak membuktikan bahwa hal itu adalah pemanasan global dan bukan gejala dari suatu daerah tertentu saja.

ZOOXANTHELLAE
Karang di laut mengandung Zooxanthellac yaitu ganggang fotosin-tetik bersel tunggal yang hidup dalam jaringan karang yang menyediakan zat hara untuk karang. Apabila karang mendapat stres seperti akibat penyakit,
polusi, perubahan sinar ultra violet, dan suhu, maka zooxanthellae akan keluar dari karang sehingga karang merana menjadi berwarna putih karena karang berhenti pertumbuhannya. Lama-kelamaan karang itu akan hancur karena mudah tererosi. Biasanya apabila karang baru pertama kali mendapatkan stres dan stresnya tidak berkepanjangan, karang akan tumbuh normal kembali.

Gejala memutihnya karang akhir-akhir ini terjadi lebih hebat dan intensitasnya lebih tinggi sehingga tersebar sangat luas pada waktu yang hampir bersamaan sehingga melebihi akibat penyakit atau polusi lokal. Para ahli biologi laut mulai berspekulasi kem-bali bahwa suhu air laut itulah penyebabnya, karena peristiwa itu terjadi terutama selama cuaca panas de-ngan keadaan air yang cukup tenang. Kebanyakan karang dapat tumbuh subur pada ambang suhu 29° C dan akan memutih apabila suhu air naik satu atau dua derajat saja. Goreau dan Hayes telah mencatat suhu di tujuh tempat di laut Karibia dan Atlantik selama dasawarsa yang lalu menggunakansatelit resulusi tinggi dari National Oceanic and Atmaspheric Administration.

Ternyata hasilnya mengejutkan karena di tempat-tempat tersebut ke-cuali di Puerto Rico dan Cozumel hasilnya nyata secara statistik. Diketahui pula tidak hanya suhu yang meningkat tetapi juga lamanya kenaikan suhu. Data satelit bulan Agustus dan September 1990 menunjukkan bahwa sekarang air benar-benar menghangat mencapaisuhu 31-32 derajat celcius untuk daerah Jamaeca dan Cayman. Dari data itulah Goreau meramal peristiwa yang akan datang.

Memutihnya karang kenaikan suhu air laut ditentang oleh Don Atwood dari laboratorium Oseanografi dan meteorologi Atlantik NOAA. Dia menyangsikan hasil analisis Goreau dan kawan-kawan, dan berpendapat bahwa untuk melihat suatu fenomena tidak cukup dengan hanya satu dasawarsa. Di samping itu Robert Wicklund direktur Pusat Penelitian Laut Karibia di Bahama menyangsikan data satelit karena menurut pendapatnya satelit hanya mampu mengukur suhu air laut beberapa milimeter saja di bawah permukaan. Menurut pendapatnya apa yang terjadi di permukaan tidak dapat digunakan untuk menyatakan apa yang terjadi di dalam laut. Sebegitu jauh Wicklund juga menyokong hipotesis suhu berdasarkan datahasil penelitiannya yang menggunakan beberapa alat pencatat suhu di sekeliling karang. Berdasarkan hasil penelitiannya itu ia menyatakan bahwa karang memutih lebih ekstensif dari beberapa waktu yang lalu.

Meskipun kebanyakan pendapat menyatakan bahwa karang memutih karena pengaruh naiknya suhu air laut, tetapi penyebab lain mungkin saja ada, sehingga kemungkinan untuk penelitian lebih lanjut masih terbuka luas.

Oleh: DODY PRIYADI , Staf Peneliti Puslitbang Bioteknologi-LIPI, BOGOR

Sumber: Majalah AKUTAHU/ MARET 1992

Share
%d blogger menyukai ini: