Home / Berita / Setengah Abad Kita Abai

Setengah Abad Kita Abai

Empat Dekade Terakhir, Jumlah Titik Api Meningkat dan Memakan Korban Jiwa
Empat puluh delapan tahun silam, 2 November 1967, harian ini memberitakan, ”Palembang Diselimuti Kabut Tebal”. Kini, setelah hampir setengah abad, bencana asap itu masih saja terjadi, bahkan kian meluas di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Kita seakan tak pernah belajar, bahkan cenderung abai.

Lahan yang terbakar pada 2015, berdasarkan data dari laman http://sipongi.menlhk.go.id milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang diakses pada Minggu (13/9), terdata ada di 12 provinsi.

Lahan terbakar terluas berada di Riau, mencapai 2.025,42 hektar (ha). Provinsi dengan luas lahan terbakar signifikan lainnya ialah Kalimantan Barat (900,20 ha), Kalimantan Tengah (655,78 ha), Jawa Tengah (247,73 ha), Jawa Barat (231,85 ha), Kalimantan Selatan (185,70 ha), Sumatera Utara (146 ha), Sumatera Selatan (101,57), dan Jambi (92,50 ha).

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho melaporkan, kemarin, jumlah titik panas di Sumatera mencapai 944 titik dan di Kalimantan 222 titik. Kebakaran hutan dan lahan pun diperkirakan masih terus berlangsung, bahkan hingga ke taman nasional.

Berulang dan meluas
Berdasarkan pemetaan yang dilakukan Kompas dari pemberitaan sejak 1960-an hingga saat ini, kebakaran terjadi berulang, bahkan terlihat ada peningkatan jumlah titik api dalam empat dekade ini.

Rekapitulasi luas kebakaran hutan per provinsi di Indonesia tahun 2010-2015 dalam situs Kementerian Lingkungan Hidup juga menunjukkan hal itu. Dibandingkan tahun 2010, luas lahan terbakar meningkat puluhan kali lipat. Di Jambi, contohnya, di tahun 2010, lahan terbakar hanya 2,5 ha. Tahun 2014 meningkat menjadi 3.470 ha.

Sumber lain menyebutkan, kebakaran di Jambi dalam satu bulan terakhir telah menyebar ke areal seluas 40.000 ha. Sebanyak 33.000 ha di antaranya merupakan kebakaran gambut yang masih terus meluas.

Sementara itu, di Kalimantan Tengah, tahun ini, berdasarkan data pemadaman kebakaran BPBD kabupaten/kota se-Kalimantan Tengah, luas lahan terbakar sejak Januari hingga 10 September mencapai 940,9 ha. Pada 2014, kebakaran lahan menghanguskan 4.022 ha.

Kerugian sangat besar
Kerugian yang ditimbulkan dari bencana ini sangat besar. Kerugian yang terjadi akibat bencana asap itu tidak hanya materi yang tak terhitung nilainya, tetapi juga kerusakan lingkungan dan menurunnya kualitas kesehatan masyarakat. Bencana asap itu bahkan telah merenggut korban jiwa gadis kecil tunas bangsa akibat terpapar asap pekat yang terjadi di Pekanbaru, Kamis pekan lalu. Belum lagi puluhan ribu orang di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) karena terpapar asap.

Total nilai kerugian akibat bencana asap di tahun 2015 belum bisa dihitung. Namun, berdasarkan data BNPB, kerugian akibat kebakaran di Indonesia yang terbesar terjadi pada tahun 1997, yaitu mencapai 2,45 miliar dollar AS.

Saat ini, di Jambi saja, kerugian diperkirakan Rp 2,6 triliun akibat pencemaran udara yang timbul oleh kabut asap, dampak ekologis, ekonomi, kerusakan tidak ternilai, dan biaya pemulihan lingkungan. Nilai kerugian itu belum termasuk kerugian sektor ekonomi, pariwisata, dan potensi yang hilang dari lumpuhnya penerbangan.

Kerugian yang terjadi di Provinsi Riau akibat kabut asap juga tidak ternilai. Luas lahan yang terbakar saat ini sudah mencapai 3.200 ha. Tahun 2014, luas areal yang terbakar lebih dari 60.000 ha dan penderita ISPA lebih dari 60.000 orang. Lebih dari sepekan, anak sekolah di Pekanbaru, Pelalawan, Bengkalis, Kuantan Singingi, dan Indragiri Hulu diliburkan.

Menurut Kepala BNPB Willem Rampangilei, kerugian akibat kebakaran lahan dan hutan serta bencana asap di Riau tahun 2014, berdasarkan kajian Bank Dunia, mencapai Rp 20 triliun.

Pemerintah dinilai para ahli, pemerhati lingkungan, dan masyarakat abai dalam penanganan bencana asap yang terjadi selama bertahun-tahun. Pemerintah telah melakukan pembiaran terhadap perusakan ekosistem lahan gambut secara masif sehingga mudah memicu kebakaran lahan dan hutan.

c1817af74cc44833b59ddbb6c5d95942KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO–Kendaraan melewati jalan yang diselimuti kabut asap di Jalan Jenderal Sudirman, Palembang, Sabtu (12/9), pukul 05.36. Meskipun upaya pemadaman terus dilakukan oleh pemerintah, masalah kabut asap dan kebakaran lahan serta hutan di Sumatera Selatan tak juga terselesaikan.

Para ahli dan aktivis lingkungan menilai akar masalah dari kebakaran lahan di Sumsel adalah kerusakan ekosistem lahan gambut. Sumsel memiliki 1,4 juta ha lahan gambut dengan kedalaman 2-8 meter.

Kebakaran terjadi karena masifnya alih fungsi di lahan yang sangat mudah terbakar. Pemicu kebakaran ini adalah karena keringnya lahan gambut setelah alih fungsi lahan. Dalam proses alih fungsi, lahan gambut itu selalu disertai pengeringan lewat pembuatan kanal-kanal. Ahli hidrologi dari Universitas Sriwijaya, Momon Sodik Imanuddin, mengatakan, akar dari kebakaran lahan gambut di Sumsel adalah adanya pengeringan berlebih dan tidak terkendali tersebut.

Menurut Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel Hadi Jatmiko, saat ini kurang dari 10 persen lahan gambut di Sumsel masih dalam kondisi baik. Sekitar 800.000 ha lahan gambut Sumsel sudah dibebani izin dan konsesi perusahaan.

707f54e499c94b6a9666b5c65b7a6dbeCatatan Walhi Sumsel, pemberian izin penggunaan lahan gambut yang masif terjadi sejak 1997. Tahun 1994, luas kebun sawit di Sumsel baru 50.120 ha. Namun, tahun 2015, luas areal kebun sawit sudah 827.212 ha. Adapun untuk izin hutan tanaman industri dan hak pengusahaan hutan mencapai luas 1,8 juta ha.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi Budidaya mengatakan, sejauh ini belum ada tindakan tegas kepada para pemilik kebun yang lahannya terus terbakar. Pada kebakaran tahun 2013 dan 2014, tidak ada sanksi apa pun bagi pemegang izin yang lahannya terbakar.

Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, karena adanya pembiaran dan penegakan hukum yang lemah, pelanggaran terus terjadi. Ini berbeda dengan Malaysia. Perkebunan di negeri jiran itu juga banyak menggunakan lahan gambut, tetapi tidak ada kasus pembakaran lahan yang mengakibatkan bencana asap. (IRE/ITA/SAH/DKA/JOG/ZAK)
—————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 September 2015, di halaman 1 dengan judul “Setengah Abad Kita Abai”.
———
Cukuplah Anak Saya yang Jadi Korban…

Muhanum Angriawati (12), kini, berbaring di peristirahatan terakhirnya. Tidak ada yang menyangka, gadis kecil yang duduk di kelas VI SD Negeri 171 Kulim, Tenayan Raya, Pekanbaru, itu begitu cepat pergi menghadap Sang Khalik.

1d0486297d7a4ef98b108c2766ed8770Putri bungsu Mukhlis SM (40) itu mengembuskan napas terakhirnya, Kamis (10/9), di Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad, Pekanbaru. Mukhlis menceritakan, selama ini Hanum, demikian panggilan akrab Muhanum, tidak pernah sakit-sakitan. Namun, dua pekan lalu, putrinya terkena demam dan batuk-batuk seiring munculnya kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru.

”Setelah demam dan batuk selama sepekan tidak sembuh juga, saya membawa anak saya ke RSUD. Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung menyatakan harus dirawat. Padahal, dalam perjalanan ke rumah sakit di atas sepeda motor, Hanum masih bercanda. ”Pagi itu kabut asap sangat tebal dan jarak pandang hanya beberapa ratus meter,” ujar Mukhlis.

Di ruang unit gawat darurat, kata Mukhlis, dokter langsung memasang selang pernapasan ke mulut anaknya. Karena dirasakan mengganggu, selang itu dilepaskan Hanum. Napas Hanum semakin payah. Ia kemudian mendapat perawatan dengan sebuah alat seperti vakum, tetapi lagi-lagi Hanum meronta.

27a2f9027b8741d79a161ad6097e6868Setelah dirawat sehari, kondisi Hanum terus memburuk sehingga dipindahkan ke ruang unit perawatan intensif (ICU). Kesadarannya hilang. Tak ada komunikasi lagi dengan dokter atau orangtuanya yang terus berjaga di rumah sakit mendampinginya. ”Sebelum hilang kesadaran, dia mengigau,” kata Mukhlis yang bekerja di sebuah media di Pekanbaru dengan nada lirih.

Hari keempat, kesadaran Hanum sempat kembali. Tubuhnya mulai merespons sentuhan. Ketika dipanggil ”Hanum”, ia membuka mata. Ketika badannya dipegang, ia pun masih sempat menggeliat.

Namun, pada hari kelima, kondisi kesehatan gadis mungil itu kembali melorot. Hanum kembali tidak sadarkan diri. Napasnya terasa berat dan matanya mengeluarkan air. ”Saya pegang tangannya, tapi tidak ada lagi respons. Saya berdoa kepada Allah SWT agar menjaga anak saya. Namun, Ia berkehendak lain,” ujar Mukhlis dengan nada tercekat.

Gagal napas
Menurut dokter yang merawat anaknya, kata Mukhlis, Hanum mengalami gagal napas. Batuk pilek selama lebih dari sepekan membuat lendir menutupi paru-parunya.

Ditambah lagi, Hanum tidak dapat membuang dahak sehingga penumpukan lendir semakin banyak. Karena tidak mendapat pasokan oksigen, paru-paru Hanum tidak dapat bekerja lagi.

”Saya ikhlas melepas anak saya, tetapi saya memohon kepada pemerintah agar menghentikan bencana asap ini. Cukuplah anak saya yang menjadi korban,” ungkap Mukhlis.

Bencana asap yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan ini sungguh membawa penderitaan banyak warga, bahkan telah mencabut nyawa warga.

Gabriel, bayi yang baru lahir pada 24 April 2015 dari pasangan Pransisco (23) dan Yona (23), pun harus merasakan penderitaan itu. Dia terpaksa menghirup kabut asap yang dua pekan terakhir menyelimuti Kota Palangkaraya.

Gabriel harus tidur dengan infus di tangan. Napasnya sesekali terdengar sesak dan diselingi batuk. ”Sudah empat hari ini Gabriel batuk dan pilek. Asapnya tebal sekali sampai masuk rumah,” kata Pransisco yang berjaga di samping anaknya, di Kamar F7, Bangsal Flamboyant, RSUD dr Doris Sylvanus, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Jumat (11/9).

Selain batuk dan pilek, Gabriel juga demam hingga 37,3 derajat celsius. Yona mengatakan, sejak lahir, baru kali ini Gabriel sakit hingga harus dirawat inap di rumah sakit. ”Sore dan malam hari selalu menangis karena sesak dan batuk terus,” katanya.

Pransisco berharap kabut asap bisa segera lenyap dan anaknya bisa sehat kembali. Sebab, jika tidak, beban biaya yang harus ditanggung besar. Paling tidak mereka sudah harus mengeluarkan biaya Rp 1,3 juta.

Rumah sakit itu, sejak Januari hingga Agustus 2015, sudah melayani 90 pasien infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang harus rawat inap dan 847 pasien ISPA yang rawat jalan.

Di ruang tunggu dekat loket obat, puluhan orang tampak duduk menunggu giliran mendapatkan obat dan sebagian besar mengenakan masker.

Di salah satu bangku tampak satu keluarga bermasker dan sedang menunggu panggilan dari loket obat. ”Saya mengantar istri berobat karena sesak napas,” kata Jeki (32) sambil menimang Azkia (2) anaknya.

Kepala Bidang Diklat SDM dan Humas RSUD dr Doris Sylvanus, Theodorus Sapta Atmadja, mengatakan, peningkatan jumlah pasien ISPA terjadi sejak tiga bulan terakhir. Angkanya diperkirakan akan meningkat lagi pada September karena asap semakin pekat.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah telah menetapkan status tanggap darurat. Pemerintah bersama TNI/Polri masih berupaya memadamkan kebakaran. Badan Nasional Penanggulangan Bencana telah mengirim tiga helikopter pengebom air, tetapi kabut asap masih terjadi. Semua organisasi keagamaan ataupun sosial melakukan berbagai upaya untuk memohon hujan dan aktivitas pemadaman.

Semuanya berharap bencana asap ini segera berakhir. (SYAHNAN RANGKUTI DAN MEGANDIKA WICAKSONO)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 September 2015, di halaman 1 dengan judul “Cukuplah Anak Saya yang Jadi Korban…”.
————-
Kebakaran Lahan Sumsel, Bencana yang Terus Terulang

Kebakaran hutan dan lahan gambut dinilai tidak akan berhenti selama kondisi ekosistem lahan gambut yang saat ini rusak tidak diperbaiki. Selama ini berbagai upaya pemadaman yang dikerahkan belum berhasil menuntaskan kebakaran lahan gambut. Kebakaran masif yang mengakibatkan gangguan asap itu biasanya baru berhenti saat musim hujan tiba.

Kebakaran hutan dan lahan gambut di Sumatera Selatan sudah terjadi sejak sekitar tahun 1967. Sejak 1997, bencana ini terulang tiap tahun selama 17 tahun terakhir. Kebakaran lahan dan gangguan kabut asap pun kian parah selama beberapa tahun ini.

Kebakaran lahan gambut di Sumsel hingga Senin (14/9) masih terus meluas. Di kawasan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumsel, api masih berulang kali muncul dari lahan gambut kendati sudah berulang kali disiram. Api juga menyebar dengan mudah dari satu lokasi ke lainnya. Ratusan hektar lahan di sana terlihat masih mengepulkan asap sisa terbakar. Api di sana belum dapat ditaklukkan sejak dua bulan lalu.

“Sudah sejak Juli saya tugas memadamkan api di daerah sini, tetapi api terus muncul, berpindah, dan menyebar,” kata Gunadi (40), petugas pemadam kebakaran salah satu perusahaan perkebunan sawit yang ada di sana.

Lahan gambut yang terhampar ribuan hektar di kawasan itu terlihat sangat kering. Tanaman yang mendominasi adalah ilalang, sawit, dan kebun karet. Potongan-potongan pohon berukuran besar menandakan kawasan itu dulu berhutan sebelum menjadi lahan terbuka.

Hingga awal September ini, kebun sawit yang terbakar di Sumsel setidaknya sudah 1.700 hektar. Luasan untuk kawasan lain belum terdata tetapi diperkirakan sudah mencapai ribuan hektar. Sebagai gambaran, kebakaran lahan gambut di satu kawasan perusahaan hutan tanaman industri di Kabupaten Ogan Komering Ilir tahun 2014 mencapai 20.000 hektar.

Selain di Ogan Komering Ilir, kebakaran lahan di Sumsel terparah terdapat di hutan produksi Lalan di Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin. Beberapa kawasan gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin berulang kali mengalami kebakaran lahan tiap musim kemarau.

Upaya belum efektif
Setelah mengalami gangguan kabut asap parah pada 2014, tahun ini Pemprov Sumsel sudah melakukan upaya terobosan dengan mencegah kebakaran lahan gambut sejak awal. Status siaga kebakaran ditetapkan Gubernur Alex Noerdin pada Februari 2015 atau jauh sebelum musim kemarau tiba.

Upaya ini diiringi pembasahan lahan gambut dengan penyiraman dengan helikopter (water bombing) dan teknologi modifikasi cuaca (TMC) hujan buatan pada Juni atau saat curah hujan masih ada. Pada akhir 2014, Pemprov Sumsel juga telah menginstruksikan perusahaan-perusahaan yang mengelola lahan gambut membuat sekat kanal (canal blocking) agar gambut tak kering pada musim kemarau.

Namun, berbagai upaya ini belum mampu mencegah terulangnya kembali bencana kebakaran lahan. Kabut asap pun kembali menghantui kehidupan warga Palembang sejak Agustus lalu. Penerbangan terganggu, ekonomi warga terhambat, hingga penyakit akibat paparan asap yang mendera warga. Tak sedikit warga yang tak bisa bekerja karena sakit akibat paparan asap.

Ahli hidrologi dari Universitas Sriwijaya, Momon Sodik Imanuddin, mengatakan, akar dari kebakaran lahan gambut di Sumsel terjadi karena keringnya lahan gambut karena pengeringan berlebih dan tidak terkendali. Hal ini tak lepas dari pemerintah daerah yang begitu mudahnya menerbitkan izin penggunaan lahan tanpa memperhatikan lagi kondisi lingkungan di lapangan.

“Untuk memacu pendapatan asli daerah ini, pemberian izin penggunaan lahan sangat mudah diberikan oleh pemerintah daerah,” katanya.

Saat gambut kering, berbagai upaya pemadaman pun akan sulit dilakukan. Selama beberapa tahun terakhir, kebakaran lahan gambut hanya dapat betul-betul padam saat musim hujan tiba.

Langkah pencegahan dinilai tak akan efektif tanpa ada pembenahan pada ekosistem gambut itu. Salah satunya dengan membuat sekat kanal ataupun pertanian intensif yang dapat dikerjakan dalam bentuk pertanian rakyat. Namun, di lapangan, pembuatan sekat kanal ini masih sangat minim dilakukan.

IRENE SARWINDANINGRUM

Sumber: Kompas Siang | 14 September 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: