Home / Berita / Samsung Gear S2; Mencari Jam Tangan Cerdas dan Bergaya

Samsung Gear S2; Mencari Jam Tangan Cerdas dan Bergaya

Jam tangan bukan hanya soal penunjuk waktu. Bagi pemakainya, ia adalah pernyataan soal gaya dan selera. Pengguna perangkat wearable tak hanya fokus pada teknologi, tetapi juga bagaimana perangkat itu dapat memberi nilai lebih pada penampilannya.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, Samsung meluncurkan jam tangan cerdas atau smartwatch yang tak sekadar cerdas, tetapi juga memiliki desain menarik. Secara resmi, pada 2 Desember lalu, Samsung meluncurkan seri terbaru yakni Samsung Gear S2, dengan dua pilihan model: Gear S2 dan Gear S2 Classic. Keduanya berbentuk bulat.

“Memahami tren ini, Gear S2 diciptakan dengan desain bulat yang mudah dikontrol dengan antarmuka intuitif. Fitur Gear S2 memberikan penggunanya fungsi dan keseruan dalam pengalaman mobile mereka,” kata Vice President IT & Mobile Business Samsung Electronics Indonesia Andre Rompis saat peluncuran perangkat ini di Jakarta.

475c8085523746e1b19fa7cb09212fc0KOMPAS/PRASETYO EKO PRIHANANTO–Jam tangan cerdas Samsung Gear S2 saat peluncuran di Jakarta, Rabu (2/12).

Menurut Rompis, Gear S2 adalah hasil inovasi progresif Samsung dalam kategori perangkat wearable selama beberapa tahun terakhir. Perangkat ini adalah smartwatch pertama Samsung dengan bentuk bulat. S2 menggunakan sistem operasi Tizen dan bisa bekerja dengan ponsek segala merek.

“Bezel” berputar
Kompas mendapat kesempatan menjajal Gear S2 versi Classic. Gear S2 dengan strap atau tali kulit terasa nyaman dipakai. Meski masih terasa tebal, 11,4 milimeter, desainnya menyembunyikan ketebalan itu.

Jam tangan ini didesain tahan air hingga standar IP68, yang artinya tak perlu melepas saat hendak cuci tangan (rating IP68 artinya tahan celup hingga 1 meter). Di bagian belakang jam terdapat perangkat memonitor detak jantung.

Sensor ini bisa digunakan merekam detak jantung atau sebagai pemantau pergerakan pemakai. Sensor lain yang ditanamkan adalah accelerometer, gyroscope, ambientlight, dan barometer.

S2 memiliki layar bulat super AMOLED dengan diameter 1,2 inci, lebih kecil dibandingkan layar pesaingnya Huawei Watch dan Moto 360. Jam dengan diameter layar itu terasa pas, apalagi desain smartwatch ini dimaksudkan sebagai multigender, tidak membedakan pemakai laki-laki atau perempuan.

Layar S2 sangat tajam dengan resolusi 360 x 360 pixels, menjadikannya memiliki kepadatan pixels mencapai 302 ppi, menyamai layar retina jam cerdas Apple Watch, penyandang gelar layar tertajam saat ini.

Gear S2 dilengkapi prosesor dual core 1 GHz, RAM 512 MB, dan kapasitas penyimpanan internal 4Gb. Untuk konektivitas, S2 dilengkapi Wi-Fi sehingga notifikasi tetap mengalir. Jam ini juga dilengkapi NFC (near field communication). Sayang, fitur ini belum bisa dipakai karena belum siapnya ekosistem di Indonesia.

Salah satu fitur paling unik dari Gear S2 adalah kelengkapan rotating bezel, bezel yang bisa diputar-putar, sebagai penyempurna antarmuka tap dan sentuh. Ini adalah cara interaksi paling cerdas pada jam pintar, yang menjadi pembeda utama S2 dengan smartwatch lain.

Dengan memutar bezel ke kiri atau ke kanan, interaksi terasa mudah dan nyaman. Putaran bezel dilengkapi mekanisme “klik” yang membuat putaran terasa mantap saat memilih menu.

Putar bezel ke kiri, pengguna bisa langsung melihat notifikasi dari e-mail, pesan singkat, dan sejenisnya. Putar bezel ke kanan, pengguna dihadapkan pada pilihan fitur, widget aplikasi yang telah terpasang. Putaran bezel juga berguna untuk memilih aplikasi, menu, fitur, hingga zoom in dan zoom out saat memakai aplikasi navigasi. S2 juga dilengkapi dua tombol Home dan Back untuk kian mempermudah interaksi.

Tizen, sistem operasi S2Seperti disebutkan, berbeda dengan pesaingnya yang memakai sistem operasi Android Wear, Gear S2 memakai sistem operasi Tizen besutan Samsung. Menurut Rompis, penggunaan Tizen adalah bagian dari visi ke depan Samsung, terutama terkait dengan perkembangan Internet of Things (IoT) karena banyak perangkat lain dari Samsung yang memakai Tizen.Meski memakai Tizen, Rompis menjanjikan tidak ada masalah dengan kompatibilitas perangkat ini dengan perangkat smartphone Android. “Tizen dibuat sangat kokoh, dimaksudkan untuk sangat kompatibel dengan perangkat yang memakai sistem operasi lain,” katanya.Gear S2 dibuat untuk bisa kompatibel dengan telepon cerdas Android, baik dari Samsung maupun selain Samsung. Hanya saja, memang pilihan perangkatnya masih terbatas.

Samsung menyatakan Gear S2 hanya bisa kompatibel dengan perangkat yang memiliki RAM setidaknya 1,5 Gb dan minimal berjalan dengan OS Android 4.4.Dengan aplikasi S Health, Gear S2 menjadi perangkat fitness dan pemantau aktivitas yang sangat baik. Pembacaan detak jantung rasanya cukup akurat, demikian juga pemantauan langkah kaki per hari.

Melalui fitur activity log, pengguna dapat melihat perkembangan kegiatan atau aktivitas mereka sehari-hari.Untuk navigasi, Gear S2 dilengkapi peta digital Here. Meski layar kecil, adanya kelengkapan bezel berputar untuk zoom in dan zoom out sangat memudahkan untuk melakukan navigasi.Terkait dengan fungsi notifikasi, pengguna bisa langsung merespons pesan singkat, baik melalui ketikan maupun dengan perintah suara, dalam hal ini memakai aplikasi S-Voice. Notifikasi pun mengalir lancar karena dilengkapi koneksi Wi-Fi meski tidak sedang terkoneksi lewat bluetooth dengan smartphone.Aplikasi lain yang secara standar telah ter-install di S2 di antaranya CNN, Bloomberg, dan Nike Running.

Pengguna masih bisa menambah sendiri aplikasi lain. Namun, di sinilah muncul kekhawatiran soal ketersediaan dan dukungan aplikasi yang baik untuk OS Tizen. Di satu sisi, dengan penggunaan Tizen, Samsung memudahkan integrasi antarperangkat buatan Samsung ke depan, terutama karena perkembangan IoT yang kian pesat. Namun, dukungan pengembang atau developer aplikasi tentu tidak sebanyak dibandingkan dengan Android Wear. Saat ditanyakan soal ini, Rompis menjanjikan, Samsung akan merangkul developer lokal untuk mengembangkan aplikasi buat Tizen. Dengan demikian, ketersediaan aplikasi bermutu untuk Tizen akan melimpah.

Dengan dilengkapi baterai 250mAh Li-Ion, jam tangan ini bisa bertahan selama sekitar dua hari sekali isi. Untuk melakukan pengisian baterai, S2 memakai wireless charging. Secara umum, dari beberapa hari mencoba, Gear S2 bekerja dengan sangat baik. Interaksi dengan memutar bezel untuk memilih menu, aplikasi, membaca pesan, terasa sangat intuitif. Gear S2 bersaing dengan sejumlah smartwatch seperti Apple Watch, Moto 360, dan Huawei Watch. Dengan harga Rp 3,9 juta untuk model Gear S2 dan Rp 4,49 juta untuk model Gear S2 Classic, jam tangan cerdas dari Samsung ini bisa menjadi pilihan cerdas dan bergaya.–PRASETYO EKO P
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Desember 2015, di halaman 27 dengan judul “Mencari Jam Tangan Cerdas dan Bergaya”.
———–
“Smartwatch” yang Makin Pintar dan Murah

Tidak hanya telepon seluler yang kini menjadi produk yang dilombakan para produsen di pasar gawai global. Pelan tapi pasti, satu per satu dari mereka kini ikut berlaga di kategori baru, yakni jam tangan cerdas atau smartwatch. Namun, boleh dibilang, kompetisi ini tak selamanya seiring dengan ponsel cerdas yang sudah jelas segmentasi dan pasarnya.

a92a58c431a649a08a8f7317d41d27d2KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Huawei merilis jam tangan pintar untuk pasar Indonesia dengan berbagai tipe berdasarkan bahan yang dipergunakan, Minggu (6/12).

Seiring dengan tren perangkat yang dikenakan atau wearable gadgets, jam tangan dilirik sebagai perangkat yang bisa dipercanggih dengan berbagai teknologi sehingga mereka memiliki fitur tambahan yang bisa membantu. Beberapa fitur yang awalnya diluncurkan adalah penunjuk adanya panggilan telepon atau pesan yang masuk ke telepon seluler.

Seiring waktu dan pembaruan versi produk, fungsi-fungsi yang ditawarkan kian kompleks, seperti terhubung dengan aplikasi lebih banyak dan dipasang sensor lebih beragam untuk menghasilkan data baru. Salah satunya adalah pencatat aktivitas fisik.

Muncul pula genre lain, yakni pemantau kebugaran atau fitness tracker yang memiliki kecenderungan untuk mengukur jumlah langkah hingga denyut jantung. Fitur yang dimiliki jam tangan cerdas juga ada seperti penunjuk waktu atau pemberi tahu panggilan yang masuk ke ponsel, tetapi porsi yang mendukung pendataan aktivitas penggunanya lebih banyak.

Ambil contoh Smartband 2 buatan Sony yang mampu mengukur denyut jantung, sidik jari, dan jam tidur. Dari sana perangkat tersebut mengirimkan data ke ponsel untuk memberitahukan tingkat stres pengguna. Belum lagi aplikasi LifeLog yang mampu mencatat apa saja yang dilakukan pengguna dalam hari itu, mulai bangun pagi hingga tidur.

Semakin murah
Teknologi perangkat yang dikenakan saat ini memungkinkan munculnya produk-produk dari berbagai segmen. Ada jam tangan cerdas yang dijual seharga Rp 300.000 dalam sebuah masa promosi toko daring dan ada pula produk yang dijual setara ponsel kelas premium.

Misalnya Huawei Watch yang diluncurkan untuk pasar Indonesia hari Minggu (6/12). Terdapat beberapa tipe yang dijual dengan harga mulai Rp 6 juta hingga Rp 10 juta.

Jam dengan diameter layar 42 inci diklaim dikerjakan layaknya membuat jam mekanik dengan puluhan jam yang tercurah untuk membuat satu unit. Belum lagi pemilihan bahan pelapis layar serta desain yang membuat mereka cukup percaya diri dalam mematok harga tersebut.

Untuk harga di bawahnya, juga terdapat serangkaian produk yang ditawarkan dengan berbagai harga, fungsi, ataupun desain. Hanya saja, tantangan yang dihadapi industri jam tangan cerdas adalah konsumen itu sendiri yang belum teredukasi dengan baik akan manfaat produk ini. Ada banyak produk ponsel yang diluncurkan dan diterima oleh masyarakat, tetapi tidak berbanding lurus dengan jam tangan cerdas.

Bagi sebagian, berbicara dengan mengangkat pergelangan tangan terasa canggung dan enggan melakukannya di tempat ramai. Mengalihkan kesibukan di layar ponsel ke layar jam tangan tentu masih belum terbiasa dilakukan sebagian masyarakat Indonesia.

Seperti sebuah studi yang menyebut bahwa rata-rata seorang pemilik ponsel akan memeriksa pemberitahuan yang masuk dengan membuka pengunci layar hingga 85 kali sehari. Dan salah satunya untuk mengetahui waktu.

Yang harus dilakukan adalah memperkenalkan manfaat atau kemudahan yang ditawarkan dari jam tangan cerdas. Konsumen harus diyakinkan bahwa jam tangan cerdas tersebut memiliki keunggulan dibandingkan dengan jam tangan konvensional mewah.

Pada era 1990-an ada serial televisi Knight Rider yang menampilkan tokoh protagonis Michael Knight yang dimainkan David Hasselhoff. Knight digambarkan mampu berkomunikasi dengan mobilnya melalui jam tangan cerdas. Fiksi masa lalu itu kini telah menjadi kenyataan.

Otak jam cerdas Satu hal yang harus diakui, perangkat-perangkat baru yang dikenakan di tubuh umumnya masih mengandalkan ponsel sebagai otak yang memberi komando. Setiap perangkat membutuhkan ponsel untuk menyinkronisasi data mereka.Google sebagai nama di balik sistem operasi Android yang banyak dipergunakan perangkat ini juga mulai serius dengan meluncurkan Android Wear, yakni Android yang dirancang khusus untuk jam tangan cerdas sehingga fungsionalitas mereka makin beragam.

Tak ketinggalan akses menuju fitur Google Now atau asisten virtual membuat layar jam tangan mampu menampilkan informasi-informasi relevan seperti yang sudah dikumpulkan Google dari aktivitas penggunanya.Dengan integrasi tersebut, pengguna bisa memberi perintah suara ke jam tangan cerdas dan mendapat umpan balik di layar kecil itu seperti navigasi atau mengatur musik yang diputar di ponsel.Begitu pula dengan Google Fit, sebuah landasan bagi produsen perangkat kebugaran yang memudahkan untuk menggunakan layanan yang terintegrasi dan bisa disinkronisasi datanya ke akun Google.

Dengan layanan ini, pengguna bisa memanfaatkan berbagai perangkat untuk mengumpulkan data aktivitas fisik dan diukur lebih detail, seperti kalori yang terbakar, langkah yang dibuat, dan tempat yang sudah dikunjungi sebelumnya.Ekosistem dari produk ini juga makin lengkap dengan keterlibatan produsen prosesor yang mengembangkan varian untuk perangkat di pergelangan tangan ini. Qualcomm salah satunya, dengan meluncurkan Snapdragon 400 yang menawarkan performa sekaligus penggunaan daya listrik yang efisien. Kompetitor di industri ponsel, Mediatek, juga tak ketinggalan untuk ikut bermain di produk serupa.–DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Desember 2015, di halaman 27 dengan judul “”Smartwatch” yang Makin Pintar dan Murah”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: