Siklus Hama Berubah

- Editor

Minggu, 16 Januari 2011

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anomali iklim saat ini menyebabkan siklus hama dan penyakit tanaman berubah. Jika sebelumnya pergantian musim memutuskan siklus hama, kini dengan anomali cuaca siklus hama tidak terputus atau berlanjut sepanjang tahun.

Ancaman krisis pangan pada tahun berikutnya patut diwaspadai oleh fenomena ini yang bisa mengakibatkan pandemi hama yang menyebar ke mana-mana.

”Bisa dilihat sekarang ada pohon mangga yang sedang berbuah, tetapi akhir-akhir ini kembali berbunga. Masyarakat awam melihat hal ini menguntungkan, tetapi sesungguhnya membahayakan,” kata Teguh Triono, ahli taksonomi pada Herbarium Bogoriense Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jumat (14/1) di Jakarta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebetulnya, hal tersebut bisa berlangsung tidak hanya pada tanaman mangga saja. Hal yang membahayakan, menurut Teguh, adalah siklus hama dan penyakit menjadi tidak terputus.

Dengan kondisi siklus hama dan penyakit yang tidak terputus, dikhawatirkan pada tahun berikutnya di antara berbagai jenis hama dan penyakit tanaman itu akan mewabah di mana-mana.

Kepala Pusat Kajian Buah-buahan Tropika Institut Pertanian Bogor (IPB) Sobir mengatakan, saat ini terjadi anomali iklim. Dengan kondisi tropika tanpa anomali seperti sekarang pun, siklus hama dan penyakit tertentu bisa terus berlanjut sepanjang tahun, dipengaruhi kelembaban yang tinggi.

”Dalam keadaan sesuai pola normal, proses keberlanjutan siklus hama dan penyakit tanaman bisa terus berlangsung dengan cara berpindah inang,” kata Sobir.

Masalah lain dari fenomena satu kali periode berbuah terdapat dua kali masa berbunga, menurut Sobir, juga menurunkan kualitas buah. Ini karena pohonnya membagi kemampuan antara menumbuhkan bunga dan buah dalam waktu bersamaan.

”Kondisi ini jelas sebagai dampak perubahan iklim yang terbukti mengganggu produktivitas tanaman,” kata Sobir.

Indikator perubahan iklim

Teguh mengatakan, saat ini sedang mengembangkan riset pemantauan flora dan fauna sebagai indikator perubahan iklim. Seperti berbagai jenis serangga, ternyata juga terpengaruh oleh perubahan iklim yang meningkatkan suhu.

”Ketika suhu berubah satu derajat celsius saja, ternyata berdampak pada perubahan ukuran tubuh beberapa serangga,” kata Teguh.

Iklim yang memungkinkan hujan terjadi sepanjang tahun, diakui Teguh, memang sangat berdampak pada produktivitas tanaman. Seperti di Kalimantan, setiap awal tahun akan mudah dijumpai buah durian, tetapi awal tahun ini hampir tidak ada.

”Dampak perubahan iklim yang merugikan harus diantisipasi sehingga pada tahun-tahun berikutnya bisa dicegah kejadian yang tidak diinginkan,” kata Teguh.

Sobir mengatakan, terdapat peluang dari pohon-pohon buah yang sekarang tidak produktif akan menyimpan energinya. Jika tidak terjadi lagi anomali iklim dan tidak diserang hama dan penyakit, pada musim berikutnya bisa sangat produktif. (NAW)

Sumber: Kompas,Sabtu, 15 Januari 2011 | 03:45 WIB

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 17 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB