Home / Berita / Salah Satu Pemikir Ekonomi Pancasila, Dawam Rahardjo Telah Tiada

Salah Satu Pemikir Ekonomi Pancasila, Dawam Rahardjo Telah Tiada

Salah satu pemikir sistem ekonomi Pancasila Dawam Rahardjo meninggal dunia pada Rabu (30/5/2018) pukul 21.55 di Rumah Sakit Islam Jakarta. Dawam dikenal sebagai cendekiawan muslim yang toleran.

Dawam meninggal pada usia 76 tahun. Putra Dawam, Jauhari Rahardjo menceritakan, Dawam meninggal karena sakit gula yang sudah diderita sejak umur sekitar 40 tahun.

KOMPAS/NINUK MARDIANA PAMBUDY–M. Dawam Rahardjo semasa hidup. Foto diambil tahun 2012

“Sakit gula yang diderita bapak semakin parah dan telah menyerang seluruh tubuhnya sejak 9 bulan yang lalu,” kata Jauhari.

Saat memandikan jenazah Dawam, hadir pula Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional Arif Budimanta. Ia mendengar kabar meninggalnya Dawam saat mengadakan kegiatan Reboan di rumah Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Puan Maharani.

“Dawam merupakan salah satu penggagas kegiatan Reboan sehingga kami yang sedang berkumpul selalu mengikuti perkembangan kondisi kesehatannya,” kata Arif.

Arif mengenal Dawam sebagai salah satu pemikir sistem ekonomi Pancasila yang dapat diimplementasikan di Indonesia. Menurut Arif, gagasan dari Dawam didasari oleh kebudayaan yang ada di masyarakat. Dia meletakkan dasar-dasar filsafat dari Pancasila ke dalam sistem ekonomi.

Dawam mengajarkan, mengambil keuntungan itu sesuatu yang wajar, tetapi harus mengembalikan keuntungan itu untuk kemakmuran bersama

Sistem ekonomi Pancasila yang dikembangkan Dawam dilepaskan dari sistem ekonomi sosialis dan kapitalis. Sistem ekonomi Pancasila dalam perspektif Dawam, yaitu sistem ekonomi yang dilandasi oleh landasan etnik dan moral. “Dawam mengajarkan, mengambil keuntungan itu sesuatu yang wajar, tetapi harus mengembalikan keuntungan itu untuk kemakmuran bersama,” kata Arif.

Ia menjelaskan, pandangan tersebut menegaskan pentingnya nilai gotong royong. Pihak yang lebih besar harus dapat mengangkat yang kecil agar dapat hidup bersama dan bukan mematikan.

Menurut Arif, Dawam percaya dan konsisten bahwa ekonomi rakyat menjadi tulang punggung dari ekonomi bangsa. Hal tersebut sudah terbukti, ketika terjadi krisis ekonomi, banyak pihak ekonomi besar berjatuhan. Namun, ekonomi bawah tetap bertahan.

Ada dua nilai pokok dari sistem ekonomi Pancasila yang diajarkan Dawam, yaitu nilai kemanusiaan dan keadilan yang pada intinya mengutakaman kepentingan rakyat dibandingkan individu. “Segala hal yang digerakkan oleh rakyat akan meningkatkan nilai ekonomi,” kata Arif.

Ayah dan guru
Dawam dikenal sebagai cendekiawan muslim yang bersahaja. Ia seorang yang demokratis dan selalu menjaga nilai keberagaman.

Jauhari mengenal Dawam sebagai sosok ayah yang ideal. Dawam telah membimbing Jauhari dan kakaknya, Aliva sejak kecil. “Bapak adalah seorang ayah yang sempurna. Ia selalu membantu orang lain dengan ikhlas dan memiliki murid yang banyak,” kata Jauhari.

Bapak adalah seorang ayah yang sempurna. Ia selalu membantu orang lain dengan ikhlas dan memiliki murid yang banyak

Jauhari mengenang masa-masa saat Dawam sering mengajaknya menonton sepak bola di Gelora Bung Karno, Senayan ketika masih kecil. Dawam juga selalu mengingatkan untuk salat dan mengajarkan ajaran Islam, serta tafsir alquran.

Dawam juga dikenal sebagai sosok ayah yang demokratis. Ia tidak pernah memaksakan kehendak terhadap jalan hidup kedua anaknya. Meskipun demikian, Dawam tetap mendampingi kedua anaknya dalam bertumbuh.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Jauhari Rahardjo

Selain itu, Dawam selalu mendorong kedua anaknya menghargai agama lain. Ia melarang anaknya menghujat apabila ada perbedaan kepercayaan dan aliran. “Bapak selalu menekankan agar kita selalu menghargai orang lain,” tutur Jauhari.

Jauhari pun bersedih ketika mengingat cita-cita ayahnya yang ingin mendirikan pesantren. Ia menceritakan, dua tahun yang lalu Dawam berniat ingin mendirikan pesantren di sekitar Surakarta, Jawa Tengah. Namun, cita-cita tersebut tidak terlaksana karena penyakit gula yang terus menggerogoti tubuh ayahnya. Ia berharap, suatu saat dapat melanjutkan cita-cita Dawam.

Arif memandang Dawam sebagai sosok ayah dan guru. Menurut Arif, Dawam selalu mengajarkan kepada muridnya agar berpikir kritis terhadap ilmu pengetahuan. Ia mau berbagi ilmu kepada muridnya dengan tulus.

Dawam selalu menuliskan pemikirannya dan membuat makalah dalam setiap acara diskusi. Karena kebiasaannya tersebut, Dawam tetap aktif menulis hingga masa tua.

Saat ini, Dawam disemayamkan di rumah duka Jalan Kelapa Kuning III F I Nomor 2 Komplek Billy Moon Kalimalang, Jakarta Timur. Ia akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan pada Kamis (31/5/2018) pukul 13.00. Sebelumnya, pada pukul 10.00 jenazah Dawam akan didoakan di Masjid Raya Baitussalam Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur.–PRAYOGI DWI SULISTYO

Sumber: Kompas, 31 Mei 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: