Home / Berita / Skema Pemulangan WNI dari Natuna Dipersiapkan

Skema Pemulangan WNI dari Natuna Dipersiapkan

Skema pemulangan bagi warga negara Indonesia yang saat ini menjalani masa observasi terkait COVID-19 di Natuna, Kepulauan Riau, disiapkan. Melalui skema tersebut, warga diharapkan mendukung pemulangan WNI itu.

Pemerintah telah menyusun skema pemulangan bagi warga negara Indonesia yang saat ini menjalani masa observasi terkait COVID-19 di Natuna, Kepulauan Riau. Pemulangan itu direncanakan dilakukan pada Sabtu, 15 Februari 2020, pukul 13.00 WIB, dari Landasan Udara Raden Sadjad, Natuna.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Warga negara Indonesia yang diobservasi terkait virus korona tipe baru mengikuti senam pagi di hanggar Pangkalan TNI AU Raden Sadjad di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (6/2/2020). Proses observasi terhadap 238 WNI yang dievakuasi dari Wuhan, China, ini terus dilakukan.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, semua warga negara Indonesia (WNI) yang kini menjalani observasi di Natuna dalam kondisi sehat sehingga siap dipulangkan ke tempat tinggalnya masing-masing. Melalui skema yang siapkan, ia berharap semua warga bisa mendukung upaya pemulangan tersebut.

”Jangan sampai masyarakat panik dan salah paham sehingga tak mendukung upaya (pemulangan WNI) yang dilakukan pemerintah. Saat ini, kami siapkan agar keluarga dan warga di lingkungan tempat mereka mau menerima kepulangan ini. Kami pastikan layanan yang diberikan memberi rasa nyaman dan aman bagi semua warga Indonesia,” tuturnya di Jakarta, Kamis (13/2/2020).

Muhadjir menambahkan, proses pemulangan akan disiapkan dengan baik. Koordinasi lintas kementerian dan lembaga ditingkatkan untuk mendukung upaya ini. Pemerintah telah menunjuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai koordinator proses pemulangan semua WNI itu.

Kepala BNPB Doni Monardo memaparkan, konsultasi dan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan telah dilakukan. Jika merujuk pada masa inkubasi dari coronavirus disease 2019 (COVID-19) selama 14 hari, observasi akan berakhir pada 15 Februari 2020 pukul 12.00. Hal itu sesuai dengan arahan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang masih menetapkan masa inkubasi selama 14 hari.

”Namun, tak menutup kemungkinan apabila nanti ada perkembangan dan dinamika, tentu BNPB bersama lembaga lainnya, termasuk TNI dan Kementerian Kesehatan yang berada di bawah arahan Kemenko PMK (Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) akan menyesuaikan,” tutur Doni.

Secara teknis, pemulangan WNI akan dilakukan dengan memakai empat pesawat milik TNI dari Landasan Udara Raden Sadjad, Natuna, menuju Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Selanjutnya, pemerintah menyiapkan tiket pesawat bagi para WNI ke tempat tujuan masing-masing. Apabila ada WNI yang harus bermalam di Jakarta, pemerintah juga memberikan bantuan biaya penginapan dan transportasi.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK Agus Suprapto memaparkan, jumlah WNI yang akan dipulangkan dari masa observasi di Natuna berjumlah 285 orang. Jumlah itu terdiri dari 238 WNI yang dijemput dari Wuhan, China, 5 anggota tim dari Kementerian Luar Negeri, serta 42 anggota tim penjemput.

”Koordinasi dengan daerah sudah dilakukan melalui Kementerian Dalam Negeri agar edukasi kepada masyarakat dilakukan dengan baik. Sampai saat ini ada 26 provinsi yang menjadi daerah pemulangan para WNI, paling banyak ada di Jawa Timur,” ucapnya.

Secara terpisah, Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto menambahkan, perwakilan dari tiap pemerintah daerah akan menyambut pemulangan WNI yang telah selesai menjalani masa observasi. Mereka yaitu 68 orang berasal dari Jawa Timur, 13 orang dari Aceh, 12 orang dari Jakarta, dan 8 orang dari Papua.

Secara resmi, pemerintah akan menyerahkan kru dari PT Lion Air yang turut dalam proses penjemputan di Wuhan. ”Setelah pemulangan, kami akan melanjutkan dengan pemberian disinfeksi di semua lokasi observasi. Kemungkinan akan ditutup sekitar tiga hingga tujuh hari,” katanya.

Ia menegaskan, sampai kini tidak ada kasus positif COVID-19 yang ditemukan di Indonesia. Dari 77 sampel pasien yang diterima di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes, sebanyak 75 pasien menunjukan hasil negatif dan dua sampel dari pasien lainnya masih dalam proses pemeriksaan.

Terkait adanya informasi warga negara China yang terinfeksi COVID-19 setelah kembali dari Bali, Achmad menyampaikan, proses riset yang dilakukan saat ini tidak menemukan keterkaitan pengunjung itu terinfeksi di Indonesia. Meskipun begitu, riset dan pemeriksaan lanjutan tetap dilakukan karena identitas dari warga negara China itu belum utuh diterima Pemerintah Indonesia.

”Namun, hal yang lebih penting yaitu melakukan proteksi kuat dan deteksi yang cermat di Bali. Jangan sampai Bali menjadi hot spot baru atau epicentrum baru dari penularan virus ini,” ujarnya.

Oleh DEONISIA ARLINTA

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 13 Februari 2020

Share
x

Check Also

Pembatasan Akses Transportasi Hambat Kerja Jurnalistik

Munculnya surat edaran dari Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek tentang pembatasan moda transportasi dari dan ke ...