Sri Edi Swasono dan Ciptaningsih Utaryo Raih HB IX Award

- Editor

Kamis, 19 Desember 2013

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan anugerah Hamengkubuwono IX Award kepada dua tokoh bangsa Indonesia di dies natalis ke 64 tahun ini.

Kedua tokoh Indonesia yaitu Guru Besar UI Sri Edi Swasono dan Ciptaningsih Utaryo. Anugerah HB IX Award ini akan diberikan pada kedua tokoh ini di Pagelaran Kraton Yogyakarta, Kamis (19/12) malam ini.

Sri Edi Swasono memperoleh HB IX Award di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sedangkan Ciptaningsih Utaryo dibidang kemanusiaan.

Ketua Majelis Wali Amanah (MWA) UGM, Sofyan Effendi mengatakan, Sri Edi Swasono merupakan guru besar yang konsisten memperjuangkan Pasal 33 UUD 1945 yang isinya ekonomi Indonesia bukan pasar liberal tetapi ekonomi yang mensejahterakan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Yang oleh para pelaksananya sejak Orde baru tidak mau dipahami sehingga kita hanya penumpang yang dikendarai joki dari luar. Jokinya itu adalah WTO dan celakanya pemerintah menggebu-gebu mendukung WTO. Kita bangsa yang merdeka tetapi kita tidak berdaulat,” katanya.

3188-sri-edi-swasono-dan-ciptaning-utaryo-peroleh-anugerah-hb-ixSri Edi Swasono, kata Sofyan merupakan tokoh yang tak berhenti mengingatkan pemerintah untuk kembali menerapkan pasal 33 UUD 1945.

Sri Edi Swasono sendiri akan dalam kesempatan itu mengatakan, ambruknya ekonomi Amerika pada 2008 karena kesalahan teori ekonomi. Padahal di Amerika sendiri banyak peraih nobel dibidang ekonomi. Karena itulah pada pidato penghargaan HB IX Award dirinya menyampaikan pidato terkait kesalahan teori ekonomi ini.

“Mari kita benahi teori ekonomi. Kalau teorinya salah maka prakteknya juga salah.Kita ini menghabiskan waktu seolah-olah teori yang berlaku seperti pendulum diantara ekonomi kerakyatan dan kapitalis,” ujarnya.

Selama ini katanya, teori ekonomi yang berlaku justru memiskinkan pemikiran manusia. Pasalnya teori yang berlaku adalah yang paling baik itu untungnya maksimal. “Ini yang mengakibatkan negara menjual kemerdekaan dan kedaulatannya,” katanya.

Sebab kata dia, di Indonesia secara hukum adalah daulat rakyat tetapi secara praktek ternyata daulat pasar. “Ini proses aboriginisasi, harus ada yang memperingatkan antara lain dengan khas kita melalui intelektualitas,” tandasnya.

Reporter : yulianingsih
Redaktur : Taufik Rachman

Sumber: Republika, Kamis, 19 Desember 2013, 12:38 WIB
———————
Sri Edi Swasono dan Ciptaning Utaryo Peroleh Anugerah HB IX

Universitas Gadjah Mada memberikan Anugerah Hamengku Buwono IX kepada dua tokoh pada Dies Natalis ke-64 tahun ini. Kedua tokoh Indonesia itu, yaitu Guru Besar UI Prof. Dr. Sri Edi Swasono dan Ciptaning Utaryo. Anugerah HB IX ini diberikan pada kedua tokoh ini di Kraton Yogyakarta, Kamis (19/12) malam ini.

Rektor UGM Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., kepada wartawan mengatakan, Sri Edi Swasono memperoleh Anugerah HB IX di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sedangkan Ciptaning Utaryo dibidang kemanusiaan. Sementara dipilihnya Ciptaning Utaryo dari Yayasan Sayap Ibu, kata Pratikno,  dinilai sebagai tokoh sukarelawan yang sangat giat mengurus bayi-bayi tanpa orang tua karena panggilan hati. “Keduanya terpilih setelah melewati proses seleksi dari 29 nominasi yang diajukan ke Majelis Guru Besar,” kata Rektor.

Anugerah HB IX ini, kata Rektor, diberikan kepada tokoh yang memenuhi beberapa kriteria. Keduanya dianggap sebagai tokoh yang meneruskan perjuangan Sultan HB IX sebagai tokoh dan pejuang kemerdekaan yang nasionalis, berjiwa demokrat sejati, berpendirian bahwa tahta adalah untuk rakyat, berpandangan jauh ke depan, serta bercita-cita tinggi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan prestasi luar biasa di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Kemanusiaaan dan Kebudayaan.

Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UGM, Prof. Dr. Sofian Effendi, MPIA mengatakan, Sri Edi Swasono merupakan guru besar yang konsisten memperjuangkan Pasal 33 UUD 1945 yang isinya ekonomi Indonesia  bukan pasar liberal tetapi ekonomi yang mensejahterakan. “Yang oleh para pelaksananya sejak Orde baru  tidak mau dipahami sehingga kita hanya penumpang yang dikendarai joki dari luar. Jokinya itu adalah WTO dan celakanya pemerintah menggebu-gebu mendukung WTO. Kita bangsa yang merdeka tetapi kita tidak berdaulat,” katanya.

Sri Edi Swasono, kata Sofian merupakan tokoh yang tak berhenti mengingatkan pemerintah untuk kembali menerapkan pasal 33 UUD 1945. Sri Edi Swasono sendiri dalam kesempatan itu mengatakan, ambruknya ekonomi  Amerika pada 2008 karena kesalahan teori ekonomi. Padahal di Amerika sendiri banyak peraih nobel dibidang ekonomi. Karena itulah pada pidato penghargaan HB IX Award dirinya menyampaikan pidato terkait kesalahan teori ekonomi ini.  “Mari kita benahi teori ekonomi. Kalau teorinya salah maka prakteknya juga salah. Kita ini menghabiskan waktu seolah-olah teori yang berlaku seperti pendulum diantara ekonomi kerakyatan dan kapitalis,” ujarnya.

Selama ini katanya, teori ekonomi yang berlaku justru memiskinkan pemikiran manusia. Pasalnya teori yang berlaku adalah yang paling baik itu untungnya maksimal. “Ini yang mengakibatkan negara menjual kemerdekaan dan kedaulatannya,” katanya.

Sebab kata dia, di Indonesia secara hukum adalah daulat rakyat tetapi secara praktek ternyata  daulat pasar. “Ini proses aboriginisasi, harus ada yang memperingatkan antara lain dengan khas kita melalui intelektualitas,” tandasnya.(Humas UGM/Gusti Grehenson)

Sumber: ugm.ac.id, Diunggah : Kamis, 19 Desember 2013 — Gusti

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru