Home / Berita / Saatnya Membangun Rumah Tahan Gempa

Saatnya Membangun Rumah Tahan Gempa

Penanganan gempa di Lombok memasuki tahap pemulihan. Saatnya warga di kawasan itu mendirikan rumah yang lebih kuat dengan teknik konstruksi tahan gempa.

Masa tanggap darurat bencana gempa bumi Lombok, Nusa Tenggara Barat, dinyatakan berakhir dan kini masuk tahap pemulihan. Kini saatnya masyarakat Lombok membangun rumah-rumah lebih kuat, karena gempa bumi ibarat tamu yang bisa kembali bertandang kapan saja.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, tahapan tanggap darurat di Lombok berakhir pada Sabtu (25/8/2018). “Sekalipun tanggap darurat berakhir, hingga saat ini pengungsi masih memerlukan bantuan logistik,” ujarnya.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA–Warga menyusuri permukiman yang hancur karena gempa saat berangkat ibadah sholat Ied di Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Rabu (22/8/2018). Bencana gempa bumi tersebut menyebabkan mereka harus kehilangan tempat tinggal dan menempati pengungsian. Pemerintah dengan lembaga swadaya masyarakat, TNI dan Polisi mulai merehabilitasi rumah warga yang rusak.–Kompas/P Raditya Mahendra Yasa

Di tengah upaya pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, proses pemulihan, terutama pembangunan kembali rumah, harus mulai dilakukan. Mengutip data BNPB, total rumah rusak di Lombok 73.843 unit dengan jumlah pengungsi 390.529 orang.

Saat bertemu dengan para pengungsi di lapangan Kantor Bupati Lombok Utara, Senin (13/8/2018), Presiden Joko Widodo mengatakan, pemerintah pusat telah menganggarkan bantuan untuk pembangunan rumah rusak Rp 50 juta per keluarga.

“Saya hanya ingin pesan, membangunnya akan diawasi Pak Gubernur kemudian akan diberikan bimbingan oleh Pak Menteri PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat). Nanti membangunnya harus rumah yang tahan gempa. Namanya sistem RISHA. Jadi kalau ada gempa, itu tidak goyah,” kata Presiden, seperti dilansir keterangan tertulis dari Biro Pers Sekretariat Presiden.

RISHA merupakan teknologi rumah sederhana yang bisa dibangun dengan cepat menggunakan panel beton pracetak yang dikembangkan Puskim. Teknologinya telah terbukti tahan gempa. Sumber: Puskim, 2018

Secara teknis, risiko gempa bumi bisa dikurangi dengan memerkuat konstruksi bangunan. Sejumlah ahli konstruksi di Indonesia juga menemukan teknik konstruksi tahan gempa, salah satunya adalah Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) yang dikembangkan oleh Penelitian dan Pengembangan Pusat Permukiman (Puskim), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“Sistem RISHA kami kembangkan sejak tahun 2002 dan patennya telah kami daftarkan sejak Februari 2004,” kata Kepala Puskim Arief Sabarudin, yang juga merupakan ketua tim peneliti RISHA.

Menurut Arief, RISHA yang memiliki Sertifikat Merek IDM000096604, awalnya dikembangkan untuk membantu program pembangunan satu juta rumah rakyat yang saat itu dicanangkan Presiden Megawati Soekarnoputri. “Akhirnya kami menemukan teknologi pembangunan rumah yang bisa selesai dibangun hanya satu hari, tetapi memenuhi aspek tahan gempa, ramah lingkungan, dan harganya terjangkau,” ungkapnya.

Contoh sekolah yang dibangun dengan teknologi RISHA. Sumber: Puskim, 2018

Teruji gempa
Teknologi RISHA diluncurkan pada 20 Desember 2004 dan seminggu kemudian terjadi gempa serta tsunami Aceh. Sejumlah lembaga bantuan internasional akhirnya menggunakan rancangan RISHA tersebut untuk pembangunan kembali di Aceh.

“IOM (International Organization for Migration telah membangun lebih dari 10.000 rumah bantuan di Aceh dengan teknologi RISHA. Kemudian, UNICEF (United Nation Children’s Fund) menggunakan untuk membangun sekolah di 200 lokasi,” kata Arief.

Masyarakat tinggal memasang panel RISHA menggunakan baut sehingga prosesnya bisa cepat. Sumber: Puskim, 2018

?Ketika terjadi gempa bumi di Pidie Jaya, Aceh, tahun 2016, rumah-rumah bantuan dengan teknologi RISHA di kawasan itu terbukti masih utuh. “Selain tahan gempa, rumah RISHA didesain bisa tahan 50 tahun, dibandingkan rumah konvesional yang umur pakainya 20 tahun,” kata dia.

Teknologi RISHA, lanjut Arif, juga digunakan di Yogyakarta setelah gempa bumi pada tahun 2006 dan sejumlah daerah bencana lain di Indonesia. Bahkan, RISHA juga dibangun di Lombok pada tahun 2010, yang difungsikan sebagai Balai Dusun Akar-Akar dan Sekolah Adat Bayan di Desa Karang Bajo, Lombok Utara. Dua bangunan itu masih utuh setelah rangkaian gempa mengguncang Lombok.

?Rumah tumbuh
Pada prinsipnya, menurut Arief, RISHA merupakan sistem pembangunan rumah tumbuh bongkar pasang dengan menggunakan tiga panel beton tulangan pracetak untuk kolom, balok, dan sloof. Masyarakat tinggal memasang panel kerangka tersebut menggunakan baut. Sementara untuk dinding, bisa diisi sendiri dengan batu bata, batako, papan, ataupun bambu.

“Selama ini kelemahan dasar bangunan rakyat adalah tulangan yang lemah dan detail sambungan buruk, sehingga tidak tahan gempa. Itu pula yang kami temui saat survei dampak gempa di Lombok,” kata Arief.

Contoh rumah yang dibangun dengan RISHA. Sumber: Puskim, 2018

Dengan menyediakan tulangan pabrikan, maka mutu tulangan untuk rumah rakyat diharapkan bisa lebih dikontrol. “Kita tinggal mengawasi kualitasnya di tiga workshop milik swasta yang siap memproduksi panel RISHA di Lombok,” ucapnya.

Untuk rumah tipe 36 di Lombok, total harga panel tulangannya sekitar Rp 23 juta. Masyarakat bisa menggunakan sebagian dana bantuan Rp 50 juta untuk membeli tulangan RISHA. Untuk dinding, bisa memakai material bekas rumah lama. ” Kami akan memberi panduan penyambungannya,” kata Arif.

Selain itu, para penyintas gempa bumi dapat bekerja di workshop atau bengkel yang telah didirikan di Lombok, sehingga bisa mendapatkan pemasukan selama masa pemulihan, sebagaimana diterapkan di Yogyakarta pascagempa. Melalui proses itu, para penyintas juga bisa belajar dan mengetahui prinsip konstruksi yang baik.

Contoh sekolah yang dibangun dengan teknologi RISHA. Sumber: Puskim, 2018

Keunggulan lain sistem RISHA adalah fleksibilitasnya. Karena sifatnya bongkar pasang, maka panel RISHA cocok menjadi rumah tumbuh dan dapat dikembangkan menjadi rumah dua lantai.

Meski RISHA dianggap praktis, penyintas di Lombok juga bisa memilih cara lain, misalnya dengan membangun rumah tembok biasa, asalkan konstruksinya benar. “Kami telah menyebarkan banya brosur tentang tata cara membangun rumah sederhana tahan gempa,” kata dia.

Selain itu, masyarakat bisa membangun rumah tahan gempa menggunakan teknik yang ditemukan para ahli Indonesia lain. Contohnya, ahli konstruksi bangunan rakyat, Teddy Boen, telah mengembangkan teknik penguatan tembok secara sederhana dan relatif murah. Caranya, dinding bata dilapisi kawat ayam di dua sisinya, lalu diplester dengan campuran semen dan pasir setebal 2 sentimeter. Teknik itu dikenal dengan pelapisan ferrocement (Kompas, 8 Mei 2015).

Guru Besar Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Sarwidi juga mengembangkan teknik konstruksi tahan gempa yang dikenal sebagai sistem Barrataga, singkatan dari Bangunan Rakyat Tahan Gempa.

Prinsip dasar Barrataga adalah memberi pengikat-pengikat praktis yang biasanya terbuat dari beton untuk memerkokoh bangunan. Selain itu, ia memberi lapisan pasir di bawah fondasi bangunan untuk meredam dampak guncangan gempa bumi (Kompas, 13 Juli 2015).

Sarwidi mengatakan, semua model bangunan mempunyai kelebihan dan kekurangan. “Para peneliti akan selalu berupaya membuat inovasi agar bangunan rumah tahan gempa semakin populer dengan prinsip biayanya terjangkau, semakin kuat, dan makin singkat pembangunannya. Misalnya, kami sekarang mengembangkan Barrataga semi-konvensional yang akan menggunakan panel pracetak juga,” kata dia.

Apa pun pilihan bentuk dan desain rumah yang akan dibangun nantinya, masyarakat Lombok harus lebih mengedepankan teknologi membangun yang tahan gempa. Jika dulu nenek moyang mereka membangun rumah tradisional dari bambu dan kayu yang terbukti tahan gempa, maka rumah-rumah baru yang hendak dibangun seharusnya lebih kuat.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 27 Agustus 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: