Home / Berita / Sebaran Covid-19 di Indonesia Lebih Luas

Sebaran Covid-19 di Indonesia Lebih Luas

Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat dan sebarannya meluas. Indonesia menempati urutan pertama angka kematian akibat penyakit yang disebabkan virus korona baru tersebut di Asia Tenggara.

Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat dan sebarannya meluas. Pada Minggu (7/6/2020), terjadi penambahan 672 kasus baru sehingga total kumulatif berjumlah 31.186 orang, yang menjadikan Indonesia di urutan kedua di Asia Tenggara setelah Singapura, sedangkan untuk jumlah korban jiwa menjadi yang terbanyak dengan total 1.851 jiwa.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyebutkan, penambahan kasus tertinggi terjadi di Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta dengan 163 kasus baru, disusul Jawa Timur dengan 113 kasus. Sulawesi Selatan terdapat penambahan 64 kasus dan Jawa Tengah dengan 51 kasus.

”Sebanyak 21 provinsi yang melaporkan kasus kurang dari 10, bahkan 8 di antaranya melaporkan tidak ada kasus sama sekali,” kata Yuri dalam konferensi pers, Minggu (7/6/2020), di Jakarta.

Ada sejumlah provinsi yang kenaikan kasus positif di bawah 5, yaitu Bangka Belitung, Daerah Isitimewa Yogyakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Sulawesi Tenggara, Lampung, Maluku Utara, Papua Barat, Sulawesi Barat dan Gorontalo. Sementara tak adanya kasus baru dilaporkan beberapa provinsi, seperti Aceh, Bengkulu, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, Riau, dan Nusa Tenggara Timur.

Ahli epidemiologi dari Laporcovid-19.org, Iqbal Elyazar, mengatakan, tiadanya penambahan kasus di sejumlah daerah ini tidak bisa dianggap sebagai tidak adanya penyebaran virus korona baru di daerah tersebut. Tiadanya penambahan kasus bisa terjadi karena kurangnya tes yang dilakukan. Sebaliknya, banyaknya kasus ditemukan karena intensifnya tes di daerah itu.

”Sebaiknya pemerintah mengumumkan jumlah pemeriksaan di tiap daerah sehingga kita tahu kapasitasnya apakah cukup atau belum. Saat ini memang ada peningkatan kapasitas tes secara nasional, tetapi masih belum merata. Mayoritas masih di Jakarta dan Jawa Barat,” kata Iqbal.

Sejauh ini pemerintah hanya mengumumkan jumlah total pemeriksaan secara nasional. Menurut Yurianto, tambahan pemeriksaan spesimen yang dilaporkan per hari mencapai 11.924 spesimen, dengan menggunakan real-time PCR (reaksi rantai polimerase) ataupun tes cepat molekuler. ”Sehingga total ada 405.992 spesimen yang telah diperiksa,” ujarnya.

Namun jumlah orang yang diperiksa per hari baru 4.406 orang dan total sejauh ini baru 269.146 orang. Lebih banyaknya spesimen yang diperiksa karena satu orang bisa diperiksa lebih dari satu kali dan lebih dari satu jenis spesimen.

Ketua Pusat Riset Keselamatan Pasien Universitas Airlangga, Surabaya, Inge Dhamanti mengatakan, di banyak daerah, termasuk di Jawa Timur, jumlah tes dan sebarannya masih sangat kurang. Selain itu, waktu tunggu hasil tes juga masih sangat lama. ”Rata-rata masih tiga hingga lima hari untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya. Untuk Madura yang tidak punya laboratorium sendiri, bisa lebih lama,” katanya.

Selain membebani rumah sakit, keterlambatan tes juga membuat banyak ODP (orang dalam pemantauan) dan PDP (pasien dalam pengawasan) meninggal sebelum hasil tesnya keluar. ”Bisa diyakini data yang resmi tentang jumlah kasus ataupun korban akibat Covid-19 lebih rendah dari kondisi sesungguhnya karena persoalan tes ini,” kata Inge.

Dengan keterbatasan sebaran tes, menurut Iqbal, kasus Covid-19 di Indonesia juga bisa dilihat dari adanya ODP dan PDP yang meninggal di daerah itu. Ini berbeda dengan kriteria pemerintah tentang 102 kabupaten/kota yang dinyatakan masuk zona hijau atau bebas dari korona karena belum adanya kasus positif.

Mengacu dari adanya ODP dan PDP yang meninggal di suatu daerah, berdasarkan data yang dikumpulkan Laporcovid-19, dari pelaporan pemerintah daerah, hanya terdapat 67 kabupaten/kota yang bisa dikatakan zona hijau.

Secara global, data yang diperoleh dari worldometers.info, terdapat 7.012.177 kasus Covid-19 di 213 negara. Jumlah korban meninggal 402.732 orang atau tingkat kematian rata-rata sekitar 5,74 persen.

Sementara itu, tingkat kematian rata-rata Covid-19 di Indonesia mencapai 5,93 persen dan tertinggi di Asia Tenggara. Jumlah kematian rata-rata di Filipina 4,5 persen, Malaysia 1,4 persen, sedangkan Singapura hanya 0,065 persen.

Tingginya tingkat kematian rata-rata, yang dihitung dari jumlah korban jiwa dibagi jumlah kasus yang terkonfirmasi, ditentukan dengan kapasitas tes, selain juga kesiapan rumah sakit dan keterlambatan penanganan. ”Saat ini, banyak orang dirawat sendiri di rumah, padahal dampak Covid-19 terhadap keparahan pasien bisa amat cepat, terutama yang punya penyakit komorbid,” kata Inge.

Oleh AHMAD ARIF

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 8 Juni 2020

Share
x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: