Saat Google Menambang Kelas Menengah-Bawah

- Editor

Selasa, 17 November 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hanya “segitu” spesifikasi Android One yang diarsiteki Google? Kelakar seperti itu sering ditujukan untuk gawai Android One karena spesifikasi dari sang raksasa dunia itu begitu standar di tengah perang spesifikasi produk dari para produsen gawai.

Namun, di balik kelakar itu banyak orang yang tak menyadari apa yang sebenarnya disiapkan Google?

Seperti diberitakan Kompas, Android One menghadirkan telepon seluler (ponsel) pintar dengan harga terjangkau. Indonesia adalah tujuan Android One setelah sebelumnya di India.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Google bekerja sama dengan tiga vendor lokal, yakni Evercoss, Nexian, dan Mito. Android One dibanderol dengan harga sekitar Rp 1 juta. Februari lalu, Evercoss merilis One X, Nexian dengan Journey One, dan Mito memilih nama Impact.

Tiga produsen itu merilis ponsel dengan spesifikasi sama, layar 4,5 inci, prosesor empat inti berkecepatan 1,3 gigahertz Mediatek, memori 1 gigabyte, dan penyimpanan internal 4 gigabyte.

Sesuatu yang lebih besar telah disiapkan untuk mengincar pangsa pasar tertentu. Relevankah keputusan Google itu?

Pemikiran mengenai relevansi di tengah pusaran cepat perubahan itu yang mengemuka saat Kompas mewawancarai Vice President Product Management Google Caesar Sengupta di Mountain View, San Francisco, Amerika Serikat, Kamis (29/10).

472a8bb3f2d148f4a677e24b636ee8b7KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Ponsel One X dari Evercoss disandingkan dengan Journey One dari Nexian, dua dari tiga ponsel seri Android One, hasil kerja sama Google dengan vendor ponsel dalam negeri untuk menghasilkan ponsel dengan harga terjangkau tetapi memiliki kualitas yang terjaga.

Sengupta berulang kali mengulang pernyataan mengenai our next billion users yang merupakan pasar Google selanjutnya. Mereka adalah generasi muda dari kelompok digital natives, penduduk asli digital yang sebagian merupakan generasi Z karena lahir setelah tahun 2000.

Android gawai pertama
Digital natives adalah konsumen Google yang pengalaman pertamanya menggunakan komputer melalui ponsel yang mayoritas Android dan nyaris tak lagi berkenalan dengan komputer desktop atau laptop terlebih dahulu. Generasi digital natives yang menjadi sasaran Google ini juga relatif banyak jumlahnya di negara berkembang, seperti Indonesia, India, dan Brasil. Nah, sampai di sini semakin gamblang apa yang sedang diincar Google.

Inilah mengapa Android One dirilis di segmen pasar menengah-bawah dan diperkenalkan di India dan Indonesia. Sekalipun kerja sama dengan merek yang menyasar segmen di atasnya itu bukanlah hal yang tidak mungkin dilakukan.

Dalam kerangka Android One, produk-produk dari OEM lokal didorong untuk memproduksi perangkat itu dengan asumsi mereka lebih memahami dinamika pasar lokal. Ini termasuk bagaimana menentukan kebijakan harga perangkat yang menjadi keputusan OEM dimaksud.

Pada tahap lanjut, Sengupta menyebutkan OEM yang terlibat dalam kerangka kerja bersama Android One bakal didorong untuk terus beroleh dan menggunakan pemutakhiran sistem operasi yang dipergunakan itu.

Sengupta mengatakan, adalah penting untuk menyadari miskonsepsi tentang Google yang bagi sebagian orang hanya dimaknai sebagai mesin pencari.

“Memang mesin pencari adalah salah satu bagian besar, tapi kami memiliki produk-produk lain yang cakupannya sangat luas. Pada tingkatan tertentu, kami juga adalah perusahaan penyedia platform seperti terjadi pada Android dan Youtube,” ujarnya.

Ciptakan ekosistem bisnis
Tak hanya jualan layanan digital dan gawai, Google selalu rajin menciptakan peluang terbentuknya ekosistem bisnis baru. Peran sebagai pelantar atau platform ini di antaranya termasuk mempertemukan komunitas pengembang aplikasi dan penyedia konten-konten tertentu. Pada bagian lanjutan, mereka menghasilkan putaran ekonomi dan profit yang relatif menguntungkan bagi pihak-pihak yang terlibat.

Bagi Jason Titus, Vice President Developer Products Groups Google, yang diwawancarai sehari sebelumnya, mengembangkan kemampuan dan jumlah developer aplikasi di tingkat lokal ini menjadi penting dalam upaya agar tetap relevan tadi. Di Indonesia, misalnya, selama pekan lalu baru saja diadakan Google Launchpad Week di Jakarta yang memberikan dukungan teknis secara global dalam konteks lokal untuk mengembangkan 13 perusahaan rintisan (start-up) dari Indonesia.

Kemampuan teknis dan ide untuk mengatasi sejumlah persoalan orang banyak lewat berbagai solusi berbasis teknologi didorong sampai pada batasnya. Menciptakan perkakas untuk membangun bisnis mereka di mana Google tak mau ketinggalan untuk turut di dalamnya.

Titus mengatakan, Indonesia memang merupakan pasar kunci Google. Untuk tujuan itulah, mereka melakukan penyelidikan mendalam tentang apa yang dibutuhkan.

“Indonesia satu-satunya negara yang kami pelajari dengan mendalam dan akan kami gunakan hasilnya untuk aplikasi di negara lain,” ujar Titus.

Ungkapan tentang betapa pentingnya pasar Indonesia itu diutarakan Titus sebanyak dua kali dalam rentang kurang dari setengah jam.

Ini pula yang membuat Google mulai menjalankan program cloud test lab untuk melihat seberapa jauh tingkat keberhasilan sebuah aplikasi. Termasuk di dalamnya adalah memperbaiki sejumlah bug yang mungkin bisa mengganggu operasionalisasi aplikasi tersebut.

Android kini telah meraksasa, melibas platform lain, seperti Symbian OS dan Blackberry OS, bahkan iOS. Sulit untuk melawan raksasa ini, tetapi selalu ada jalan menuju puncak capaian bagi mereka yang terus berusaha menyalakan ide-ide inovasi.(INGKI RINALDI)

kompas Siang | 17 November 2015
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 November 2015, di halaman 27 dengan judul “Saat Google Menambang Kelas Menengah-Bawah”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 0 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB