Home / Berita / Sepinggan Kian Manjakan Penumpang

Sepinggan Kian Manjakan Penumpang

Pertumbuhan ekonomi yang pesat perlu diimbangi pelayanan transportasi udara yang memadai dan nyaman. Hal ini sungguh disadari Kota Balikpapan. Wajah Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan pun dibenahi lebih optimal.

Kini bandar udara yang sebelumnya bernama Sepinggan itu kian cantik, bersih, nyaman, dan futuristis. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang diantar berkeliling oleh Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak saat meresmikan terminal bandara tersebut, Senin (15/9), mengaku kagum.

”Di samping megah dan indah, saya senang dengan kreativitas dan inovasi putra-putri terbaik bangsa di sini. Kelihatan futuristis, menjangkau ke depan, dan ramah lingkungan. Disatukannya terminal dengan pusat-pusat yang lain, artinya ini bukan hanya airport. Cerdas!” kata Presiden.

Balikpapan boleh berbangga karena konsep bandara ini sudah seperti luar negeri. Dalam gedung berlantai empat, antara lain merupakan terminal kedatangan dan keberangkatan, mal ”disisipkan” di lantai pertama dan kedua. Memang, belum banyak tenant mengisi, tetapi itu hanya soal waktu. Maklum, gedung itu baru dibuka 22 Maret.

Menariknya lagi, Sepinggan terhubung dengan Hotel Hakaya yang terletak persis di sebelahnya. Dari lobi hotel tinggal turun melalui eskalator, lalu jalan. Dengan kata lain, tak perlu keluar hotel untuk masuk bandara.

Satu lagi yang membuat ”iri” bandara lain, pengantar bisa masuk sampai ke dalam terminal. Benar-benar sampai ke dalam karena pengantar bisa melihat yang diantar melakukan check in. Bahkan sampai menjelang masuk ke ruang tunggu keberangkatan.

Gedung terminal baru ini seluas 110.000 meter persegi alias lebih lapang delapan kali lipat dari yang lama (14.547 meter persegi). Kapasitas terminal yang sebelumnya 1,7 juta penumpang kini menjadi 10 juta penumpang per tahun. Benar- benar terasa bedanya. Sebelumnya, saat jam-jam sibuk, terminal seperti ”pasar”. Tidak jarang penumpang keluar lagi karena tidak mendapat kursi atau ”kehabisan lantai” dalam terminal.

Urusan check in pun lebih cepat karena terdapat 76 counter dari sebelumnya 26 counter. Beranjak ke urusan parkir kendaraan, kini, Sepinggan punya gedung parkir lima lantai—dan areal terbuka—yang bisa menampung 2.300 mobil. Bandingkan dengan gedung parkir lama yang hanya muat 473 mobil.

Dulu mobil yang sudah masuk gedung parkir sering keluar lagi karena kehabisan tempat parkir. Sekarang, bebas memilih parkir di lantai mana pun. Terminal baru yang dilengkapi 46 eskalator, 12 lift, 8 travelator, dan 11 garbarata (yang sebelumnya tidak ada) semakin memanjakan.

Konsep hijau
Tambah asyik karena Sepinggan menganut konsep eco building yang menerapkan daur ulang air, penggunaan lampu LED, pemanfaatan sinar matahari untuk pencahayaan, manajemen energi, dan beberapa titik taman. Perokok hanya bisa merokok di beberapa lokasi.

Heri Kurniawan, penumpang, kemarin, celingak-celinguk mencari tempat merokok. Akhirnya ia mendapatkan lokasi khusus yang disediakan untuk perokok, di teras, di luar gedung terminal. Beberapa kali petugas mengingatkan perokok.

”Sepinggan tampilan baru ini benar-benar bagus. Bersih, lapang, tertib, rapi, dan dingin karena AC di mana-mana. Penumpang tidak bertumpuk,” ujarnya.

Kalau toh ada yang masih mengganjal, itu hanya tarif pelayanan jasa penumpang pesawat udara atau airport tax. Untuk penerbangan domestik, tarif itu naik dari Rp 40.000 menjadi Rp 75.000. Sementara tarif penerbangan internasional dari
Rp 100.000 menjadi Rp 200.000. Satu lagi, pengendara sepeda motor makin jauh berjalan dari tempat parkir sampai terminal.

”Tetapi, yah, melihat semua fasilitas itu, dan kemudahannya, kenaikan tarif airport tax memang sebanding. Pelayanan juga bagus. Ketika koper bagasi saya tak ketemu, pekan lalu, petugas dengan cepat mencari dan mengantarkan,” tutur Gabriella (33), warga Balikpapan.

”Konsep Sepinggan ini mengacu bandara di luar negeri, seperti Changi (Singapura) dan Suvarnabhumi (Bangkok), yang memadukan mal dengan airport. Juga bersih dan nyaman. Kami menyamankan penumpang yang ingin belanja atau sekadar ingin melewatkan waktu saat transit,” ujar Asniar dari Humas PT Angkasa Pura Bandara Sepinggan.

Pro dan kontra mengiringi pembangunan bandara yang menelan biaya Rp 2,1 triliun ini meski hanya soal nama. Awalnya diusulkan ”Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman”, tetapi banyak yang menghendaki ”Sepinggan” tidak dihilangkan. Sepinggan yang merupakan nama kelurahan dianggap sederhana dan sudah dikenal. Namun, akhirnya titik temu didapat, yakni tidak menghilangkan kata ”Sepinggan”.

Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Raja Kutai Kartanegara ke-17 yang memerintah pada 1850-1899, dikenal bijaksana dan berwawasan luas. Ketika berkuasa, dia dan wakil pemerintah Hindia Belanda tahun 1873 menandatangani kontrak politik yang disebut Lange Contract. Kontrak itu menyatakan, status pemerintahan di Kutai bersifat otonom.

Sultan ini juga yang memberikan hak konsesi pertambangan minyak kepada Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), perusahaan Belanda di Balikpapan, tahun 1894. Sultan juga memberikan izin pembangunan lapangan terbang. Pada masa raja ini, Kutai Kartanegara memasuki zaman keemasan. ”Sultan Aji Muhammad Sulaiman raja yang berperilaku sederhana, murah hati, dekat dengan rakyat, dan demokratis. Dia juga yang menghapus perbudakan di Kutai,” ujar Awang yang optimistis bandara ini akan menjadi gerbang Kalimantan. (PRA)

Sumber: Kompas, 26 September 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: