Strategi Baru Melawan Malaria

- Editor

Rabu, 9 Oktober 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman bersama Universitas Notre Dame, Amerika Serikat, untuk pertama kali di dunia berhasil menguji efektivitas repelen spasial demi mengurangi penularan malaria. Uji klinik selama 11 tahun di Sumba ini menjadi dasar penting penanganan malaria di dunia dan studi lanjutan akan diujikan di Afrika.

Hasil studi yang didukung Bill Gates Foundation dan SC Johnson itu dipaparkan peneliti malaria senior Lembaga Eijkman, Syafruddin, di Jakarta, Selasa (8/10/2019). Pemateri lain adalah dua peneliti dari Universitas Notre Dame, yaitu Nichole L Achee dan Neil F Lobo.

“Ini adalah studi pertama yang membuktikan repelen spasial bisa mengontrol malaria. Butuh studi lebih lanjut untuk memastikan ini bisa digunakan skala luas. Kami saat ini juga mengembangkan formula repelen yang bisa lebih lama dan ramah lingkungan,” kata Syafruddin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Studi pada kelompok desa dengan endemisitas malaria dari nol sampai mengalami penurunan infeksi penyakit yang ditularkan nyamuk Anopheles sekitar 28 persen. Adapun kelompok desa dengan endemisitas rendah sampai sedang mengalami penurunan infeksi 41 persen.

Menurut Syafruddin, repelen spasial ini diharapkan melengkapi berbagai strategi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melawan penyakit ini. Selain diterapkan untuk malaria, repelen spasial bisa dipakai untuk penyakit ditularkan nyamuk lain, misalnya demam dengue, demam kuning, dan zika.

“Selain di Indonesia untuk malaria, penggunaan repelen spasial ini diuji di Peru untuk melihat efektivitasnya pada penurunan demam dengue,” kata Achee.

Selama ini, WHO merekomendasikan penggunaan kelambu dilapisi pestisida, penyemprotan, hingga pembersihan habitat nyamuk. Namun, strategi ini memiliki kelemahan sehingga berbagai penyakit ditularkan nyamuk jadi ancaman global.

Menurut dia, penanganan malaria membutuhkan inovasi baru, antara lain penggunaan repelen spasial. Uji klinik ini akan jadi bukti epidemiologis mendukung rekomendasi WHO untuk memakai repelen spasial sebagai bagian strategi demi mencapai target bebas malaria secara global pada 2030.

Data WHO mencatat, angka kesakitan malaria secara global pada 2017 ada 219 juta kasus dan 435.000 orang di antaranya meninggal. Adapun demam berdarah dengue yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti memicu 390 juta kasus per tahun.

Repelen spasial yang diujikan di Sumba ini mengeluarkan bahan kimia transflutrin yang tahan sampai dua pekan. Dengan menaruh repelen dalam rumah, nyamuk diharapkan menjauh dan tak menggigit manusia. Jika tak mendapat darah manusia, nyamuk yang tidak beradaptasi dengan sumber pangan lain akan mati sehingga populasinya berkurang.

Menurut Achee, studi berskala lebih luas akan dilakukan di Mali, Kenya, dan Uganda, selain di Sri Lanka. Belajar dari Sumba, responden yang dipantau terutama adalah anak-anak berusia 6 bulan hingga 15 tahun yang diasumsikan lebihbanyak tinggal di rumah saat malam. (AIK)

Sumber: Kompas, 9 Oktober 2019

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 35 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Berita Terbaru

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB