Home / Berita / Spesies air; Harapan dan Ancaman Kepunahan

Spesies air; Harapan dan Ancaman Kepunahan

Lima spesies satwa air tawar di Hutan Harapan Jambi didapati telah bermutasi. Peneliti menganalisis fenomena ini disebabkan kerusakan lingkungan selama puluhan tahun.


Pembiaran berkepanjangan atas kerusakan ini tak hanya akan memperbesar mutasi. Ancaman kepunahan pun sulit dihindari.

Peneliti Biologi Universitas Jambi, Tedjo Sukmono, mendapati mutasi titik telah terjadi pada ikan kepyur (Puntius lateristriga), sebarau (Hampala macrolepidota), aropadi (Osteochilus microchepalus), dan gabus (Channa striata). Satu jenis lainnya, seluang (Striuntius sp Harapan), bahkan diduga sudah mengalami mutasi gen, meski dugaan ini masih perlu pembuktian lebih lanjut.

Temuan ikan-ikan bermutasi ini sungguh tak terduga di tengah proses penelitian Tedjo dan tim Restorasi Ekosistem selaku pengelola Hutan Harapan, sepanjang 2012-2014. Tim bermaksud mendata dan menginventarisasi keragaman satwa air di kawasan restorasi itu, antara lain di Sungai Kapas, Sungai Kandang, dan Sungai Lalan, serta Danau Tiung Luput, Danau Kamp, Danau 41, Danau Rohani, dan Danau Klompang.

Dalam prosesnya, Tedjo dan timnya mendapati sampel-sampel ikan yang tampilannya di luar kebiasaan spesies aslinya. Misalnya, gabus-gabus dewasa di Danau 41 ditemukan dalam kondisi insang busuk, tetapi masih bisa hidup atas bantuan alat pernapasan lain berupa labirin.

703a03fdf315473bae695d7df47bc7efPada temuan ikan seluang di Danau Tiung Luput dan Sungai Kandang, Tedjo memeriksa terjadinya perubahan fisik: ikan tidak berkumis dan garis membujur pada badannya tampak terputus pada urutan yang kedua. Kondisi ini berbeda dibanding ikan seluang yang selama ini dikenal, yaitu memiliki empat hingga lima garis membujur pada sisi badan serta kumis kecil pada mulut.

Tedjo menilai perubahan-perubahan tersebut sebagai bentuk adaptasi ikan atas lingkungan yang terus berubah dan kian tak mendukung. Itu sesuai dengan kondisi Hutan Harapan yang terdegradasi hingga 20 persen dalam rentang 50 tahun terakhir. Hutan alam primer seluas 98.000 hektar di dataran rendah Sumatera ini mengalami fragmentasi berat.

Kondisi itu menurunkan kualitas air, berupa sedimentasi dan pendangkalan, sehingga berdampak pada berkurangnya ketersediaan oksigen dan pH, serta peningkatan suhu dan kekeruhan dalam air.

Perubahan susunan
Adaptasi dalam jangka panjang akan melibatkan perubahan susunan basa nukleotida. Saat ini, sebagian spesies masih sama, tetapi kemungkinan susunan basa nukleotidanya sudah berubah. Perubahan susunan basa sebesar 2 hingga 6 persen yang ditemukan pada lima spesies di Hutan Harapan, jika terus berlangsung dan semakin besar perubahannya, akan menuju proses spesiasi. Pada akhirnya, proses itu menghasilkan spesies berbeda atau subspesies.

Dalam kasus di Harapan, Tedjo menilai mutasi spesies sudah melewati fase adaptasi awal yang melibatkan perubahan mekanisme fisiologi. Mereka juga telah mengalami perubahan morfologi yang memerlukan ekspresi gen berbeda. Itu berlanjut dengan perubahan susunan komposisi nukleotida, dan perubahan penerjemahan pada asam amino dan protein. Perubahan inilah yang dikenal sebagai mutasi titik.

“Mutasi titik menjadi dasar munculnya variasi baru dalam spesies,” ujar Tedjo.

Setelah penelitian mengenai keragaman satwa air Hutan Harapan, Tedjo melanjutkan dengan menganalisis spesies-spesies yang diduga telah bermutasi itu, dibandingkan dengan spesies aslinya. Melalui analisis metode sekuensi DNA, data mutasi ikan kepyur diperoleh sebesar 4 persen dari spesies aslinya. Adapun perubahan pada sebarau 6 persen, dan perubahan pada gabus baru 2 persen.

Analisis pada ikan sebarau di Hutan Harapan, jika dibandingkan dengan spesies aslinya di wilayah Tiongkok, terjadi substitusi (perubahan kode genetik) transisi sebanyak 16 titik. Perubahan terjadi sebanyak delapan titik pada basa ke-3, satu titik pada basa ke-2, dan tujuh titik pada basa ke-1. Perubahan pada basa ke-3 dan ke-2 umumnya tidak mengubah jenis asam amino karena bersifat sinonim, dibanding perubahan basa ke-1 yang dapat mengubah translasi asam amino. Semakin besar perubahan basa ke-1, memperbesar perubahan asam amino dan perbedaan protein yang dihasilkan. Akibatnya, ekspresi sifat ikan pun berubah.

Perusakan
Fragmentasi hutan bukan satu-satunya penyebab mutasi. Faktor yang juga memengaruhi mutasi adalah tingginya intensitas penyetruman dan peracunan ikan di sejumlah perairan itu. Tedjo kerap mendapati perambah liar menyetrum ikan dengan menggunakan genset besar bertenaga 1.300 PK. Targetnya, mencuri ikan-ikan besar berukuran di atas 40-50 sentimeter (cm), tetapi dampaknya membunuh ribuan ikan kecil.

Adapun di musim kemarau, banyak ditemukan peracunan ikan. Menurut dia, tidak menutup kemungkinan mutasi terjadi sebagai bentuk adaptasi atas kondisi perairan yang tercemar racun secara terus-menerus.

Namun, kekhawatiran lainnya, jika ikan-ikan itu tidak memiliki kelentingan beradaptasi. “Mereka akan punah, atau bahkan mungkin sebenarnya sudah punah tanpa kita sempat mengetahui,” ujarnya. Ancaman kepunahan inilah, menurut Tedjo, yang harus segera diantisipasi melalui upaya konservasi.

Menurut Anderi Satya dari Humas PT Restorasi Ekosistem selaku pengelola Hutan Harapan, perambahan memang masih mengancam kelestarian hutan ini. Tercatat 18.000 hektar lebih Hutan Harapan rusak karena dirambah pendatang. Pihaknya terus mengupayakan pengamanan dalam hutan dan pemulihan area yang telah rusak.

IRMA TAMBUNAN
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 Maret 2015, di halaman 14 dengan judul “Harapan dan Ancaman Kepunahan”.

Posted from WordPress for Android

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: