Home / Berita / Sindrom Pernafasan Timur Tengah; Ancaman Baru Setelah SARS

Sindrom Pernafasan Timur Tengah; Ancaman Baru Setelah SARS

Kewaspadaan dunia meningkat menyusul kian merebaknya Sindrom Pernapasan Timur Tengah atau MERS di berbagai belahan dunia. Sejak ditemukan kasus pertama pada 2012 di Arab Saudi, MERS telah merenggut lebih dari seratus nyawa. Dengan jumlah jemaah umrah yang pergi ke Arab Saudi rata-rata 150.000 orang per bulan, Indonesia rentan terhadap penyebaran virus ganas itu.

Sindrom Pernapasan Timur Tengah (Middle East Respiratory Syndrom Corona Virus/MERS) pertama kali dilaporkan di Arab Saudi pada September 2012. Pasien itu berusia 60 tahun yang juga menderita pneumonia dan gagal ginjal. MERS kian menyebar ke sejumlah negara di Timur Tengah di antaranya Jordania, Kuwait, Oman, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Mesir. Lalu Perancis, Jerman, Yunani, Italia, Inggris, Tunisia, Malaysia, Filipina, dan Amerika Serikat.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa menyebut, secara global ada 495 kasus MERS, 141 orang di antaranya meninggal. Dari jumlah kasus dan korban meninggal, 80 persen ada di Arab Saudi. Itu berarti kematian MERS sekitar 30 persen. Kasus MERS terakhir dilaporkan di Amerika Serikat, Jumat (2/5), dan jadi kasus MERS pertama di AS.

Tim dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah turun ke lapangan beberapa kali sejak MERS pertama kali muncul pada 2012. Kedatangan kali ini dipicu oleh tingginya kasus penularan terhadap tenaga kesehatan dan munculnya kasus di Jeddah, Mekkah, dan Madinah yang merupakan lokasi beribadah haji dan jalur umrah.

Indonesia sebagai negara yang mengirim sekitar 150.000 anggota jemaah umrah per bulan pun mulai waspada. Alat pendeteksi panas badan dioperasikan di sejumlah bandara internasional. Rumah sakit yang dulu jadi rujukan penderita sindrom pernapasan akut parah (SARS) dan flu burung kembali disiapkan.

Sejauh ini, belum ditemukan pasien yang positif terinfeksi MERS di Tanah Air. Kasus termutakhir adalah laporan adanya terduga MERS dari Medan, Sumatera Utara; dan Denpasar, Bali. Di Medan, dua pasien terduga terinfeksi MERS setelah beribadah umrah di Arab Saudi, satu di antaranya meninggal sebelum diambil spesimen usapan hidung dan tenggorokan.
Mutasi virus

Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, menyatakan, MERS adalah strain baru virus korona yang belum dikenal. Selama ini virus korona menyebabkan beragam kesakitan pada manusia, mulai dari flu biasa hingga SARS yang muncul pada 2003 dari selatan Tiongkok.

Virus dari genus beta korona berbentuk bulat itu menyebar lewat udara. Belum diketahui pasti dari mana awalnya penularan MERS terhadap manusia. Sejumlah penelitian menyatakan, virus korona penyebab MERS ditemukan di unta dan kelelawar. Namun, hanya sebagian kecil pasien yang sebelum terinfeksi memiliki riwayat kontak dengan unta. Itu pun pada unta yang kontak dengan pasien tidak ditemukan virus korona.

Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) dalam situsnya menyatakan, sumber penularan virus korona penyebab MERS berasal dari hewan. Virus itu telah ditemukan pada unta di Qatar, Mesir, dan Arab Saudi. Sejauh ini MERS telah menular antarmanusia yang kontak dekat. Transmisi dari pasien yang terinfeksi ke petugas kesehatan telah diobservasi. Kelompok kasus di beberapa negara sedang diinvestigasi.

Guru Besar Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Amin Soebandrio menyatakan, virus korona penyebab MERS mirip dengan SARS. Virus itu menyerang saluran napas bagian bawah sehingga menimbulkan gejala influenza, yakni pilek, batuk ringan, sesak napas karena menyerang organ paru-paru, hingga gagal ginjal.

Virus korona penyebab MERS semula ditemukan pada unta dan tidak menimbulkan gejala berat pada hewan yang terjangkit itu. ”Virus itu bermutasi, bercampur gennya dengan virus lain, sehingga jadi ganas dan mematikan. Kemungkinan lain, virus itu bermutasi dari tubuh hewan ke badan manusia karena faktor lingkungan,” ujarnya menjelaskan.

”Proses mutasi virus itu cukup lama,” kata Amin. Semula virus itu hanya berada di dalam tubuh hewan di dalam hutan, jauh dari manusia. Dengan pertumbuhan jumlah penduduk, makin banyak manusia masuk ke kawasan hutan, atau sebaliknya makin banyak hewan bersentuhan atau kontak dengan manusia. Makin sering kontak dengan manusia, virus beradaptasi dan berkembang biak dalam tubuh manusia.

Virus korona yang menyebabkan MERS berbeda dengan virus influenza. Maka, vaksinasi influenza belum terbukti efektif melindungi manusia dari MERS. Meski demikian, karena penyakit itu menyerang manusia dengan sistem pertahanan tubuh rendah, berusia lanjut, dan ada penyakit penyerta, vaksinasi influenza diharapkan menjamin seseorang tidak kena influenza.
Pencegahan

Menurut Tjandra, seseorang menjadi terduga MERS jika suhu tubuhnya lebih dari 38 derajat celsius atau ada riwayat demam, batuk-batuk, pneumonia, dan riwayat perjalanan ke Timur Tengah. Masa inkubasi virus korona pada MERS 5-7 hari.

Meski sama-sama disebabkan virus korona, ada perbedaan antara SARS dan MERS. Pasien yang terkena SARS kebanyakan orang dewasa, muda, dan masih produktif. Adapun MERS menyerang orang dari kelompok umur lebih tua.

Penderita MERS rata-rata berusia 50 tahun (14 bulan-94 tahun). Sebanyak 65 persen korban adalah laki-laki dan 63,4 persen menderita infeksi saluran pernapasan akut. Mereka juga dilaporkan memiliki penyakit lain, seperti penyakit ginjal, diabetes melitus, dan jantung.

Perbedaan lain antara MERS dan SARS terletak pada kondisi tenaga kesehatan yang tertular. Tenaga kesehatan yang terserang MERS mengalami gejala lebih ringan dibandingkan pasien MERS yang dirawatnya. Pada SARS, tenaga kesehatan yang terinfeksi mengalami gejala sama gawatnya dengan pasien SARS yang dirawat.

Guru Besar Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Menaldi Rasmin menuturkan, virus korona belum dikenal tubuh. Hal ini menyebabkan sistem pertahanan tubuh belum mampu menangkalnya dengan baik sehingga jatuh korban jiwa.

Virus akan masuk ke saluran pernapasan hingga ke kantong-kantong udara (alveoli) pada paru-paru. Kantung udara yang merupakan tempat di mana karbon dioksida dipertukarkan dengan oksigen akan kolaps. Volume oksigen yang dipasok ke dalam darah berkurang.

Ada tiga hal yang berpengaruh pada sejauh mana seseorang bisa terinfeksi virus korona: jumlah virus yang masuk ke tubuh, tingkat keganasan atau virulensi virus, dan sistem pertahanan tubuh.

Lalu, apakah MERS berpotensi menjadi pandemi? Menurut Tjandra, ada empat hal yang menentukan apakah suatu kejadian jadi pandemi atau tidak, yaitu apakah virus bersangkutan baru atau tidak, berbahaya bagi manusia, menular antarbenua, dan sudah terjadi penularan dari manusia ke manusia.

Kebaruan virus korona jadi perdebatan di kalangan para peneliti. Dengan angka kematian 30 persen, virus itu berbahaya bagi manusia. Penularan antarbenua juga sudah terjadi. Namun, penularan dari manusia ke manusia secara berkelanjutan belum terjadi.

Hingga kini, WHO belum menetapkan status apa pun terkait MERS-CoV kecuali imbauan untuk waspada. Sejauh ini belum ditemukan vaksin dan obat untuk menangkal virus itu. Yang bisa dilakukan masyarakat, terutama yang hendak umrah, adalah mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat, mencuci tangan pakai sabun, memakai masker, menghindari keramaian jika berada di Timur Tengah. ”Kita perlu waspada,” ujar Tjandra. (EVY RACHMAWATI)

Oleh: Adhitya Ramadhan

Sumber: Kompas, 8 Mei 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: