Home / Berita / Sikorsky dan Warna Sejarah Helikopter

Sikorsky dan Warna Sejarah Helikopter

Dalam dunia aviasi, nama Sikorsky sudah identik dengan sejarah helikopter itu sendiri. Pabrikan helikopter asal AS itu memainkan peran penting sejak awal era pesawat “sayap putar” hingga persaingan teknologi abad ke-21 ini.

November lalu, pemasok terbesar helikopter militer Amerika Serikat tersebut menjalani momen bersejarah. Setelah hampir 90 tahun berada di bawah induk perusahaan United Technologies Corporation (dulu bernama United Aircraft), Sikorsky Aircraft pindah ke kelompok perusahaan baru.

Melalui akuisisi senilai 9 miliar dollar AS (sekitar Rp 125,3 triliun) yang dibayar tunai, Sikorsky kini menjadi milik raksasa industri pertahanan AS, Lockheed Martin. Dalam siaran pers tanggal 6 November, Lockheed Martin menyatakan, nama Sikorsky Aircraft kini resmi menjadi Sikorsky, A Lockheed Martin Company.

Sikorsky akan ditempatkan di bawah segmen bisnis Lockheed Martin Mission Systems and Training (MST). Meski demikian, Sikorsky masih diizinkan mempertahankan logo huruf S bersayap yang menjadi ciri khasnya. Markas besar Sikorsky juga tetap berada di Stratford, Connecticut, AS.

“Lockheed Martin dan Sikorsky sama-sama memiliki tradisi inovasi dan kinerja yang telah mengukir sejarah dunia penerbangan selama lebih dari satu abad. Bersama, kami memiliki posisi yang lebih baik untuk mempersembahkan yang terbaik bagi para pelanggan, karyawan, dan pemegang saham kami,” tutur Maryllin Hewson, Presiden dan CEO Lockheed Martin, dalam siaran pers tersebut.

Baik Lockheed Martin maupun Sikorsky memang bukan nama sembarangan dalam dunia militer AS. Sebagai kontraktor pertahanan terbesar di AS, Lockheed Martin dikenal publik sebagai produsen berbagai pesawat militer legendaris AS, seperti C-130 Hercules, F-16 Fighting Falcon, F-22 Raptor, dan yang terbaru F-35 Lightning II.

Pemasok utama
Sementara Sikorsky adalah pemasok utama helikopter militer untuk AS. Produk-produknya digunakan lima cabang angkatan bersenjata AS (Angkatan Laut, Angkatan Udara, Angkatan Darat, Korps Marinir, dan Penjaga Pantai AS).

87582948febd4a19bab33a0526fca4ccKOMPAS/DAHONO FITRIANTO–Seorang petugas berada di sekitar helikopter SH-60 Sea Hawk di atas geladak kapal komando Armada Pasifik AS, USS Blue Ridge, yang tengah bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 23 Mei 2012. Heli Sea Hawk adalah salah satu varian turunan dari UH-60 Black Hawk, heli utilitas legendaris buatan Sikorsky Aircraft yang digunakan lima cabang Angkatan Bersenjata AS.

Mulai dari helikopter angkut berat CH-53E Super Stallion, heli kepresidenan (Marine One) VH-3D Sea King, hingga heli utilitas medium legendaris UH-60 Black Hawk beserta seluruh varian turunannya adalah heli-heli buatan Sikorsky.

Menurut Shane G Eddy, Presiden Commercial System and Services Sikorsky, dalam taklimat media di Singapura, 12 November, untuk tipe Black Hawk saja, pihaknya telah memproduksi sedikitnya 4.000 helikopter dari berbagai varian untuk angkatan bersenjata AS.

Akuisisi oleh Lockheed Martin ini menjadi penanda penting baru dalam sejarah panjang Sikorsky. Pabrikan yang didirikan imigran asal Rusia, Igor Sikorsky (1889-1972), itu sudah menarik perhatian militer AS sejak sukses membuat VS-300 pada 1939.

VS-300 sering disebut-sebut sebagai salah satu perintis helikopter modern yang menggunakan satu baling-baling utama dan satu baling-baling kecil di bagian ekor yang berfungsi untuk melawan putaran torsi baling-baling utama (sehingga pesawat bisa bergerak lurus).

Potensi besar pemanfaatan helikopter di medan perang (bisa mendarat dan tinggal landas secara vertikal tanpa membutuhkan landasan), baik untuk misi pengintaian, pengiriman logistik, maupun evakuasi medis, membuat militer AS langsung melirik heli buatan Sikorsky ini.

Menurut uraian di laman Arsip Sikorsky ( www.sikorskyarchives.com), pada 1942, Angkatan Darat AS (US Army) puas dengan uji terbang VS-316, purwarupa helikopter hasil pengembangan VS-300. Helikopter yang oleh militer diberi designasi R-4 itu akhirnya dipesan dalam jumlah banyak oleh US Army pada Januari 1943 dan menjadi helikopter pertama yang diproduksi secara massal.

Era helikopter
Maka dimulailah era helikopter di dunia militer AS dan dunia. Tak banyak orang tahu, Sikorsky R-4 bahkan sudah dioperasikan oleh pasukan AS pada Perang Dunia II, terutama untuk misi penyelamatan pasukan di mandala pertempuran di Tiongkok, India, dan Burma (sekarang Myanmar).

Dalam waktu singkat, Sikorsky kemudian menelurkan berbagai varian helikopter yang makin besar dan kompleks. Pada 1949, hanya tujuh tahun sejak produksi perdana R-4, Sikorsky memperkenalkan heli legendaris H-19 Chickasaw (disebut dengan S-55 untuk versi komersial sipil) yang sukses besar dalam misi di Perang Korea.

Desain dasar H-19 bahkan kemudian “menginspirasi” Uni Sovyet untuk memproduksi heli Mil Mi-4 yang bentuknya sangat mirip meski memiliki ukuran dan kapasitas angkut lebih besar.

Sukses Chickasaw disusul munculnya Sikorsky H-34 (S-58) pada 1954. Sukses heli ini dalam tugas di US Army dan Korps Marinir AS (USMC) membuatnya sangat populer dan dipesan banyak negara. Selama 25 tahun kemudian, total produksi H-34 mencapai lebih dari 2.300 unit.

TNI Angkatan Udara pernah mengoperasikan heli ini dari varian UH-34D untuk melengkapi kekuatan Skuadron Udara 6 pada awal 1970-an. Dikenal dengan julukan “Codot”, heli-heli ini pernah terlibat dalam operasi penumpasan gerakan PGRS/Paraku di Kalimantan Barat.

Menurut keterangan di laman resmi TNI AU, heli-heli ini kemudian mendapat julukan Twin Pac setelah mengalami penggantian mesin. Pada 1978, mesin asli H-34 yang masih berupa mesin piston digantikan dengan mesin turbin buatan Pratt & Whitney tipe PT6T Twin-Pac. Heli-heli ini masih dioperasikan hingga awal era 2000-an.

Bagi yang tumbuh di era 1980-an, tipe heli ini populer dalam serial televisi Riptide yang pernah ditayangkan TVRI pada akhir dekade 1980-an.

Legendaris
Memasuki dekade 1960-an, Sikorsky kembali menelurkan heli legendaris H-3 (S61). Heli bermesin ganda ini digunakan dalam berbagai misi, mulai dari misi anti kapal selam hingga fungsi angkutan dan SAR.

Dalam perkembangannya, varian VH-3 dari heli ini kemudian menjadi tunggangan andalan para presiden AS sejak era John F Kennedy (varian VH-3A) hingga Barack Obama (VH-3D). Saat seorang presiden AS berada di dalamnya, heli ini mendapat sandi panggilan resmi Marine One.

Pengembangan H-3 pada pertengahan 1960-an kemudian membuahkan heli angkut berat CH-53 Sea Stallion yang sangat diandalkan di medan Perang Vietnam. Hingga abad ke-21, varian CH-53E Super Stallion masih menjadi helikopter terbesar dan terberat yang dioperasikan militer AS di medan perang semacam Afganistan dan Irak.

Dekade berikutnya, tepatnya pada 1976, Sikorsky kembali memunculkan satu lagi heli legendaris, yakni UH-60A Black Hawk (S70A). Heli utilitas ukuran sedang ini kemudian mencatat sukses dan digunakan setiap cabang angkatan bersenjata AS (varian UH-60 Black Hawk untuk US Army dan USMC, SH-60 Sea Hawk untuk US Navy, dan HH-60 Pave Hawk untuk USAF, serta HH-60J Jay Hawk untuk US Coast Guard).

Kepala Staf TNI AD (waktu itu) Jenderal Pramono Edhie Wibowo di Banda Aceh, 11 Februari 2013, pernah mengungkapkan keinginan TNI AD untuk membeli heli Black Hawk. Saat itu Pramono mengatakan, TNI AD ingin membeli 20 unit Black Hawk di samping 24 unit heli Bell 412.

Versi sipil heli ini, S-76, juga dioperasikan beberapa maskapai penerbangan carter di Tanah Air, salah satunya Pelita Air Service yang bermarkas di Pondok Cabe, Tangerang Selatan.

Mei tahun ini, Sikorsky menerbangkan perdana purwarupa heli terbarunya, S-97 Raider. Desain heli ini unik, dengan dua baling-baling utama berkonfigurasi koaksial (dua set baling-baling berputar di satu poros, tetapi dengan arah putaran berbeda untuk menetralkan torsi putaran).

Di bagian ekor, alih-alih baling-baling yang menghadap ke samping seperti biasa, ada baling-baling pendorong yang menghadap ke belakang. Alhasil, heli ini dirancang memiliki kecepatan jelajah hingga 220 knot (407,4 km per jam), atau dua kali lipat kecepatan rata-rata heli biasa.

“Proyek (S-97) ini seluruhnya dibiayai pihak swasta. Dan, 75 persen di antaranya oleh Sikorsky sendiri,” ujar Shane Eddy. Heli itu kabarnya sudah dilirik Komando Operasi Khusus AS (USSOCOM) untuk menggantikan heli MH-6 Little Bird.

Sikorsky siap mewarnai kembali sejarah helikopter masa depan.

(DAHONO FITRIANTO)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Desember 2015, di halaman 25 dengan judul “Sikorsky dan Warna Sejarah Helikopter”.
———
Igor Sikorsky; Mimpi, Visi, dan Etos Kerja

Kisah sukses sejati selalu berawal dari mimpi dan visi. Tak terkecuali riwayat sukses Igor Sikorsky membangun bisnis dirgantara dan turut menentukan arah sejarah dunia aviasi.

122dc8195a74411b9281630102689b7bTHE IGOR I SIKORSKY HISTORICAL ARCHIVES INC–Igor Sikorsky, salah satu perintis helikopter dan pendiri Sikorsky Aircraft, tengah menguji helikopter pertama buatannya, VS-300, pada September 1939 (foto kiri) dan surat terakhir yang ditulis sendiri oleh Igor Sikorsky, perintis helikopter dan pendiri Sikorsky Aircraft, pada 25 Oktober 1972, menunjukkan keyakinannya bahwa helikopter memiliki kemampuan untuk menyelamatkan nyawa manusia. Sikorsky meninggal dunia sehari setelah menulis surat ini.

Igor Ivanovich Sikorsky lahir pada 25 Mei 1889 di Kiev, yang di dunia masa kini menjadi ibu kota Ukraina. Di tahun itu, Kiev masih menjadi bagian dari Kekaisaran Rusia.

Ibunya seorang sarjana kedokteran, sementara ayahnya adalah seorang dokter dan profesor psikologi. Latar belakang intelektual ini turut membentuk ketertarikan Sikorsky kecil terhadap dunia sains, terutama dunia penerbangan.

Secara khusus, ia tertantang dengan sketsa kuno Leonardo da Vinci tentang teori “sekrup terbang”, yang tak lain adalah gagasan awal tentang sebuah helikopter: wahana transportasi yang bisa terbang dan mendarat secara vertikal.

Keberhasilan Wright Bersaudara menerbangkan pesawat terbang pertama mereka di Kitty Hawk, North Carolina, Amerika Serikat, pada 1903 memantapkan tekad Sikorsky untuk menekuni dunia dirgantara.

Pada usia 20 tahun, sepulangnya dari Paris dan setelah bertemu para perintis dunia aviasi di ibu kota Perancis, itu, Sikorsky pulang ke Kiev dan membuat helikopter pertamanya, H-1. Di laman www.sikorskyarchives.com, desain S-1 tak lebih dari kerangka, mesin, dan dua baling-baling koaksial di atasnya.

Percobaan pertama ini gagal. Namun, ia mencoba lagi tahun 1910 dengan H-2. “Helikopter” kedua ini bisa tinggal landas, tetapi tak bisa terbang karena tak mampu mengangkat beban mesinnya sendiri.

Ia pun kemudian mengalihkan perhatiannya pada pesawat konvensional bersayap tetap. Masih di tahun 1910, dia berturut-turut mengembangkan desain pesawat S (Sikorsky)-1, S-2, S-3, dan S-4 yang menggunakan sayap ganda dan mesin tunggal.

Sejak awal dia melakukan segalanya sendiri, mulai dari menggambar sketsa, desain teknis, merakit pesawat, hingga belajar menerbangkannya sendiri. Etos kerja ini ia pertahankan hingga akhir hayatnya.

“Saya masih ingat, meski setelah pensiun, dia masih sering datang ke kantor dan ingin terlibat langsung dengan pengembangan helikopter terbaru saat itu,” tutur Shane G Eddy, Presiden Commercial System and Services Sikorsky, saat makan siang bersama Kompas di Singapura, 12 November 2015.

Tahun 1911, Sikorsky untuk pertama kalinya berhasil membuat pesawat yang sungguh- sungguh bisa diterbangkan, S-5. Dengan pesawat pertama itu, ia langsung memecahkan empat rekor penerbangan di Rusia saat itu, yakni rekor ketinggian (500 meter), jarak terbang (85 kilometer), durasi penerbangan (52 menit), dan kecepatan tertinggi (groundspeed 125 kilometer per jam).

Dalam kurun waktu lima tahun kemudian, ia membuat tak kurang dari tujuh tipe pesawat lagi, termasuk pesawat-pesawat tempur dan pengebom yang digunakan Rusia di kancah Perang Dunia I.

Salah satu terobosan lain yang dilakukan Sikorsky adalah membuat pesawat dengan mesin banyak (multi-engines) pertama. Tak tanggung-tanggung, pada 1913 ia membuat pesawat pertama dengan empat mesin, yang disebut The Grand (S-21).

Hijrah ke AS
Situasi suram Eropa pasca Perang Dunia I dan Revolusi Bolshevik yang pecah di Rusia tahun 1917 membuat Sikorsky berpikir tak ada masa depan untuk industri dirgantara di tempat itu. Ia pun memutuskan pindah ke Amerika Serikat pada 1919.

Setelah bertahan hidup selama empat tahun di New York City dengan mengajar matematika dan sains kepada para imigran Rusia di AS, pada 1923 ia akhirnya mendapat dukungan modal dari sejumlah temannya untuk mendirikan Sikorsky Aero Engineering Corp.

Pesawat pertama yang dibuat di bawah perusahaan ini adalah S-29A (A untuk Amerika). Ini adalah pesawat bermesin ganda yang seluruh bodinya terbuat dari metal dan mampu mengangkut 14 penumpang.

Pesawat tersebut dibuat sepenuhnya dengan tangan di sebuah peternakan ayam milik rekannya sesama imigran dari Rusia. Sebagian besar suku cadangnya adalah hasil menjelajah tempat-tempat penimbunan barang bekas.

Pesawat itu akhirnya bisa terbang perdana pada 25 September 1924 setelah melalui perjuangan panjang. Salah satu kunci sukses Sikorsky waktu itu adalah bantuan dari komposer musik besar Rusia, Sergei Rachmaninoff, yang juga hijrah ke AS. Rachmaninoff, yang tak sengaja melewati peternakan tempat Sikorsky merakit S-29A, kagum dengan hasil karya rekan sebangsanya itu.

Ia pun menuliskan cek senilai 5.000 dollar AS (yang setara dengan 100.000 dollar AS saat ini) kepada Sikorsky untuk meneruskan proyek itu. Perkenalan itu menjadi awal persahabatan dua orang besar ini.

Memasuki akhir dekade 1920-an, minat Sikorsky bergeser pada pesawat-pesawat amfibi. Ia membuat pesawat amfibi pertamanya, S-34, pada tahun 1926. Pesawat itu kemudian dikembangkan menjadi S-38 yang mampu mengangkut 8 penumpang dan menarik minat maskapai penerbangan Pan American Airways (PanAm). PanAm kemudian membuka rute baru ke Amerika Tengah dan Amerika Selatan dengan pesawat itu.

Tahun 1929, kesuksesan Sikorsky dilirik oleh perusahaan United Aircraft and Transport Corporation Inc yang kemudian mengakuisisinya. Sikorsky kemudian berada di bawah United hingga awal November 2015.

Dengan suntikan modal besar ini, Sikorsky melanjutkan produksi pesawat-pesawat amfibi, termasuk pesawat legendarisnya, The Flying Clipper (S-40), pada tahun 1931. Pesawat ini kemudian dikembangkan menjadi S-42 yang mampu terbang melintasi Samudra Atlantik dan Pasifik, serta memperluas sayap PanAm ke seluruh dunia.

Dengan ketersediaan modal yang kini melimpah dan tingkat kematangan pengetahuan yang makin tinggi, Igor Sikorsky pada 1938 memutuskan kembali ke cinta pertamanya, yakni helikopter. Ia pun mulai menggambar desain, merakit, dan akhirnya menerbangkan sendiri helikopter perdananya, VS-300.

Warisan nilai
Merespons pertanyaan Kompas melalui bagian komunikasi perusahaan Sikorsky, putra Sikorsky, Sergei Sikorsky, mengenang ayahnya sebagai seorang pilot yang hebat. Ayahnya bahkan mampu menilai kemampuan terbang sebuah pesawat hanya dengan melihatnya dari luar.

“Saat terbang dengannya, saya terkesan dengan kemampuannya menguasai pesawat hanya dalam hitungan menit. Saat ditanya, dia dengan kalem menjawab bahwa ia menguji terbang sendiri seluruh pesawat buatannya sejak 1910 sampai 1930-an, dan menerbangkan sendiri helikopter VS-300 dari tahun 1939 sampai 1943,” ujar Sergei dalam surat elektronik, 5 Desember 2015.

Shane G Eddy menambahkan, salah satu warisan abadi Igor Sikorsky terhadap perusahaannya adalah keyakinan mendalamnya bahwa helikopter memiliki kemampuan untuk menyelamatkan nyawa orang. “Saat ini, kamilah yang meneruskan visi itu dan kami memahami serta menerima tanggung jawab berat untuk terus memproduksi pesawat yang aman dan bisa diandalkan,” tutur Eddy kepada Kompas.

Menurut dia, setiap hari di dunia ini, ada helikopter Sikorsky yang sedangdan siap menolong korban bencana alam atau membawa orang-orang sakit atau terluka ke rumah sakit. “Itulah realitas yang telah diwujudkan Igor dan kami merasa beruntung hari ini untuk bisa meneruskan (visi) itu,” ujar Eddy.(DHF)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Desember 2015, di halaman 25 dengan judul “Mimpi, Visi, dan Etos Kerja”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: