Para ilmuwan yang bergelut mengamati perkembangan kondisi iklim kutub es di laut dihadapkan pada kekhawatiran akan keberlanjutan perekaman data. Kondisi itu disebabkan tiga satelit militer Amerika Serikat yang merekam data-data itu sudah menua dan memasuki masa akhir kerjanya.
Rekaman data yang menggunakan metode gelombang mikro tersebut dikumpulkan Pusat data Salju dan Es Nasional Amerika Serikat (NSIDC) di Boulder, Colorado. Satelit yang dipersiapkan untuk meneruskan kerja pendahulunya mengalami gangguan pada tahun 2016.
Kabar buruknya, seperti dituliskan Nature.com pada Jumat (27/10), satelit pengganti berikutnya tidak akan diluncurkan sampai setidaknya awal tahun 2020-an. Itu berarti perekaman data iklim kutub es di laut yang berlangsung sejak tahun 1970-an akan terputus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kekosongan data selama beberapa tahun ini mengurangi validitas analisa para pengguna data. Sebagai solusinya, kesenjangan itu akan diisi dengan data dari satelit Jepang. Namun wahana ruang angkasa itu yang telah berusia 5 tahun itu pun dalam waktu dekat akan pensiun.
Sebagai alternatif berikutnya, peneliti akan menggunakan data dari satelit milik China. Lembaga Ruang Angkasa AS (NASA) mulai mengambil pengukuran gelombang mikro pada kutub pada tahun 1972 melalui Satelit Nimbus-5. Kerusakan sensor mengganggu pengamatan fenomena lubang Oregon di kutub Antartika empat tahun kemudian. Saat diamati kembali tahun 1978, lubang itu telah lenyap.
Bulan lalu, peneliti menemukan lubang serupa di wilayah yang sama. Lubang ini tampak lebih besar dibandingkan kemunculannya dalam empat decade. Peneliti tak bisa membandingkannya dnegan lubang yang terlihat di tahun 1970-an karena jeda dalam rekaman satelit dari pengamatan Nimbus-5 sulit dikalibrasi.
“Itulah mengapa sangat penting memiliki (data rekaman) tumpang-tindih, dari satu satelit es laut ke waktu berikutnya,” kata David Gallaher, pakar penginderaan jarak jauh NSIDC.
Sumber: Kompas, 1 November 2017