Home / Artikel / Darurat MERS

Darurat MERS

Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus pertama kali dilaporkan Arab Saudi pada September 2012.

Kasus pertama terjadi pada pasien laki-laki, 60 tahun, dengan pneumonia akut dan gagal ginjal akut. Ia meninggal di Jeddah, Arab Saudi, 24 Juni 2012. Dr Ali Mohamed Zaki, virolog Mesir, mengisolasi dan mengidentifikasi virus korona yang tidak diketahui sebelumnya itu. Temuan dipublikasi 24 September 2012 di jurnal ilmiah kedokteran ProMED-mail. Sel hasil isolasi menunjukkan gambaran cytopathic effects (CPE), berbentuk bulat keliling.

Kasus kedua September 2012 pada laki-laki, 49 tahun, di Qatar dengan gejala mirip flu dan sequencing virus yang mirip dengan kasus pertama. Pada November 2012 timbul lagi kasus serupa di Qatar dan Arab Saudi. Kasus bertambah dan terjadi kematian, diikuti penelitian dan monitoring virus korona intensif di dunia.

Sampai sekarang belum jelas apakah infeksi merupakan kejadian penyakit menular langsung antarmanusia atau bersifat zoonosis (penyakit bersumber binatang). Kalau zoonosis, belum jelas apakah ini zoonosis tunggal yang berlanjut dengan penularan antarmanusia atau kejadian zoonosis yang di beberapa tempat dari sumber yang belum diketahui.

Ziad Memish dan kawan-kawan (Universitas Riyadh) menduga virus muncul antara Juli 2007 dan Juni 2012, mungkin 7 penularan zoonosis yang berbeda. Penelitian menemukan varian virus korona dari EMC/2012 dan England/Qatar/2012 telah ada sejak awal 2011 dan diduga kasus-kasus ini diturunkan dari kejadian zoonosis tunggal. Tampaknya MERS-Cov telah bersirkulasi di populasi manusia lebih dari 1 tahun tanpa terdeteksi.

Virus korona
MERS-Cov adalah anggota baru dari kelompok beta Coronavirus. MERS-Cov berbeda dengan virus korona yang menyebabkan penyakit SARS dan flu yang umum, jadi ini varian virus baru.

Virus korona penyebab MERS-Cov menginfeksi hanya 20 persen epitel sel pernapasan sehingga menghirup virus dalam jumlah besar baru menyebabkan infeksi.

Dr Anthony Fauci, Badan Penelitian Kesehatan (NIH) Amerika Serikat di Bethesda, Maryland, menyatakan ada potensi virus bermutasi sehingga menular antarmanusia.

Virus korona penyebab MERS-Cov lebih erat hubungannya dengan kelelawar (virus korona HKU4 and HKU5 lineage 2C) daripada SARS-Cov (lineage 2B) (2,9), bahkan lebih dari 90 persen sekuensing menunjukkan kekerabatannya sehingga dipertimbangkan sebagai spesies yang sama oleh International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV).

Virus korona yang ditemukan pada unta (dromedary camel) 99,9 persen mirip dengan genom pada manusia clade B MERS-Cov. Penelitian baru pada unta menunjukkan unta dewasa? sudah punya antibodi terhadap MERS-Cov, angkanya lebih dari 70 persen. Unta anak-anak punya virus yang aktif, sampai 35 persen pada swab hidung unta muda. Data-data ini belum dapat membuktikan ada penularan dari unta ke manusia karena hubungan langsung kausal belum ditemukan.

Pasien meningkat
Jumlah kasus MERS-Cov terus naik. Data Center of Disease Control AS menunjukkan, sampai 2 Mei 2014 di dunia tercatat ada 401 kasus MERS-Cov, 93 di antaranya meninggal, artinya angka kematian 30 persen. Penyakit sudah menyebar ke 15 negara.

Dari sudut epidemiologi, data yang ada menunjukkan, umur rata-rata (median) pasien adalah 50 tahun, paling muda 14 bulan dan paling tua 94 tahun. Dua per tiganya (65 persen) adalah laki-laki. Data juga menunjukkan, 63,4 persen pasien menderita ISPA berat. Sebagian besar pasien MERS-Cov (76 persen) ternyata punya penyakit kronik lain sebelumnya, misalnya gagal ginjal (13,3 persen), diabetes (10 persen), penyakit jantung (7,5 persen), selain juga penyakit paru kronik dan gangguan imunologik.

Ada lima hal penting yang perlu diwaspadai saat ini.

Pertama, kasus MERS-Cov di Arab tadinya hanya bagian tengah dan timur, termasuk Riyadh. Lalu, dilaporkan kasus dari Jeddah (kota transit jemaah umrah), bahkan juga dilaporkan dari Mekkah dan Madinah yang merupakan kota-kota utama ibadah umrah.

Kedua, kasus penularan pada petugas kesehatan di RS terus terjadi? dari pasien yang dirawat. Perlu pengamatan pola penularan antarmanusia, dasar utama terjadinya pandemi dunia.

Ketiga, sudah dilaporkan kasus pada jemaah umrah dari Turki yang baru pulang dari Arab Saudi. Sebelumnya sebagian besar kasus hanya pada warga setempat.

Keempat, untuk Asia Tenggara, selain di Malaysia, ada laporan kasus di Filipina. Negara lain yang juga melapor baru-baru ini adalah Yunani, Jordania, Perancis.

Kelima, ada peningkatan bermakna kasus di Uni Emirat Arab (UAE). Padahal, banyak WNI bekerja di UAE dan Arab Saudi.

Di Jeddah sejak Maret 2014 ada 111 pasien positif MERS-Cov, 31 orang di antaranya meninggal. Cukup banyak penularan pada petugas kesehatan. Sepertiga orang yang tertular di RS gejalanya ringan. Sedang diteliti apakah pola penularan di RS sama dengan di komunitas.
Diagnosis

Ada tiga kelompok diagnosis MERS-Cov sesuai klasifikasi berikut.

Pertama, kasus dalam penyelidikan. Ini bila ada seseorang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dengan gejala demam ?38 derajat celsius atau ada riwayat demam tinggi, batuk, dan pneumonia.

Perlu diwaspadai pasien dengan gangguan sistem kekebalan tubuh karena gejala dan tanda tidak jelas. Tetapi, riwayat bisa menentukan seperti ke Timur Tengah (negara terjangkit) dalam waktu 14 hari sebelum sakit, kecuali ada penyebab lain.

Kedua, adanya petugas kesehatan yang sakit dengan gejala sama setelah merawat pasien ISPA berat, terutama pasien yang memerlukan perawatan intensif.

Ketiga, adanya klaster pneumonia (gejala penyakit yang sama) dalam periode 14 hari, tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian, kecuali ditemukan penyebab penyakit lain.

Keempat, adanya perburukan perjalanan klinis yang mendadak meskipun dengan pengobatan yang tepat.

Perlu diwaspadai seseorang dengan ISPA ringan sampai berat yang punya riwayat kontak erat dengan kasus konfirmasi atau kasus probable infeksi MERS-Cov.

Tidak tersedia pemeriksaan untuk MERS-Cov atau hasil laboratoriumnya negatif pada satu kali pemeriksaan spesimen yang tidak adekuat.

Di Indonesia, kepastian hasil dilakukan melalui pemeriksaan Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). Di negara-negara WHO Southeast Asia Region ada 3 negara yang bisa memastikan: laboratorium, Balitbangkes Indonesia, Thailand, dan India

Pengertian klaster adalah bila terdapat dua orang atau lebih memiliki penyakit yang sama atau riwayat kontak yang sama dalam jangka waktu 14 hari.

Untuk menentukan ada tidaknya hubungan epidemiologis langsung, perlu dilihat riwayat dalam waktu 14 hari sebelum timbul sakit. Apakah ada kontak fisik dengan penderita dalam artian berada dalam ruangan yang sama, bercakap-cakap dengan radius 1 meter, tinggal serumah, bekerja bersama, dan bepergian bersama.

Ada obat-obatan yang sudah disarankan, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing meski belum memenuhi kriteria evidence based medicine.

Tips pencegahan
Masyarakat yang akan berangkat umrah atau bepergian ke Jazirah Arab perlu menerapkan perilaku bersih, sehat dengan makan bergizi, istirahat cukup. ?Rajin dan seringlah cuci tangan pakai sabun. Sedapat mungkin gunakan masker bila sedang dalam kerumunan.

Bila memang punya penyakit kronik (diabetes, jantung paru kronik, gangguan ginjal, atau penyakit kronik lain), cek ke dokter sebelum berangkat dan gunakan obat secara teratur.

Kalau selama di Arab ada keluhan batuk, demam, dan sesak yang dalam 1-2 hari memburuk, segera konsultasi ke petugas kesehatan. Meski belum ada bukti ilmiah, ada baiknya selama di Arab Saudi dan jazirah Arab tidak kontak dengan unta.

Bila dalam kurun waktu 14 ?hari sampai di Tanah Air mengalami keluhan batuk, demam, dan sesak, yang dalam 1-2 hari memburuk, segera konsultasi kepada petugas kesehatan dan informasikan bahwa Anda baru kembali dari Arab.

Yang kini banyak dibicarakan para ahli adalah apakah MERS-Cov dapat menjadi pandemi, wabah mendunia. Dengan mudahnya transportasi, ada kewaspadaan yang perlu. Mulai dari peringatan (travel warning) hingga larangan datang.

Sampai saat ini WHO belum menyatakan MERS-Cov sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), dan belum menyatakan sebagai pandemi. Direktur Jenderal WHO baru membentuk Emergency Committee untuk terus menganalisis dan merekomendasikan apakah sudah terjadi pandemi.

Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan

Sumber: Kompas, 8 Mei 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Vokasi Maju, Kita Maju

Yang jadi tulang punggung rencana besar menggapai kemajuan ini tak lain ialah anak-anak muda. Jika ...

%d blogger menyukai ini: