Home / Artikel / Segitiga Virus Korona

Segitiga Virus Korona

Prinsip penyelesaian pandemi ini adalah selesaikan penyebabnya, menghindar dan menyerang dengan disinfektan agar virusnya terputus dan mati tidak menularkan.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA–Pedagang menggelar lapak mereka di depan kawasan pertokoan yang sepi dari aktivitas warga di Jalan Pattimura, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (15/4/2020). Mereka masih berharap ada pembeli meskipun aktivitas jual-beli tidak seramai sebelum pandemi Covid-19.

Virus korona telah meneror dunia empat bulan terakhir. Dunia dilanda ketakutan. Di samping krisis kesehatan, dunia terancam krisis ekonomi terbesar dalam sejarah.

Setelah krisis ekonomi, mudah-mudahan tidak diikuti dengan krisis sosial dan keamanan, sebagaimana yang pernah kita alami pada krisis ekonomi tahun 1998.

Penyebaran
Johns Hopkins University mengungkapkan, virus ini mulai menyebar awal Januari 2020. Dalam 90 hari sampai 4 April 2020, penularannya mencapai satu juta orang positif. Hanya butuh 16 hari di bulan yang sama (April 2020) korbannya bertambah lagi satu juta yang kedua dan hanya butuh delapan hari pada akhir April untuk satu juta yang ketiga.

Kalau ini berjalan terus tanpa intervensi yang besar, angka satu juta berikutnya kemungkinan terjadi kurang dari seminggu. Artinya, minggu pertama bulan Mei 2020 akan menjadi empat juta. Begitu juga data yang meninggal akhir April mencapai 227.000 orang dan akan bertambah sejalan dengan pertambahan jumlah penderita yang positif.

Di Indonesia, sejak diumumkan dua orang tertular pertama pada 2 Maret 2020, hanya dalam waktu dua bulan telah menembus angka lebih dari 10.000 orang. Jika tak disertai disiplin masyarakat untuk berada di rumah dengan aturan dan sanksi tegas, jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, dan tindakan pencegahan lain, dengan pertumbuhan penularan rata-rata 350 orang per hari seperti minggu ini, maka 10.000 positif berikutnya diperkirakan terjadi dalam waktu satu bulan, mencapai 20.000 tertular disertai penambahan angka kematian.

Di antara 200 negara yang terdampak Covid-19, ada negara yang berhasil menurunkan jumlah penderita, ada pula yang meluas. Yang dianggap berhasil ialah China, Korea, Taiwan, Vietnam, dan Selandia Baru. Persamaan dari negara yang berhasil ini adalah kecepatan dan ketegasannya bertindak.

Sejak Januari 2020, dengan cara berbeda, China, Vietnam, dan Selandia Baru melaksanakan lockdown, sedangkan Korea dan Taiwan tanpa lockdown. Korea Selatan menempatkan sampai 60 unit alat tes laboratorium di tiap kota besar. Pergerakan orang dipantau melalui TI, orang yang keluar rumah diharuskan memakai masker. Taiwan, sejak Desember 2019, telah melakukan persiapan, berkat laporan intelijen mereka di Wuhan.

Yang menjadi perhatian kenapa negara maju yang sistem kesehatan dengan tingkat kehidupan lebih baik seperti AS, Inggris, Italia, Spanyol, dan Perancis sangat parah penularannya. Persamaannya, mereka terlambat mengantisipasi. Mereka bergerak pada bulan Maret karena percaya diri tak tertular.

Inggris, misalnya, sampai 14 Maret 2020 masih menghelat balapan kuda ditonton lebih dari 10.000 pasang mata. Perdana Menteri Boris Johnson pun menjadi korban selain beberapa elite di sana.

Negara-negara di Benua Biru ini punya cara berbeda untuk menangani penularan Covid-19. Contoh menarik di Skandinavia, tiga negara lockdown, sedangkan satu negara lainnya, Swedia, tidak dan lebih bebas dengan harapan terjadi imun masyarakat. Namun, hasilnya sampai akhir April 2020 Swedia mencatat angka kematian 22 per 100.000 penduduk, justru Denmark hanya 7, Norwegia 5, dan Finlandia 4,5.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI–Mobil gunner Palang Merah Indonesia (PMI) berkeliling menyemprotkan disinfektan untuk mengatasi pandemi Covid-19 saat melewati kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, Senin (20/4/2020).

Seperti Amerika dan negara-negara Eropa yang awalnya kurang serius, Indonesia baru mengambil langkah penting ketika mengumumkan adanya korban pertama, 2 Maret 2020, hampir dua pekan kemudian, 15 Maret 2020, dilakukan penerapan pembatasan sosial dengan mengimbau masyarakat bekerja dari rumah, belajar dan beribadah dari rumah. Disusul pembentukan Gugus Tugas, pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang penerapannya disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing.

PMI sejak Januari sudah menyadari adanya bahaya pandemi ini, karena itu langsung melakukan langkah-langkah persiapan. Pada 5 Februari 2020, PMI mengundang seluruh pimpinan redaksi media melalui Forum Pemred untuk membangun kesadaran bersama serta sosialisasi agar media menyampaikan peringatan ataupun informasi kepada masyarakat akan bahaya pandemi yang akan masuk ke Indonesia.

Pada saat itu, PMI membagikan ”bekal” satu boks masker kepada setiap pemimpin redaksi, sebagai peringatan disertai pesan tegas, ”kelak masker tersebut akan menjadi barang yang paling dibutuhkan”.

Di samping itu, PMI mulai menyiapkan segala kelengkapan, logistik, termasuk tenaga sukarelawan dengan menggandeng prajurit TNI. Membangun gudang logistik dan distribusi dalam tempo tiga hari, menyiapkan armada disinfektan untuk keperluan mitigasi dan pencegahan penyebaran virus. Mencadangkan 2 juta liter bahan disinfektan serta berbagai kebutuhan logistik lain.

Pemerintah sebenarnya juga telah mengambil langkah-langkah pencegahan: menyiapkan banyak rumah sakit untuk mengobati yang terpapar, berikut peralatan kesehatan dan segala perlengkapan yang diperlukan, seperti alat tes, laboratorium, dan alat pelindung diri (APD) untuk paramedis. Jajaran dokter dan paramedis Indonesia telah berjibaku melawan wabah Covid-19 hingga puluhan menemui ajalnya. Kita menghormati jasa-jasa mereka teriring doa agar mendapatkan tempat terhormat di sisi-Nya.

Jurus segitiga
Belajar dari pengalaman China, Korea, dan Taiwan, pilihan langkah-langkahnya adalah, pertama, disiplinkan masyarakat dengan tegas tinggal di rumah, dengan jaga jarak, cuci tangan, pakai masker. Kedua, disinfektan dan sterilisasi seluruh kota. Ketiga, rumah sakit dengan peralatan dan dokter yang baik.

Kalau menggunakan pendekatan militer, karena pandemi ini ibarat perang besar yang musuhnya tak terlihat, maka peran setiap lini dapat dibagi menjadi tiga. Pertama, bertahan. Bagian ini menjadi peran penting dari masyarakat, agar disiplin tinggal di rumah, untuk menghindar dari virus sehingga virus terputus penyebarannya. Asumsinya, karena setiap pergerakan manusia sekaligus akan menjadi pergerakan virus itu sendiri.

Terkait dengan ini, larangan mudik dengan pengawasan yang ketat sangat penting. Apabila virus menular sampai ke perdesaan, penanganannya akan sulit mengingat prasarana kesehatan di perdesaan yang terbatas. Ancaman lain pun akan muncul: desa sebagai basis produksi pertanian akan terganggu sehingga krisis pangan dapat terjadi.

Kedua, menyerang untuk mematikan virus dengan disinfektan. Karena virus tak diketahui keberadaannya, sterilisasi kota dilakukan secara luas di tempat umum, gedung, jalan-jalan, serta perkampungan sebanyak-banyaknya, serta benda-benda yang kerap bersinggungan dengan manusia. Langkah serupa dilakukan China, Korea, dan Taiwan dengan mengerahkan militer secara besar-besaran. Bahkan ada negara yang ekstrem hingga menyemprot badan jalan.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO—Petugas berkoordinasi sebelum melakukan penyemprotan disinfektan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2020). Penyemprotan disinfektan di sekitar mimbar dan ruang utama jemaah masjid itu dikerjakan oleh tim gabungan dari PMI, Kesdam, Gegana, Kodam Jakarta Pusat, hingga dari KAI Daerah Operasi I yang berjumlah sekitar 35 orang.

Khusus PMI mengerahkan sukarelawan bersama TNI-Polri menggunakan perangkat spraying perseorangan menyemprot jauh ke bagian terdalam gedung-gedung perkantoran umum, rumah-rumah ibadah, halte, serta perumahan warga. Bentor (becak motor) dan pick up menyisir jalan-jalan sempit, lorong perkampungan. Gunner (truk) semacam artileri berat untuk menjangkau wilayah yang luas atau jalan-jalan protokol berikut titik strategis yang dilaluinya.

Ketiga, dokter, perawat, dan semua perangkat rumah sakit yang amat kita hargai pengabdiannya akan terpaksa bekerja lebih keras jika masyarakat kurang disiplin dan tanpa sanksi tegas serta upaya disinfeksi maksimal memutus mata rantai virus.

Perhatian pemerintah dan masyarakat untuk pengobatan sangat penting. Namun, untuk menahan dan mengurangi korban, bertahan dan menyerang untuk mematikan serta menghindar sebelum virus menyebar luas akan membantu meringankan tugas medis.

Ekonomi sosial
Upaya bertahan dan menghindar dari virus, dengan harus tinggal di rumah agar membatasi kontak, tentu akan berdampak besar terhadap ekonomi dan sosial banyak negara, termasuk Indonesia. Perkantoran, hotel dan restoran, penerbangan tutup semua, punya efek panjang atau multiplier effect yang negatif.

KOMPAS/RHAMA PURNA JATI—Hotel Santika Palembang yang masih beroperasi walaupun tingkat keterisian hotel hanya sekitar 30 persen, Rabu (8/4/2020). Penurunan ini disebabkan pandemi covid-19.

Daya beli turun bersamaan anjloknya angka produksi. Apalagi ekonomi dengan rantai pasok yang mendunia, semua terdampak bahkan termasuk masjid ikut defisit karena tak adanya jemaah yang mengisi kotak amal.

Karena itu, rentetan krisis kesehatan ini ?akan berlanjut ke tahapan krisis ekonomi? yang terbesar dalam sejarah dunia melebihi resesi 1929. Berat memulihkan dalam waktu singkat karena skalanya luas. Dengan sekitar 200 negara terdampak, mereka akan berjibaku mengurus diri sendiri keluar dari krisis sehingga sulit berharap bantuan negara lain. Institusi yang bisa diharapkan antara lain Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan Dana Moneter Internasional.

Dalam situasi seperti ini, prioritas bantuan seharusnya diarahkan ke masyarakat tak mampu dan korban PHK. Kepada mereka, bantuan langsung tunai (BLT) adalah program paling cepat dan mudah dibandingkan memberi paket dalam kantong. Penyaluran paket berkantong memakan waktu, lebih lambat, lebih mahal karena harus dipaketkan lebih dulu sebelum didistribusikan.

Di sisi lain, belum tentu sesuai kebutuhan penerima manfaat. Buktinya, memunculkan protes beberapa pejabat daerah. Pada saat masyarakat serba sulit, bantuan perlu disederhanakan dan tiba lebih cepat ke tangan penerima manfaat.

Tahun 2005 kita memiliki pengalaman menyalurkan BLT menyusul kenaikan harga BBM hingga 126 persen. Dengan memanfaatkan jaringan luas BRI dan Kantor Pos, ditunjang data lengkap BKKBN, hanya butuh waktu satu bulan untuk menyalurkan BLT sekalipun Bank Dunia mensyaratkan waktu 11 bulan.

Saat ini, kalau 25 persen penduduk Indonesia mengalami kesulitan atau sekitar 67 juta jiwa, sekitar 16 juta kepala keluarga (KK) diberi BLT Rp 1 juta per KK per bulan selama enam bulan, dibutuhkan dana Rp 96 triliun.

KOMPAS/DAHLIA IRAWATI—Desa Pandanlandung, Kecamatan Wagir, Kabuapten Malang, Jawa Timur, Kamis (30/04/2020), mulai mencairkan BLT-dana desa bagi warga terdampak Covid-19. Pencairan BLT-dana desa di desa tersebut menandai pencairan dana desa di Kabupaten Malang mulai bergulir.

Kalau saja pemerintah mengucurkan BLT sekitar Rp 100 triliun, tentu meningkatkan daya beli yang pada akhirnya menggerakkan roda perekonomian dan dana mengalir kembali ke industri perbankan. Sementara usaha UMKM yang kehabisan modal perlu bantuan karena menyangkut pengusaha kecil menengah.

Sebaliknya, membantu para pengusaha, termasuk pengusaha besar yang sebagian pemiliknya saat ini telah mengungsi ke Singapura karena takut virus korona, tak akan efektif selama penyebabnya, yaitu virus korona, tak diselesaikan. Stimulan pajak tentu mengurangi beban, tapi dengan hampir semua usaha mengalami kesulitan, dipastikan penerimaan pajak akan turun drastis.

Kebijakan ekonomi yang diambil harus dengan komitmen tinggi tak akan dilakukan bail-out di perbankan atau semacamnya. Karena melanggar UU Tahun 2016 tentang Penanganan Krisis Keuangan, yang berpotensi manipulatif seperti manipulasi BLBI tahun 1998. Menkeu dan BI telah dengan serius berusaha karena krisis pasti menurunkan penerimaan pemerintah, di lain pihak pengeluaran naik sehingga defisit membesar, ujungnya utang pemerintah akan bertambah.

Prinsip penyelesaian pandemi ini adalah selesaikan penyebabnya, menghindar dan menyerang dengan disinfektan agar virusnya terputus dan mati tidak menularkan. Begitu pentingnya disinfektan, Presiden AS Donald Trump sampai mengusulkan agar pasien disuntik disinfektan.

Tentu ini berbahaya karena disinfektan hanya bermanfaat jika dipakai secara benar pada tempatnya. Selain dengan perawatan maksimal tim dokter serta paramedis. Dengan penyatuan kekuatan segitiga ini, Covid-19 dapat kita kalahkan, sambil menunggu para ahli menemukan obat dan vaksinnya.

(M Jusuf Kalla, Ketua PMI dan DMI)

Sumber: Kompas, 9 Mei 2020

Share
%d blogger menyukai ini: