Home / Berita / Sang Pemangsa Seksual

Sang Pemangsa Seksual

Siapa pun bisa jadi pelaku dan korban kejahatan seksual. Kehangatan hubungan orangtua-anak dan membekali anak dengan pengetahuan kesehatan reproduksi menjadi kunci pencegahan.

Terungkapnya perkosaan terhadap 48 lelaki dan 70 korban lain yang belum teridentifikasi oleh Reynhard Sinaga (36) di Manchester, Inggris, mengingatkan kita bahwa kejahatan seksual ada di dekat kita. Banyaknya korban membuat Reynhard dijuluki pemerkosa paling produktif dalam sejarah Inggris.

Di Indonesia, pemangsa seksual semacam itu pernah beberapa kali terungkap. Pada 2014, AS alias Emon di Sukabumi, Jawa Barat, terbukti menyodomi 36 anak dan melecehkan 118 anak lainnya. Sementara 2010, Baekuni alias Babe menyodomi dan membunuh 14 anak lelaki dengan delapan anak diantaranya dimutilasi. Ada pula Siswanto alias Robot Gedhek yang pada 1996 terbukti menyodomi dan membunuh enam anak.

Meski predator yang banyak diberitakan media umumnya penyuka sesama jenis dan paedofil, perilaku pemangsa seksual itu bisa dilakukan siapa pun, tanpa pandang ras, umur, jenis kelamin atau orientasi seksual. Dalam hegemoni budaya patriarki, perkosaan heteroseksual dianggap tidak melukai ego maskulinitas.

Padahal, “Perkosaan heteroseksual tidak lebih baik dari perkosaan homoseksual. Demikian sebaliknya, perkosaan homoseksual tidak lebih buruk dari perkosaan heteroseksual,” kata peneliti perilaku seksual yang juga dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma, Depok, Wahyu Rahardjo, di Jakarta, Jumat (10/1/2020).

Dokter spesialis kedokteran jiwa di Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa, Fakultas Kedokteran Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo Gina Anindyajati menambahkan data menunjukkan semua orang berpeluang jadi pelaku atau korban kekerasan seksual, tidak pandang jenis kelamin atau umur. Namun, “Sebagian besar pelaku kekerasan seksual adalah laki-laki dewasa,” katanya.

KOMPAS/LASTI KURNIA–Instalasi replika pakaian penyintas kekerasan seksual “Saat Itu Aku…” dipamerkan pada Pameran 16 Rupa : Beda itu Biasa, memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16HAKtp) di Ruang Selatan Kemang, Jakarta, Rabu (27/11).

Trauma
Setiap kejahatan seksual itu unik. Meski sama-sama predator seksual, semua punya karakter berbeda. Banyak faktor risiko yang bisa membuat seseorang jadi pelaku kejahatan seksual. Namun menurut Wahyu, sebagian besar pelaku kejahatan seksual pernah jadi korban kekerasan seksual saat anak-anak.

“Harga diri korban diserang dan kemanusiaan mereka direndahkan,” kata Wahyu. Perasaan hina, rendah diri, malu, dan takut dituduh sebagai pemicu kejahatan seksual membuat banyak korban bungkam.

Trauma itu membekas kuat. Saat korban tumbuh dewasa dan mampu mengatasi rasa rendah sebagai korban atau ada pemicu yang merendahkan harga dirinya, dorongan untuk balas dendam dan berlaku seperti yang dilakukan sang predator pada mereka dulu, bisa muncul.

Namun, “Tak semua korban kekerasan seksual akan jadi pelaku,” tambah Gina. Banyak faktor yang membuat korban bisa jadi pelaku kekerasan seksual.

Keinginan seperti pelaku itu bukan untuk menuntaskan kebutuhan seksual mereka, tapi menunjukkan dominasinya pada orang lain. Perasaan itu adalah perlawanan dari sikap inferior yang mereka alami selama mereka merasa menjadi korban.

“Bagi pelaku kejahatan seksual, seks adalah operasi mengejar kekuasaan dan kontrol,” tulis Stanton Samenow, penulis buku Inside the Criminal Mind (2014) dalam tulisannya di psychologytoday.com, 15 Desember 2017. Predator seksual umumnya punya banyak pengalaman seksual, tapi dangkal. Karena itu, pelaku kejahatan seksual belum tentu kecanduan seks. Mereka memaknai hubungan seks mereka sebagai kepemilikan atau penaklukan.

Kebutuhan untuk mendominsi itu tidak bisa pelaku dapatkan melalui hubungan seksual yang wajar. Mereka tidak suka ditolak dan tak peduli apa yang dialami korban. Saat berhasil memperdaya satu korban, mereka akan ketagihan untuk mencari mangsa baru hingga predator seksual umumnya punya korban lebih dari satu atau melakukan kejahatannya berulang-ulang terhadap korban yang sama.

“Seks itu seperti minum air laut, makin dipuaskan kian tak terpuaskan,” kata Wahyu.

Karena makin terbiasa, tindak kejahatan seksual itu akhirnya jadi kebiasaan hingga batasan boleh-tidak boleh sesuai norma agama atau sosial hilang. Mereka membuat aturan sendiri apa yang boleh-tidak boleh dilakukan. Kondisi itu membuat predator seksual bisa dilakukan orang dengan latar belakang religiusitas yang baik, termasuk guru agama atau tokoh agama.

Meski ada di sekitar kita, penjahat seksual sulit diprediksi. Menurut Gina, predator seksual umumnya memiliki keterampilan sosial buruk atau sulit menjalin relasi normal. Mereka juga memiliki relasi yang tegang dengan orang dewasa.

Namun, Stanton mengatakan keterampilan sosial yang buruk bukan berarti mereka antisosial atau menghindari masyarakat. Predator seksual biasanya mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Mereka luwes bergaul tapi untuk tujuan spesifik, mengejar mangsa dan menutupi aib.

Pelaku kejahatan seksual juga sulit ditebak karena mereka bisa pandai bergaul, bersikap manis, cerdas, karismatik dan juga berbakat. Mereka menyalahgunakan kekuasaan dan citra yang dimiliki untuk menaklukkan korban.

Hal itu membuat terkadang sejumlah korban sulit mengadukan mereka atau banyak orang yang mengenal pelaku tidak menyangka jika orang yang mereka kenal baik mampu berlaku sekeji itu. “Predator seksual adalah rajanya penipuan,” ujar Stanton.

Pencegahan
Karena siapa pun bisa jadi korban dan pelaku kejahatan seksual, mata kejahatan seksual itu bisa diputus dengan membekali anak dengan pengetahuan kesehatan reproduksi dan seksual sejak dini sesuai umur mereka. Anak perlu dikenalkan dengan tubuhnya, mana bagian bersifat pribadi dan tidak boleh disentuh sembarang orang hingga mengenalkan anak dengan sentuhan yang aman dan tidak aman.

Anak juga perlu diajarkan berani berkata tidak atau menolak jika ada bagian tubuh tertentunya yang dipegang orang lain. Anak juga bisa diajarkan cara menghindar jika bertemu dengan orang lain menyentuhnya secara tidak aman, seperti berlari ke kekerumunan orang serta berani bercerita ke orangtua atau orang dewasa didekatnya yang ia percaya.

KOMPAS/KOMPAS–Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual untuk anak usia 4-6 tahun

Namun, keberanian anak menceritakan pengalaman tak menyenangkan itu bisa berhasil jika orangtua dan anak punya kedekatan hubungan emosional. “Jika orangtua otoriter, menuntut ketundukan mutlak anak, anak akan sulit percaya pada mereka,” ujar Wahyu.

Saat orangtua tahu anaknya jadi korban, maka pemulihan trauma anak perlu jadi fokus. Pemulihan psikososial itu bisa berlangsung seumur hidup. Sikap orangtua yang menerima anak apapun kondisinya, tidak menyalahkan atau menyudutkan mereka, akan mempercepat pemulihan mereka.

Kepedulian masyarakat sekitar juga penting. Kejahatan seksual adalah persoalan kita bersama. Karena itu, sikap tidak memojokkan atau mengungkit masa lalu korban bisa menjadi dukungan yang berarti buat mereka. Kepedulian dan sikap saling menjaga sesama juga bisa mencegah terjadinya kejahatan seksual, memutus mata rantai kejahatan seksual, dan menyelamatkan masa depan anak-anak bangsa.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 14 Januari 2020

Share
x

Check Also

Atmosfer Investasi Energi Terbarukan Belum Baik

Cadangan bahan bakar batubara semakin terbatas, transformasi menuju energi terbarukan menjadi pilihan. Pemerintah harus menciptakan ...