Home / Berita / Sengat Karang Jadi Senjata Ampuh Melawan Bintang Laut Mahkota Duri Remaja

Sengat Karang Jadi Senjata Ampuh Melawan Bintang Laut Mahkota Duri Remaja

Hewan karang yang selama ini dikenal pasrah saja saat diserang bintang laut mahkota duri ternyata memberikan perlawanan. Sengatan karang mampu merusak lengan bintang laut.

DIONE DEAKER—-Bintang laut mahkota duri (crown of thorns starfish/CoTS) kecil berusia remaja yang berukuran sekitar 15 milimeter mundur setelah disengat polip.

Serangan bintang laut mahkota duri yang biasanya berkelompok acap kali menimbulkan kerusakan sangat besar dan signifikan pada koloni karang di berbagai ekosistem terumbu karang. Bintang laut pemakan karang yang menyedot polip karang sehingga hanya menyiasakan kerangkanya saja membuat kerugian sangat besar dalam keseimbangan ekologi ekosistem yang rapuh itu.

Penelitian terbaru dari para ilmuwan di Universitas Sydney yang dipublikasikan dalam laman internetnya, 5 Mei 2021, menemukan bahwa karang ternyata tidak pasrah begitu saja saat diserang bintang laut mahkota duri (crown of thorns starfish/CoTS). Polip karang memanfaatkan senjata sengatnya untuk mencoba mengusir bintang laut mahkota yang mendekatinya. Namun, hingga kini diketahui sengatnya hanya sakti untuk mengusir bintang laut mahkota duri berukuran kecil atau bintang laut mahkota duri yang masih berusia remaja.

Pada masa remaja tersebut, bintang laut mahkota duri memiliki periode siklus hidup dalam masa peralihan dari pola makan vegetarian alga ke mangsa hwan karang. Saat perubahan pola makan ini membuat para remaja lebih rentan terhadap serangan karang.

Rekaman video menunjukkan ketika bagian organ kaki (semacam tabung kecil di bagian bawah lengan bintang laut yang digunakan untuk pergerakan) bintang laut mahkota duri remaja menjangkau dan menyentuh karang, seluruh lengan melengkung ke belakang untuk menghindari sel penyengat, mekanisme pertahanan karang. Untuk melindungi diri, polip karang memiliki sel penyengat di tentakel penyapu dan jaringan luar yang disebut nematocyst, yang juga digunakan untuk menangkap makanan.

THE NATURE CONSERVANCY—Foto atas, bintang laut mahkota duri (CoTS) sedang menghabisi karang meja. Foto bawah menunjukkan lebih jelas serangan itu.

Pertemuan ini merusak lengan mahkota remaja bintang laut mahkota duri sehingga menunda pertumbuhannya hingga dewasa. Para peneliti juga melihat tingkat kematian 10 persen di antara remaja mahkota bintang laut mahkota duri yang mereka pelajari. Namun, sebagian besar remaja yang selamat dari kerusakan lengan mampu meregenerasi sebagian lengan yang hilang/rusak akibat sengatan itu.

Penelitian yang diterbitkan dalam Marine Ecology Progress Series ini dipimpin oleh Dione Deaker, mahasiswa doktoral di Universitas Sydney dengan bimbingan Prof Maria Byrne. Para ilmuwan kelautan menyatakan kajian ini merupakan studi pertama tentang cedera dan regenerasi pada remaja mahkota bintang laut duri setelah kerusakan yang disebabkan oleh musuh alami.

Para peneliti menekankan bahwa hasil riset tersebut memberikan wawasan menarik tentang perilaku karang. Hanya saja, catatan pentingnya, perilaku tersebut tidak cukup untuk melindunginya dari ancaman lain, seperti perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia, penangkapan ikan yang berlebihan dan merusak, dan pencemaran air.

Deaker mengatakan, periode ketika bintang laut mahkota duri beralih dari pola makan vegetarian ke makan karang, yang merupakan hewan, adalah periode kritis. Pasalnya, bintang laut mahkota duri muda yang bertahan hidup berpotensi menyumbang wabah populasi yang dapat merusak terumbu karang dan terumbu karang tropis.

Penelitian sebelumnya yang dipimpin oleh Deaker dan Prof Byrne menunjukkan bintang laut remaja dapat bertahan hidup dengan alga selama lebih dari enam tahun ketika mereka sebelumnya dianggap mengubah pola makan pada usia empat bulan. Ahli biologi kelautan telah melaporkan melihat bintang laut remaja yang terluka dan menyebutkan hal itu mungkin disebabkan oleh predator.

”Namun, melihatnya yang disebabkan oleh karang benar-benar mengejutkan,” kata Deaker. Ini menunjukkan bahwa karang menggunakan sel penyengat sebagai perlindungan untuk menyerang balik dalam upaya memberikan kesempatan melawan predator yang menyerang karang.

DIONE DEAKER—Bintang laut mahkota duri (crown of thorns starfish/CoTS) berusia remaja yang kehilangan lengannya karena disengat polip karang.

Dalam studi tersebut, Deaker dan Prof Byrne, bersama dengan rekan-rekannya di National Marine Science Center, Coffs Harbour, memantau kondisi, pertumbuhan dan kelangsungan hidup 37 bintang laut mahkota duri remaja dalam isolasi dari pemangsa potensial dan membesarkan mereka dengan diet karang selama lebih dari tiga bulan.

Bisa luka parah
Mereka menemukan sengatan karang menyebabkan luka yang sangat mengurangi panjang lengan bintang laut hingga 83 persen. Sebanyak 37,8 persen remaja rusak oleh karang dan empat remaja (10,8 persen) dengan luka parah tidak sembuh dan mati.

Serangan sengatan dari karang juga memperlambat pertumbuhan remaja, memperpanjang waktu yang mereka butuhkan untuk mempertahankan pola makan vegetarian.

Bintang laut muda memiliki respons refleks saat disengat ketika bertemu karang. Lengan mereka mundur dan terpelintir ketika kaki tabung mereka bersentuhan dengan polip karang.

”Kadang-kadang remaja tidak pernah pulih dan mati, tetapi dalam banyak kasus remaja yang terluka pulih dan dapat meregenerasi lengan mereka dalam waktu sekitar empat bulan,” kata Deaker.

Meskipun menjadi mangsa bintang laut mahkota duri, karang berpotensi memengaruhi kelangsungan hidup remaja. Ini bisa menunda transisi bintang laut mahkota duri menjadi dewasa dan bereproduksi yang berpotensi menyebabkan gangguan pada ekosistem terumbu karang.

Berbekal pengamatan tersebut, penelitian menunjukkan bahwa terumbu karang merupakan pilihan makanan yang berisiko bagi anak muda bintang laut mahkota duri. Walaupun kerusakan karang mampu memperlambat pertumbuhan bintang laut remaja, kemampuannya untuk beregenerasi menunjukkan ketahanan predator terumbu ini sebagai spesies yang sangat produktif.

Prof Byrne mengatakan, penelitian ini penting untuk menunjukkan keterputusan antara ukuran dan usia remaja. ”(Hal ini) Memperkuat betapa menantangnya untuk memahami dinamika penambahan populasi saat dewasa,” katanya.

Oleh ICHWAN S

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 6 Mei 2021

Share
%d blogger menyukai ini: