Standardisasi; Perguruan Tinggi di Timur Butuh Dukungan

- Editor

Rabu, 10 September 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perguruan tinggi swasta di kawasan Indonesia timur meminta pemerintah tidak menyeragamkan kebijakan pendidikan tinggi. Ada pula usulan agar standar akreditasi perguruan tinggi di kawasan Indonesia timur tidak disamakan dengan di Pulau Jawa. Perguruan tinggi di kawasan itu memang banyak yang belum memenuhi standar, tetapi masih dibutuhkan masyarakat.

”Salah satunya, kami kesulitan memenuhi rasio dosen dan mahasiswa yang ideal,” kata Ibrahim Ohorella, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Wilayah XIIA Maluku, yang dihubungi dari Jakarta, Selasa (9/9). Menurut Ibrahim, pemenuhan dosen yang sesuai standar tidak mudah. Selain keterbatasan sumber daya manusia di daerah tersebut, perguruan tinggi swasta juga kesulitan untuk membayar dosen tetap dengan gaji layak.

Ibrahim yang juga Rektor Universitas Darussalam, Ambon, mengatakan, rasio dosen dan mahasiswa yang ideal untuk program studi eksakta ialah 1 dosen berbanding 30 mahasiswa. Adapun rasio untuk program noneksakta ialah 1 dosen berbanding 40 mahasiswa. Di kampus Darussalam, rasio dosen dan mahasiswa bisa 1 berbanding 100 mahasiswa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Kami berusaha memenuhi ketentuan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Namun, semestinya ada solusi yang ditawarkan kepada perguruan tinggi swasta karena keterbatasan mereka. Jika tidak ada perguruan tinggi swasta, masyarakat yang tidak mampu keluar daerah tidak bisa kuliah,” kata Ibrahim.

Akses lebih luas
Ketua Umum Aptisi Edy Suandi Hamid mengatakan, ada usulan dari perguruan tinggi swasta kecil di daerah agar saat akreditasi, asesor mempertimbangkan kondisi lokal, tidak memakai standar perguruan tinggi di Jawa. ”Kami mendorong perguruan tinggi swasta memperkuat kapasitas internalnya dengan mengutamakan mutu. Namun, kebijakan pemerintah harus juga melihat realitas di lapangan,” kata Edy.

Pemerintah diharapkan lebih banyak memperhatikan Indonesia bagian timur, antara lain, dengan memberikan akses lebih luas ke perguruan tinggi. Apalagi akses kuliah bagi masyarakat di sana masih sangat terbatas.

Di Provinsi Maluku, misalnya, hanya 24.000 mahasiswa aktif yang kuliah di 24 perguruan tinggi swasta dengan jumlah dosen setidaknya 527 orang. ”Itu setara dengan satu perguruan tinggi swasta besar di Yogyakarta,” kata Edy.

Pemerintah daerah, menurut Edy, perlu mendukung agar akses masyarakat mendapat pendidikan tinggi di wilayahnya meningkat. Perguruan tinggi swasta di kawasan timur hanya bisa memungut biaya kuliah Rp 500.000-Rp 1 juta mengingat terbatasnya daya beli masyarakat. Minimnya dana yang dihimpun dari masyarakat menyulitkan pihak perguruan tinggi swasta untuk merekrut dosen. (ELN)

Sumber: Kompas, 10 September 2014

Informasi terkait

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB