Home / Berita / Siklon Tropis, Ancaman Baru Indonesia

Siklon Tropis, Ancaman Baru Indonesia

Siklon tropis diprediksi bakal sering terjadi di wilayah perairan Indonesia. Karena itu, siklon menjadi ancaman baru yang mesti dimasukkan dalam sistem peringatan dini untuk mengurangi risiko bencana bagi masyarakat.

Siklon tropis telah berulang terjadi di Indonesia dan potensi kemunculannya meningkat seiring pemanasan global. Oleh karena itu, Indonesia harus menambahkan siklon sebagai ancaman baru agar bisa dikelola dan dikurangi risikonya. Untuk perairan selatan di Indonesia, siklon tropis yang merusak umumnya terjadi pada April.

”Sebelumnya kita cenderung menafikan ancaman siklon tropis karena secara teoritis wilayah Indonesia seharusnya aman dari bencana ini. Namun, dari kasus siklon Seroja, kita harus menerima kenyataan siklon tropis bisa terbentuk atau melintasi wilayah Indonesia,” kata peneliti klimatologi Lembaga Penerbangan dan Antrariksa Nasional (Lapan), Erma Yulihastin, di Jakarta, Rabu (7/4/2021).

Menurut Erma, sesuai dengan efek Corialis, siklon tropis seharusnya tidak bisa muncul atau melintas di wilayah khatulistiwa, dan baru terjadi di garis lintang tinggi, umumnya di atas 10 hingga 15 derajat. Namun, studi klimatologis yang dilakukan Lapan di perairan selatan wilayah Indonesia tahun 1980-2018 menemukan bibit siklon yang menguat menjadi siklon tropis berulang kali terjadi.

”Beberapa kali siklon tropis muncul di wilayah Indonesia, 5-10 derajat Lintang Selatan, ini terutama di perairan Timor hingga laut Arafuru. Bahkan, pada 2001 muncul siklon Vemei di lintang nol derajat,” katanya.

Pada umumnya, siklon di perairan Timor hingga Laut Arafuru ini terjadi pada April. ”Jadi, kalau melihat distribusi bulannya, selama April ini peluang munculnya siklon tropis di wilayah sekitar Nusa Tenggara Timur masih ada, bahkan potensinya bisa sampai Mei,” ujarnya.

Peneliti iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang juga Dewan Penasihat Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), Siswanto, mengatakakan, Nusa Tenggara Timur (NTT) telah berulang kali terdampak siklon tropis, tetaapi sebelumnya kurang mendapat perhatian. Ancaman siklon tropis bakal semakin tinggi seiring tren pemanasan global.

Sebagai contoh, pada 2 April 2003 pernah terjadi siklon Inigo yang terbentuk di Selat Ombai, antara Pulau Alor dan Pulau Timor, yang menyebabkan banjir di beberapa wilayah di Flores dan menewaskan sedikitnya 30 orang di Ende, Larantuka, Ngada, dan Sikka. ”Tahun 1973 juga ada siklon tropis yang memicu bencana besar di Flores dan sekitarnya, dikenal sebagai Flores Death Cylcone,” kata Siswanto.

Penelusuran arsip di Kompas menunjukkan, angin topan dan banjir dahsyat pernah melanda Flores dan sekitarnya pada 28 April dan 29 April 1973. Kerusakan parah dan korban terutama terjadi di Kabupaten Ende, Sikka, Maumere, dan pulau-pulau kecil di sebelah utara Pulau Flores, seperti Palue, Permana, dan Permaan. Disebutkan, sedikitnya 1.500 orang meninggal dunia dan 1.300 rumah di Pulau Palue atau sekitar 80 persen jumlah rumah di sana hancur.

Peringatan dini
Siswanto mengatakan, belajar dari sejumlah kejadian ini, tata kelola air dan pembangunan infrastruktur, khususnya di pesisir selatan Indonesia, mesti memperhitungkan ancaman siklon tropis. ”Tidak hanya anacman hujan ekstrem yang bisa memicu banjir bandang, tetapi juga angin kencang,” ujarnya.

Selain itu, perlu penguatan sistem peringatan dini siklon tropis. Selama ini, Indonesia baru memiliki sistem peringatan dini tsunami (InaTEWS) yang terintegrasi antarlembaga. ”Untuk siklon tropis memang sudah ada peringatan yang dikeluarkan BMKG. Misalnya, sehari sebelum terbentuknya sikloin Seroja sudah ada peringatan, tetapi belum sampai teknis evakuasinya,” katanya.

Berbeda dengan Filipina, Jepang, atau Vietnam yang menjadi pelintasan siklon tropis sehingga peringatan dini bisa disampaikan beberapa hari sebelum siklon tiba, posisi Indonesia berada di dekat bibir siklon. Ini menyebabkan jeda waktu untuk evakuasi menjadi lebih sempit. Proses evakuasi harus dilakukan lebih dini karena biasanya hujan ekstremnya sudah terjadi menjelang menjadi siklon tropis.

Erma menegaskan, mitigasi dan adaptasi terhadap siklon tropis harus masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). ”Dalam RPJMN hingga 2024, perubahan iklim sudah dimasukkan, tetapi ancaman siklon tropis belum ada secara eksplisit. Ke depan, soal siklon tropis ini sudah harus masuk,” katanya.

Seroja menjauh
Sementara itu, dari pantau Pusat Peringatan Siklon Tropis-BMKG, posisi siklon Seroja pada Rabu siang berada sudah di koordinat 14 Lintang Selatan dan 116,8 Bujur Timur, sekitar 610 km sebelah selatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Siklon ini bergerak ke barat daya dengan kecepatan 16 knot atau 30 km per jam, menjauhi wilayah Indonesia. Sementara kecepatan angin maksimumnya mencapai 35 knot atau 65 km per jam.

Diprediksi pada Kamis (8/4/2021) siang, siklon ini akan berada di koordinat 16,5 LS dan 113,6 BT, sekitar 950 km sebelah selatan barat daya Mataram. Pada saat itu, kecepatan anginnya akan bertambah menjadi 50 knot atau 95 km per jam.

Dengan pergerakan ini, BMKG memperingatkan, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang masih bisa terjadi di wilayah Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Di NTT masih berpeluang hujan intensitas sedang. Gelombang laut dengan tinggi 4-6 meter berpeluang terjadi di perairan selatan NTB hingga selatan Pulau Sumba, Samudra Hindia selatan NTB, hingga selatan Pulau Sumba.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulanagn Bencana (BNPB) Raditya Jati mengatakan, jumlah korban jiwa yang ditemukan akibat banjir dan longsor di NTT mencapai 124 orang dan 74 orang hilang. Sebanyak 688 rumah rusak berat, 272 rumah rusak sedang, serta 154 rumah rusak ringan, dan pengungsi mencapai 13.230 orang. Selain itu, 87 fasilitas umum terdampak bencana banjir bandang, di mana 24 di antaranya rusak berat.

Raditya mengatakan, hingga saat ini sejumlah wilayah belum dapat diakses sepenuhnya, yaitu di Kabupaten Malaka, Kabupaten Flores Timur, dan Kabupaten Lembata. Di Malaka, akses terhalang longsor, sedangkan di Lembata dan beberapa pulau di Flores Timur terhambat ombak tinggi.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 8 April 2021

Share
%d blogger menyukai ini: