Home / Berita / Sebagian Wilayah Bakal Lebih Kering

Sebagian Wilayah Bakal Lebih Kering

Sebagian wilayah di Indonesia telah memasuki musim kemarau dan diperkirakan terus meluas hingga mencapai puncaknya pada Agustus 2020 nanti. Kondisi itu bisa memicu bencana kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA—Sisa laluran air di ambak garam yang mengering di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Jumat (3/7/2020). Pandemi Covid-19 diperkirakan menjadi salah satu alasan aktivitas produksi garam di sejumlah daerah di Jawa Timur hingga saat ini belum juga dilakukan walau sudah memasuki musim kemarau. Biasanya produksi garam dilakukan pada awal Juni.

Kemarau telah melanda lebih dari 50 persen dari luas total wilayah Indonesia hingga akhir Juni dan bakal meluas di bulan Juli hingga mencapai puncaknya pada Agustus 2020. Mayoritas daerah diperkirakan mengalami kemarau basah, tapi 30 persen wilayah bakal lebih kering.

Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah yang memasuki musim kemarau meliputi pesisir timur Aceh, sebagian Sumatra Utara, Riau dan Jambi bagian timur, pesisir utara Banten, Jawa Barat bagian utara, Jawa Tengah bagian utara dan timur, dan sebagian besar Jawa Timur.

Sejumlah daerah lain yang juga memasuki kemarau meliputi antara lain, sebagian Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan bagian utara, Sulawesi Barat bagian selatan, pesisir selatan Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara bagian utara, Pulau Buru dan Papua Barat bagian timur.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Fachri Radjab, di Jakarta, Selasa (7/7/2020), mengatakan, untuk 20 hari mendatang, ada sejumlah daerah termasuk kategori waspada dan siaga kekeringan meteorologis. Daerah itu meliputi beberapa kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Maluku.

Kepala Subbidang Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto mengatakan, sejumlah daerah terpantau mengalami deret hari kering kategori panjang, yakni 21-30 hari. Daerah itu meliputi Riau, Kalimantan Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.

“Beberapa wilayah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB,, dan NTT sudah ada yang mengalami deret hari kering kategori sangat panjang atau 31-60 hari. Namun, belum ada wilayah yang mengalami deret hari kering kategori ekstrem atau di atas 61 hari,” tuturnya.

Jika dilihat tingkat ketersediaan air bagi tanaman untuk bulan Juni 2020, beberapa wilayah di Jawa Timur bagian utara, Bali bagian timur, NTB, NTT, bagian tengah Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah telah masuk kategori kurang, yakni 0-20 persen dan 20 – 40 persen. Namun, untuk pesisir utara Jawa Barat, Jawa Tengah bagian utara hingga timur, sebagian besar Jawa Timur, bagian timur Bali, NTB, dan NTT bagian timur masih memiliki ketersediaan air tanaman kriteria sedang, yaitu 40 -60 persen.

“Rata-rata ketersediaan air tanaman di wilayah Indonesia lainya masih berada pada kategori cukup, yakni 60 – 80 persen dan 80 – 100 persen, di antaranya Sumatera, Jawa bagian tengah hingga timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, sebagian kecil NTT, dan Papua,” ungkapnya.

Lebih basah
Siswanto mengatakan, dibandingkan curah hujan normal atau rata-rata iklim 1981-2010, sekiar 50 persen dari wilayah Indonesia menunjukkan kondisi atas normal atau lebih basah dari biasanya. Namun, sekitar 30 persen wilayah yang lebih kering seperti Sumatra Utara bagian tengah, Jawa Barat bagian tengah, Jawa Tengah bagian tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah bagian utara, Papua Barat bagian timur, Jayapura dan Papua bagian utara dan tengah.

“Untuk daerah yang masih mendapatkan curah hujan tinggi perlu mewaspadai potensi perkembangan nyamuk pembawa penyakit demam berdarah. Sementara untuk daerah-daerah yang memasuki musim kemarau dengan deret hari kering yang cukup panjang perlu menyiapkan mitigasi terjadinya karhutla (kebakaran hutan dan lahan), pengelolaan budidaya pertanian yang tidak mebutuhkan banyak air, serta menghemat air bersih,” katanya.

Saat ini sejumlah daerah bersiaga untuk mengantisipasi karhutla, antara lain, Kalimantan Barat, NTB, dan Kalimantan Tengah. Kepala Bidang Humas Polda Kalbar Komisaris Besar Donny Charles Go menuturkan, Polda Kalbar mempersiapkan operasi pencegahan melibatkan 600 personel.

Di NTB, dari pantauan satelit, ada puluhan titik panas di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Lokasi hutan yang terbakar terjal dan curam sehingga pemadaman sulit dilakukan. Apalagi banyak vegetasi di Rinjani mudah terbakar. Karena itu, pihak Balai TNGR menutup sementara pendakian di kawasan itu.

Adapun pemantauan indikator anomali iklim Samudera Pasifik yaitu suhu muka laut wilayah indikator ENSO (El Nino Southern Oscillation) atau Nino 3.4, sampai dengan akhir Juni dalam kondisi netral. Fenomena ENSO terdiri dari tiga fase yaitu El Nino, La Nina dan Netral. ENSO merupakan fenomena alam berupa fluktuasi suhu muka laut di sekitar bagian tengah dan timur ekuator Samudera Pasifik yang berinteraksi dengan perubahan kondisi atmosfer di atasnya

Kondisi itu berarti fluktuasi suhu muka laut tidak menyimpang lebih dari 0,5 derajat celsius dari rata rata normal klimatologisnya. Sebagian besar lembaga meteorologi dunia telah memprediksi anomali suhu muka laut sampai akhir tahun berkisar netral dan la nina lemah.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA—Ikan bandeng yang mati berada di tambak garam yang mengering di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Jumat (3/7/2020).

Menurut Siswanto, kondisi La Nina lemah dinyatakan apabila penyimpangan suhu muka laut di wilayah indikator ENSO lebih dingin – 0,5 derajat sampai 1 derajat celsius dari normal klimatologisnya. Apabila terbentuk kondisi La Nina, hal tersebut dapat menambah peluang peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia sehingga musim kemarau lebih basah karena lebih banyak hujan daripada kemarau biasanya.

Sementara itu, hasil pemantauan anomali iklim Samudera Hindia menunjukkan beda suhu muka laut Perairan timur Afrika dan sebelah barat Sumatera sebagai indikator Dipole Mode Samudera Hindia (IOD) bernilai positif 0.7 pada bulan Juni lalu. Kondisi IOD+ diprediksi akan kembali netral pada Juli hingga November 2020.

Pemantauan kondisi suhu muka laut perairan Indonesia juga menunjukkan kondisi normal, dengan anomali suhu muka laut antara -0.5 sampai 2 derajat celcius. Namun, suhu muka laut hangat (anomali positif) terjadi di perairan timur Sumatera, perairan selatan Jawa, Laut Banda dan perairan utara Papua.

“Dari berbagai kondisi tersebut diperkirakan menjadikan musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia akan cenderung basah, meski kewaspadaan potensi kekeringan di 30 persen wilayah ZOM (zona musim) harus tetap menjadi perhatian,” ujarnya. (DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO/ISMAIL ZAKARIA/EMANUEL EDI SAPUTRA)

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 8 Juli 2020

Share
x

Check Also

Aplikasi Kelas Digital Makin Interaktif

Layanan kelas digital kini ditopang dengan berbagai aplikasi pembelajaran daring. Aplikasi yang disediakan kian interaktif ...

%d blogger menyukai ini: