Home / Berita / Sebelas Jam Menembus ”Jalur Neraka” Jakarta-Bandung

Sebelas Jam Menembus ”Jalur Neraka” Jakarta-Bandung

Nyaris semua hal telah dilakukan Reni Susanti, dosen Universitas Islam Sunan Gunung Djati, Bandung, untuk membunuh waktu dalam perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Reni sempat berdiskusi, mengetik, hingga menonton film. Dia sempat tertidur kemudian terbangun hingga tertidur lagi. Tahun 2018, Jakarta-Bandung pernah ditempuh Reni selama 11 jam.

”Dari 11 jam itu, saya tertidur kira-kira tiga jam tapi tidak nyenyak. Terbangun terus,” ujar Reni, ditemui di pertengahan bulan Desember 2018 di Bandung. Karena ruang geraknya terbatas, tubuhnya hanya bisa berubah tumpuan. Terkadang tubuhnya miring ke kiri, tetapi tidak lama kemudian dimiringkan ke kanan. Terkadang dia duduk tegap, tetapi beberapa menit kemudian tubuhnya agak direbahkan.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO–Kendaraan terjebak macet di ruas Tol Jakarta-Cikampek di kawasan Jaka Setia, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (22/12/2018) siang. Kemacetan tetap terjadi walaupun proyek pembangunan tol layang dan LRT dihentikan sementara. Banyaknya warga Ibu Kota yang hendak menghabiskan libur Natal dan akhir tahun di luar kota secara serentak menjadi penyebabnya. Adanya sejumlah truk yang tetap beroperasi meski sudah ada larangan saat libur akhir tahun ini menambah volume kendaraan di tol.

Tidak mudah bagi Reni untuk mencari posisi duduk yang nyaman karena perjalanannya begitu lama. Sudah begitu, sopir bus yang dinaikinya pun berulang kali mengerem dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Sopir bus tersebut tampaknya sudah lelah sehingga tidak lagi halus saat menginjak pedal kopling dan rem.

”Tadinya, saya mau naik kereta, tetapi tidak ada kursi tersisa,” kata Reni. Kursi kereta Jakarta-Bandung, dengan waktu tempuh maksimal 3,5 jam, kerap habis terjual, apalagi saat akhir pekan. Calon penumpang yang tidak membeli tiket kereta jauh hari sebelum hari-H terkadang harus gigit jari.

KOMPAS/AGUS SUSANTO–Kemacetan di Jalan Tol Cikampek-Jakarta di sepanjang kawasan Pekayon, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (28/11/2018). Kemacetan hampir setiap hari terjadi karena pembangunan Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Layang, kereta ringan Jabodebek, dan kereta cepat Jakarta-Bandung berlangsung bersamaan dan mengambil sebagian lajur sehingga ruas menyempit.

Ketika Tol Purwakarta-Padalarang diresmikan tahun 2005, Jakarta-Bandung sepenuhnya terhubung dengan jalan tol. Jakarta-Bandung pun dapat ditempuh dalam 2,5 jam. Namun, setelah 13 tahun berlalu, jumlah kendaraan terus bertambah. Belum lagi kini terjadi penyempitan lajur tol akibat pembangunan berbagai infrastruktur secara bersamaan di ruas Tol Jakarta-Cikampek.

Pada hari yang naas itu, Reni terjebak kemacetan sejak melintas di jaringan Tol Dalam Kota Jakarta. Bus yang dinaikinya bahkan seolah tidak bergerak saat harus melintasi Tol Jakarta-Cikampek. ”Bawa makan, tapi mau makan rasanya tidak enak. Untung masih bisa ke toilet saat di tempat istirahat meski antre panjang,” ujarnya.

Ketika berada di tengah lautan kendaraan yang nyaris tak bergerak, Reni mengaku membayangkan ngacir dengan sepeda. Dia bertaruh perjalanan dengan sepeda kayuh dapat lebih cepat.

Lebih lambat dari sepeda
Imajinasi Reni mungkin benar adanya. Dengan perjalanan selama 11 jam untuk menempuh jarak 142,3 kilometer, artinya kecepatan rata-rata laju kendaraan yang dinaiki Reni hanya 12,94 kilometer per jam. Jadi, perjalanan Reni dengan bus lebih pelan daripada rata-rata laju pesepeda perempuan Inggris yang direkam aplikasi Amerika Serikat, Strava, dengan kecepatan rata-rata 19,84 kilometer per jam.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Truk-truk terjebak kemacetan di Jalan Tol Jakarta-Cikampek di dekat Pintu Tol Bekasi Barat, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (15/11/2018). Pemerintah berencana melakukan pembatasan waktu melintas bagi truk kelebihan dimensi dan muatan (overdimension overload/ODOL) untuk mengurangi kemacetan selama pembangunan tiga proyek strategis.

Ketika pengalaman pahit di ruas Jakarta-Bandung belum mampu dilupakan oleh Reni, minggu lalu ibunya juga mengalami kejadian serupa. ”Bandung ke Jakarta hingga tujuh jam. Parahnya, AC (penyejuk) mobilnya mati. Semua perbekalan termasuk air minum juga habis. Sambil menahan haus, ibu saya berdoa supaya segera nyampe rest area (tempat istirahat),” ujar Reni.

Perjalanan dari Bandung menuju Jakarta dimulai ibunda Reni pukul 11.00. Terik matahari diimbuhi kabin mobil yang panas akibat matinya penyejuk ruangan menyebabkan sang ibu dehidrasi. ”Ibu cerita, begitu sampai rest area langsung membeli delapan botol air minum. Dua dari delapan botol itu langsung dihabiskan seketika,” kata Reni.

Ibunda Reni juga tidak sekadar kecapaian, tetapi langsung demam tinggi. Sakitnya pun berlanjut hingga beberapa hari kemudian. Reni dan ibunya telah menjadi korban dari ”jalur neraka” Jakarta-Bandung.

Di awal tahun 2019 ini kemacetan di ruas Jakarta-Cikampek mungkin tidak terjadi sepanjang hari. Maklum saja, pembangunan konstruksi tol layang dan kereta cepat dihentikan demi arus kendaraan saat liburan akhir tahun. Namun, tak lama lagi konstruksi segera dimulai.

Tidak lama lagi kemacetan akan kembali menyiksa pelintas Jakarta-Cikampek walau demi terbangunnya infrastruktur transportasi pendukung. Salah satunya adalah pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung.

Mata Reni pun langsung berbinar saat mendengar keberlanjutan pembangunan kereta cepat. Kereta cepat itu didesain dapat melaju antara Jakarta dan Bandung selama 45 menit. ”Sesekali bisa naik kereta cepat kalau ada janji yang harus dipenuhi dengan tepat waktu,” ujar Reni yang bermukim di Cibiru, Bandung, Jawa Barat.

Cibiru berjarak sekitar 6 kilometer dari Stasiun Kereta Cepat Tegalluar di Kabupaten Bandung. Lebih dekat daripada jarak antara Cibiru dan Stasiun Kereta Bandung di Kebon Kawung, yang mencapai 16,5 kilometer.

Reni mengakui, karena bermukim di Cibiru, terkadang tidak mudah naik angkutan umum ke Jakarta. ”Terkadang saya naik bus dengan tujuan Cileunyi atau Garut. Jadi, tidak turun di pusat kota Bandung, tetapi di pinggiran kota. Nah, kereta cepat kalau benar jadi dibikin bisa menjadi alternatif transportasi,” ujarnya.

KOMPAS/ WISNU WIDIANTORO–Presiden Joko Widodo bersama rombongan melihat maket kereta cepat saat peletakan batu pertama megaproyek transportasi massal itu dan pengembangan sentra ekonomi koridor Jakarta-Bandung di Perkebunan Teh Mandalawangi Bagian Maswati di Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (21/1/2016). Proyek kerja sama Indonesia dan China itu untuk meningkatkan efisiensi mobilitas barang dan orang.

Stanlie Andhika, warga Margahayu, Bandung, ikut menanti kehadiran layanan kereta cepat. ”Rumah dan kedai kopi saya lokasinya sekitar 6 kilometer dari Tegalluar. Jadi, perjalanan ke Tegalluar hanya separuh jalan dibandingkan dengan harus ke Stasiun Bandung,” katanya yang sering kali hilir mudik ke Bekasi, rumah orangtuanya.

Meskipun paling lama hanya terjebak macet antara 4 jam dan 5 jam dalam perjalanan Jakarta-Bandung, Stanlie berjanji akan memanfaatkan layanan kereta api cepat. ”Kalau harus bawa kopi, saya pilih naik mobil. Kalau tidak, ya, nanti coba naik kereta cepat,” kata Stanlie, yang dulu menjadi pewarta foto.

Jalan tol tetap macet
Mengapa harus dibangun kereta cepat di ruas Jakarta-Bandung? Peneliti Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri Institut Teknologi Bandung (LAPI ITB), Harun Al-Rasyid Lubis, menegaskan, kereta cepat harus dibangun untuk mengantisipasi pertumbuhan kendaraan. ”Tol Layang Jakarta-Cikampek juga bukan solusi,” ujar Harun.

Harun menegaskan, kalau tol layang sudah jadi, justru Cawang makin macet karena menjadi titik pertemuan ribuan kendaraan roda empat ke atas dari tol layang dan tol nonlayang di pagi hari. Akses keluar-masuk Jakarta dengan demikian berpotensi tetap ”terkunci” di waktu-waktu tertentu.

KOMPAS/ AGUS SUSANTO–Kendaraan melintas di Jalan Tol Cikampek yang bersebelahan dengan proyek pembangunan jalur kereta ringan (LRT) Jabodetabek Cawang-Bekasi Timur di kawasan Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (25/4/2017). Integrasi antarmoda masih perlu dibenahi agar layanan lebih baik.

Pernyataan Harun sejalan dengan tulisan Tom Vanderbilt dalam buku Traffic (2008). Dalam buku itu, Vanderbilt menulis bab tentang ”Why More Roads Lead to More Traffic”. Vanderbilt mengungkapkan fakta bahwa pembangunan lebih banyak jalan justru menarik minat lebih banyak orang untuk naik kendaraan pribadi.

Tanpa disinsentif terhadap pengemudi mobil pribadi, maka Tol Layang Jakarta-Cikampek tidak akan banyak mengurai kemacetan. Meski kemacetan dapat terurai setelah dioperasikannya Tol Layang Jakarta-Cikampek, Harun memprediksi kemacetan kembali terjadi kurang dari 10 tahun.

Rasio antara volume dan kapasitas di Tol Jakarta-Cikampek kini pun telah mencapai 1,4 dari ambang batas 0,8. Direktur Operasi II PT Jasa Marga (Persero) Tbk Subakti Syukur mengatakan, per hari 110.000 kendaraan melintas di Tol Jakarta-Cikampek (Kompas, 1 Agustus 2018).

Ketika Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Layang beroperasi, kepadatan diperkirakan berkurang sampai 40 persen. Rasionya hanya tersisa 0,2 lagi sebelum kembali macet total. Pembangunan jalan tol artinya bukan solusi tunggal bagi upaya memperlancar konektivitas orang ataupun barang antara Jakarta dan Bandung.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO–Pekerja menyelesaikan pembangunan jalur kereta ringan (LRT) rute Cibubur-Cawang di kawasan Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (16/11/2018). Jalur sepanjang 13,7 kilometer ini terus dikebut penyelesaiannya dan akan memiliki lima stasiun. Selain Rute Cawang-Cibubur, pada saat yang bersamaan juga tengah dibangun rute Cawang-Dukuh Atas dan Cawang-Bekasi Timur. Pembangunan ini untuk mengurai kemacetan yang sering terjadi pada jalan-jalan yang menuju Jakarta.

Belajar dari China
Kereta cepat juga dihadirkan karena faktanya tidak mudah mendapatkan kursi kereta Jakarta-Bandung terutama pada jam-jam padat. Apalagi, perjalanan kereta Jakarta-Bandung juga berbagi jalur dengan kereta jarak jauh lainnya, di antaranya menuju Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Penambahan frekuensi kereta jelas akan berhadapan dengan keterbatasan kapasitas jalan rel.

Dengan memaksimalkan daya angkut kereta penumpang PT Kereta Api Indonesia sekalipun, tiap hari hanya mampu diangkut 12.000-an penumpang. Ketika dibandingkan dengan jumlah kendaraan yang melintas di Tol Jakarta-Cikampek, maka baru ada 0,02 persen pelintas yang naik angkutan berbasis rel ke Bandung.

Ketika kapasitas kereta ditambah, apalagi ditawarkan kereta cepat, maka boleh jadi lebih banyak warga yang beralih naik angkutan kereta. ”Sekarang ini juga saat tepat untuk membangun kereta cepat. Kita bisa belajar banyak dari China,” ujar Harun.

PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), kata Harun, memilih lahan di Tegalluar supaya dapat membangun stasiun sekaligus pabrik kereta. ”Jadi, mereka memang mencari lahan yang luas meski jauh dari pusat kota. Apabila pabrik kereta jadi dibuat, kita punya peluang belajar dari China,” tambahnya.

AFP PHOTO/JOHANNES EISELE–Seorang pekerja membersihkan peron di dekat kereta supercepat di stasiun Nanjing Selatan, China, 6 Agustus 2018. China mengoperasikan kereta supercepat dari Beijing ke Hong Kong, September 2018, dan memangkas perjalanan menjadi sekitar sembilan jam.

China memang agresif membangun jaringan kereta cepat. Berdasarkan data dari kantor berita Xinhua, dari tahun 2007 hingga 2017, China membangun rel kereta cepat di China dari nol kilometer menjadi 25.000 kilometer. Artinya, kini 66 persen dari total panjang rel kereta cepat dunia terbangun di China.

Ketika teknologi makin berkembang, ironisnya perkeretaapian di Indonesia seolah berjalan di tempat, bahkan justru mengalami kemunduran. Indikatornya sederhana. Tahun 1920-an, seiring wacana pemindahan ibu kota Hindia Belanda dari Jakarta ke Bandung, laju kereta Jakarta-Bandung dipercepat sehingga waktu tempuhnya hanya 2 jam dan 40 menit.

Sementara kini waktu tempuh perjalanan kereta Jakarta-Bandung yang dioperasikan PT Kereta Api Indonesia mencapai 3 jam dan 20 menit. Akibatnya tidak terlalu unggul dibandingkan dengan waktu perjalanan melalui jalan tol pada jam-jam tidak padat. Apalagi, penumpang tidak harus tiba jauh lebih awal di stasiun untuk mencetak tiket kereta.

Dengan demikian, kata Harun, proyek kereta cepat harus segera dituntaskan. Tentu tidak akan tuntas di tahun 2019 ini, tetapi pekerjaan harus dimulai dan dikebut agar selesai sesuai harapan pada tahun 2021. Tantangan yang ada harus dipecahkan bersama-sama antara investor, kontraktor, dan pemerintah.

–Salah satu proyek penanaman modal asing adalah kereta cepat Jakarta-Bandung.

Kemacetan lalu lintas harus diingat juga menyebabkan kerugian materiil ataupun imateriil. Menurut kajian KCIC, kerugian akibat kemacetan Jakarta-Bandung mencapai Rp 7 triliun per tahun. Sementara LAPI ITB pernah menghitung kemacetan di seluruh Pulau Jawa menimbulkan kerugian hingga Rp 250 triliun per tahun.

Ketika proyeksi kerugian akibat kemacetan di Jawa disandingkan dengan nilai investasi proyek kereta cepat sebesar 6,07 miliar dollar AS atau Rp 92,4 triliun (kurs Rp 15.237 per dollar AS), maka investasi kereta cepat terlihat kecil. Apalagi ketika dihitung biaya ekternalitas dari tiap titik kemacetan di Pulau Jawa ini.

Membujuk warga
Hambatan lain yang mungkin mengancam kelayakan dari proyek kereta cepat justru datang dari sisi permintaan. Permintaan ini begitu penting karena pendapatan bagi investor kereta cepat berasal dari tiket yang dibayarkan oleh penumpang.

Reni, misalnya, mengaku belum tentu akan selalu naik kereta cepat. ”Tarifnya mahal,” ujar Reni. Tarif kereta cepat diprediksi Rp 225.000 untuk sekali perjalanan, lebih mahal daripada tarif Argo Parahyangan kelas eksekutif seharga Rp 140.000.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Pengunjung melihat maket kereta cepat Jakarta-Bandung yang dipamerkan pada pembukaan Kereta Api Indonesia (KAI) Expo 2018 di Indonesia Convention Exhibition (ICE ) BSD, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (3/11/2018).

Total ongkos transportasi dari Jakarta ke Bandung dapat lebih mahal lagi karena lokasi stasiun kereta cepat tidak di pusat kota. Penumpang kereta cepat pun harus berpindah angkutan, tentunya dengan membayar layanan angkutan tersebut.

KCIC dan pemerintah sebaiknya dapat memikirkan cara untuk menekan tarif agar sesuai dengan kemampuan dan kemauan warga untuk membayar ongkos perjalanan naik kereta cepat. Salah satu caranya adalah menyubsidi tarif dengan pendapatan dari kawasan komersial. Dengan menekan tarif, diharapkan warga dapat dibujuk untuk beralih naik kereta cepat.

Sementara Stanlie mengingatkan kalau Bekasi, kawasan yang hendak ditujunya, berada di antara Stasiun Halim dan Karawang. Kata Stanlie, keberadaan angkutan pengumpan jadi harus memadai. ”Jika tidak ada, malah merepotkan. Karena dari Halim, misalnya, saya harus balik lagi ke timur, ke Bekasi,” ujarnya.

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA–Tim Badan Geologi melakukan kajian geologi pada lokasi pembangunan transit oriented development (TOD) Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Walini, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (8/3/2018).

Persoalannya, bukan hanya soal mudah atau tidaknya transit antara kereta cepat dan kereta pengumpan, melainkan juga soal waktu tempuh. Apabila jadwal kereta cepat dengan kereta pengumpan terpaut jauh, total perjalanan warga dari pintu ke pintu dengan kereta cepat tak akan lebih cepat dari perjalanan dengan kendaraan pribadi.

Saran dari para calon penumpang sebaiknya juga diperhatikan dan bisa diakomodasi. Hanya dengan mewujudkan saran itu, maka kereta cepat akan menjadi alternatif utama transportasi dari Jakarta ke Bandung, dan sebaliknya.–HARYO DAMARDONO

Editor PRASETYO EKO

Sumber: Kompas, 2 Januari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: