Home / Berita / Sembilan Perguruan Tinggi Indonesia Dianggap Berkontribusi dalam Pembangunan Berkelanjutan

Sembilan Perguruan Tinggi Indonesia Dianggap Berkontribusi dalam Pembangunan Berkelanjutan

Sembilan perguruan tinggi di Indonesia masuk penilaian lembaga global karena perannya dalam pembangunan berkelanjutan. Perguruan tinggi tersebut dianggap unggul dalam memberikan solusi berbagai masalah warga.

Sembilan perguruan tinggi di Indonesia mendapat pengakuan lembaga internasional. Pengakuan kali ini ditujukan kepada lembaga pendidikan yang dianggap mendukung program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDG. Adapun pengakuan itu diwujudkan dalam bentuk pemeringkatan yang diumumkan lembaga riset Times Higher Education (THE) terhadap 767 universitas di 85 negara.

Sembilan perguruan tinggi itu adalah Universitas Indonesia di peringat ke-47, Universitas Gadjah Mada (72), IPB University (77), Universitas Padjajaran (101), Universitas Brawijaya (201), Universitas Diponegoro (301), Institut Teknologi Bandung (301), Universitas Airlangga (301), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (401).

Pelaksana Tugas Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nizam mendorong perguruan tinggi (PT) Indonesia agar semakin banyak yang masuk dalam peringkat global. Hal yang tidak kalah penting adalah mendorong lembaga pendidikan itu berperan dalam memberikan solusi bagi persoalan bangsa.

”Kami selalu mendorong dan memfasilitasi PT melaksanakan tri dharma perguruan tinggi dengan fokus utama pada kemaslahatan masyarakat, bangsa, dan negara. Kami terus mendorong agar seluruh sistem pendidikan kita dapat menjawab tantangan-tantangan pembangunan berkelanjutan,” kata Nizam.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Proses pengemasan cairan pembersih tangan (”hand sanitizer”) sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Fakultas Farmasi, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (18/3/2020).

Salah satu PT yang mendapat peringat dari THE adalah UI yang mendesain sistem pendidikannya untuk mendukung berbagai agenda yang berkaitan dengan empat poin SDGs di atas. Rektor UI Ari Kuncoro mengunggulkan program Usaha Kecil Menengah (UKM) Centre untuk mendukung usaha kalangan menengah dan menengah ke bawah.

Adapun terkait perbaikan kualitas kesehatan masyarakat, UI banyak melibatkan tenaga kesehatan di sejumlah rumah sakit di masa pandemi Covid-19. Pelayanan masyarakat yang terjamin pun diberikan melalui Rumah Sakit UI. Beberapa poin SDGs yang diunggulkan UI meliputi pengentasan warga dari kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, dan perbaikan kesehatan masyarakat.

Sementara itu, THE Impact Rankings 2020 mengategorikan IPB University fokus pada empat isu SDGs, yakni soal kesetaraan jender, penuntasan isu kelaparan, perlindungan ekosistem lingkungan, serta penguatan hubungan dalam SDG.

Merespons pencapaian ini, Rektor IPB University Arif Satria menjelaskan, penilaian THE itu didasarkan dari komponen pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berjalan satu tahun ke belakang. ”Sejumlah fokus isu SDGs itu tertuang dalam Tri Darma Perguruan Tinggi IPB. Kami bersyukur atas torehan prestasi tersebut,” kata Arif melalui pesan tertulis.

Secara detail, IPB University menduduki peringkat 20 besar untuk isu penuntasan kelaparan dan kesetaraan jender. Peringkat tertinggi adalah untuk isu kelaparan, yaitu di posisi ke-11. Arif menjelaskan, peringkat tersebut tidak terlepas dari sejumlah temuan IPB University di bidang pangan, mulai dari benih varietas padi unggul baru IPB3S, pepaya calina, kentang jalaipam, ayam unggul IPB D1, hingga sekolah peternakan untuk rakyat.

Untuk isu kesetaraan jender, Arif menjelaskan, hal tersebut tidak terlepas dari keberadaan pusat studi jender dan anak yang dihadirkan di IPB University. IPB University juga mendukung ekosistem lingkungan melalui sejumlah program. Salah satu kontribusi itu adalah pengelolaan Hutan Pendidikan Gunung Walat di Sukabumi, Jawa Barat. Selain itu, IPB University aktif melakukan kerja sama riset dalam bidang biodiversivitas tropika yang bersinggungan dengan perihal lingkungan serta aspek sosial ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.

Upaya mengejar target SDGs masih menjadi persoalan di Indonesia. Meski telah memasuki tahun kelima, belum banyak inisiatif di daerah-daerah yang muncul untuk memenuhi target SDGs tersebut. Direktur Eksekutif SDGs Center Universitas Padjadjaran Zuzy Anna mengatakan, pemenuhan target SDGs di Indonesia terancam molor hingga tahun 2030 jika tidak disertai dengan upaya yamg tegas.

”Upaya mencapai target SDGs di Indonesia masih berkutat pada perencanaan, konsolidasi, dan komunikasi. Di tahun kelima pada 2020 ini, seharusnya sudah berjalan aksi,” tutur Zusy awal Maret silam.

Zusy menambahkan, banyak aparat pemerintahan yang belum memiliki pemahaman utuh tentang SDGs, apalagi masyarakat awam. Adapun dari 34 provinsi, baru 25 provinsi yang sudah memiliki rencana aksi daerah (RAD) untuk pelaksanaan SDGs. Padahal, SDGs menghendaki semua orang bisa menikmati hasil pembangunan dan kesejahteraan, tanpa satu orang pun yang tertinggal.

Situasi itu menuntut solusi, inovasi, dan penajaman program agar target-target SDGs dapat dicapai pada 2030. Terlebih, program terkait SDGs yang berjalan selama ini belum pernah ada evaluasi langsung. Menurut Zusy, semua kebijakan dan program terkait SDGs perlu disusun berbasis bukti dan data ilmiah, bukan sekadar mengandalkan insting pengambil kebijakan.

Terkait itu, Staf Ahli Menteri Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Amalia Adininggar Widyastuti menjelaskan, sudah ada 15 perguruan tinggi yang mampu membantu penyusunan RAD SDGs di tahun ini. Keterlibatan perguruan tinggi, baik dalam tingkat nasional maupun daerah, merupakan wujud kemitraan multipihak untuk mencapai target SDGs.

Oleh ADITYA DIVERANTA

Editor: ANDY RIZA HIDAYAT

Sumber: Kompas, 23 April 2020

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: