Satelit Menua, Seri Data Es di Laut Terancam Tidak Valid

- Editor

Rabu, 1 November 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para ilmuwan yang bergelut mengamati perkembangan kondisi iklim kutub es di laut dihadapkan pada kekhawatiran akan keberlanjutan perekaman data. Kondisi itu disebabkan tiga satelit militer Amerika Serikat yang merekam data-data itu sudah menua dan memasuki masa akhir kerjanya.

Rekaman data yang menggunakan metode gelombang mikro tersebut dikumpulkan Pusat data Salju dan Es Nasional Amerika Serikat (NSIDC) di Boulder, Colorado. Satelit yang dipersiapkan untuk meneruskan kerja pendahulunya mengalami gangguan pada tahun 2016.

Kabar buruknya, seperti dituliskan Nature.com pada Jumat (27/10), satelit pengganti berikutnya tidak akan diluncurkan sampai setidaknya awal tahun 2020-an. Itu berarti perekaman data iklim kutub es di laut yang berlangsung sejak tahun 1970-an akan terputus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kekosongan data selama beberapa tahun ini mengurangi validitas analisa para pengguna data. Sebagai solusinya, kesenjangan itu akan diisi dengan data dari satelit Jepang. Namun wahana ruang angkasa itu yang telah berusia 5 tahun itu pun dalam waktu dekat akan pensiun.

Sebagai alternatif berikutnya, peneliti akan menggunakan data dari satelit milik China. Lembaga Ruang Angkasa AS (NASA) mulai mengambil pengukuran gelombang mikro pada kutub pada tahun 1972 melalui Satelit Nimbus-5. Kerusakan sensor mengganggu pengamatan fenomena lubang Oregon di kutub Antartika empat tahun kemudian. Saat diamati kembali tahun 1978, lubang itu telah lenyap.

Bulan lalu, peneliti menemukan lubang serupa di wilayah yang sama. Lubang ini tampak lebih besar dibandingkan kemunculannya dalam empat decade. Peneliti tak bisa membandingkannya dnegan lubang yang terlihat di tahun 1970-an karena jeda dalam rekaman satelit dari pengamatan Nimbus-5 sulit dikalibrasi.

“Itulah mengapa sangat penting memiliki (data rekaman) tumpang-tindih, dari satu satelit es laut ke waktu berikutnya,” kata David Gallaher, pakar penginderaan jarak jauh NSIDC.

Sumber: Kompas, 1 November 2017

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 6 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB