Home / Berita / Waspadai Pergeseran Covid-19 ke Daerah

Waspadai Pergeseran Covid-19 ke Daerah

Gelombang pandemi belum reda. Daerah-daerah diharapkan tidak melonggarkan pembatasan dan masyarakat berdisiplin menaati protokol kesehatan karena virus korona baru masih terus bersirkulasi.

Penyebaran Covid-19 di Indonesia memasuki babak baru dengan meningkatnya kasus di Jawa Timur sehingga mulai menyalip Jakarta. Daerah-daerah diharapkan tidak melonggarkan pembatasan dan masyarakat berdisiplin menaati protokol kesehatan karena virus korona baru masih terus bersirkulasi.

Laporan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, terdapat penambahan 847 kasus baru sehingga total menjadi 32.033 orang. Penambahan kasus harian terbaru ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara dan mendekatkan Indonesia ke Singapura yang memiliki kasus terbanyak dengan 38.296 orang.

Penambahan kasus baru di Indonesia ini terutama disumbang oleh Jawa Timur dengan 365 kasus, disusul Sulawesi Selatan 110 kasus, Jakarta 89 kasus, Kalimantan Selatan 62 kasus, dan Maluku 38 kasus. Dari lima penambahan kasus harian terbanyak ini, tiga di antaranya di luar Jawa.

Sementara lima besar kasus positif terbanyak secara kumulatif meliputi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta sebanyak 8.121 orang, Jawa Timur 6.313 orang, Jawa Barat 2.424 orang, Sulawesi Selatan 2.014 orang, dan Jawa Tengah 1.642 orang.

”Sekalipun laporan harian pemerintah ini terlambat, kita bisa melihat memang terjadi pergeseran sebaran. Jakarta mulai menurun, tetapi Jawa Timur dan sejumlah daerah lain meningkat,” kata epidemiolog Universitas Padjajaran, Bandung, Panji Hadisoemarto.

Panji mengatakan, kita harus mewaspadai lonjakan kasus di daerah karena daya dukung fasilitas dan tenaga kesehatan yang lebih minim. Jakarta dan Surabaya yang merupakan dua kota terbesar di Indonesia dengan dukungan kesehatan paling baik tidak mampu mengatasi ledakan wabah Covid-19.

Data dari Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur, jumlah kasus Covid-19 di Surabaya 3.124 atau hampir separuh dari total kasus di Jawa Timur, dengan korban jiwa sebanyak 293 orang. Ini berarti, angka kematian rata-rata di Surabaya mencapai 9,3 persen. Tingkat kematian ini tergolong sangat tinggi, dibandingkan dengan Jakarta sebesar 7 persen, dan rata-rata nasional 5,87 persen.

Tingginya angka kematian bisa disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya masih kurangnya tes. Sekalipun demikian, Ketua Pusat Riset Keselamatan Pasien Universitas Airlangga Inge Dhamanti mengatakan, banyaknya kasus baru di Surabaya ini terjadi seiring peningkatan pemeriksaan tinggi yang dilakukan seminggu terakhir.

”Seperti daerah lain, kalau pemeriksaan turun, kasus kurang. Demikan sebaliknya. Selain Surabaya, daerah lain di Jawa Timur kasusnya relatif sedikit karena pemeriksaannya belum merata. Sebagian besar hasilnya masih dikirim ke Surabaya juga,” tuturnya.

Kapasitas rumah sakit
Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ede Surya Darmawan mengatakan, tingginya kematian di Surabaya juga disebabkan sudah penuhnya kapasitas rumah sakit. ”Ini seperti terjadi di Jakarta dua bulan lalu saat terjadi ledakan kasus. Kalau wabah ini dibiarkan membesar memang sekuat apa pun layanan kesehatan tidak akan mampu membendungnya,” katanya.

Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu mengedepankan pencegahan dibandingkan dengan menunggu membesarnya kasus. Pemeriksaan dan penelusuran kontak juga harus lebih masif dilakukan sebelum dianggap zona hijau atau aman dari Covid-19.

”Jangan terbawa euforia normal baru, situasinya belum normal. Kita seharusnya lebih mengedukasi masyarakat tentang norma hidup baru yang lebih sehat dan aman,” ujarnya.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 8 Juni 2020

Share
x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: