Home / Berita / Rumah Komposit Tahan Gempa untuk Hunian Tetap

Rumah Komposit Tahan Gempa untuk Hunian Tetap

Banyak masyarakat tinggal di daerah rawan gempa. Untuk itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi mengembangkan rumah komposit tahan gempa untuk hunian tetap.

Pengembangan rumah komposit tahan gempa kini telah sampai generasi kedua. Versi baru ini merupakan hasil peningkatan dari generasi sebelumnya yang dipasang di Lombok pada September 2018 sebagai hunian sementara pascagempa Juli dan Agustus 2018.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Bale Kohana, hunian tahan gempa hasil inovasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) diluncurkan di Pusat Teknologi Material BPPT, Puspitek, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (22/5/2019). Purwarupa rumah bertipe 36 ini memiliki keunggulan tahan gempa bumi, berbahan ringan, cepat bangun, dan tahan api.

Rumah komposit tahan gempa versi tahun lalu menggunakan konsep hunian sementara (huntara) untuk mendukung proses tanggap darurat pascagempa. Sedangkan prototipe baru rumah komposit generasi kedua dirancang untuk hunian tetap (huntap) atau permanen dengan memodifikasi desain dan menggunakan material khusus.

“Ada beberapa perbedaannya rumah komposit generasi kedua dibandingkan yang pertama, yaitu menggunakan modular pada tahap pra pemasangannya. Selain itu pada bagian dinding dan atapnya menggunakan bahan tahan api, dan antimikroba atau antijamur,” kata Kepala Program Bangunan Komposit Tahan Gempa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Seto Roseno, Jumat (24/5/2019).

Rumah tahan gempa ini menggunakan bahan komposit, yaitu styrofoam atau busa polistiren dan serat kaca yang diperkuat dengan plastik (fibreglass reinforced plastics/FRP). Material ini ditumpuk seperti sandwich sehingga disebut panel komposit sandwich. Berat panel ini hanya sekitar 2 kilogram, lebih ringan 30 persen daripada dinding semen yang diperkuat dengan serat kaca atau fiberglass.

Selain itu juga digunakan rangka kolom aluminium ekstrusi yang telah dilapisi bahan anti karat. Dengan bahan-bahan material yang relatif ringan ini untuk rumah tipe 36 beratnya 1,4 ton atau hanya 20 persen dari bangunan konvesional dengan ukuran dan model yang sama.

Material dipilih yang ringan dan elastis untuk memenuhi prinsip bangunan tahan gempa. Semakin ke atas material yang digunakan harus semakin ringan. Karena semakin ringan struktur yang terbangun, risiko fatal tertimpa material bangunan yang runtuh makin kecil. Hal inilah yang mendasari penggunaan bambu pada rumah-rumah tradisional di Indonesia.

Selain material yang ringan prinsip lain dalam membangun rumah tahan gempa adalah bentuk denah yang simetris dan menyatu dalam lingkup tiga dimensi yaitu berbentuk kotak dan lingkaran. Dengan demikian gelombang gempa akan terdistribusi merata.

Ketahanan bangunan tahan gempa juga ada pada pengikat di tiap bagian dinding dan atapnya yaitu berupa angkur dan pelat, memasang sengkang atau tulangan melintang yang rapat dan memberi kolom-kolom di dinding. Menggunakan ikatan yang utuh pada sambungan di tiap panel rumah komposit ini maka ketika digoyang gempa, sambungannya tidak lepas sehingga bangunan tidak roboh.

Kekuatan rumah komposit generasi dua ini ditingkatkan dengan pemasangan sistem bantalan (seismic bearing pad) pada bagian fondasinya untuk mengisolasi bangunan dari guncangan gempa. Selain itu pada bagian sambungannya menggunakan sistem penguncian interlock.

Dalam simulasi komputasi, konstruksi rumah ini terbukti tahan gempa pada 7 Skala Richter. Konstruksi rumah ini teruji aman menahan percepatan gempa 2,28 G pada frekuensi 0,1-10 hertz dengan metode (spektrum) serta kombinasi beban diam, bergerak, dan faktor angin.

Bale Kohana
Rumah komposit tahan gempa ini diberi nama Bale Kohana. Desain, rancang bangun dan pembuatannya dirintis sejak tahun 2016 oleh tim inovator dari Pusat Teknologi Material (PTM) dan Sentra Teknologi Polimer BPPT. Adapun pembuatan panelnya melibatkan industri lokal yakni PT Bondor Indonesia dan PT Tata Logam Lestari dengan tingkat komponen dalam negeri hampir 80 persen.

Dalam acara peluncuran Bale Kohana di Pusat Teknologi Material – BPPT, Gedung 224 PUSPIPTEK, Tangerang Selatan, Rabu (22/5), Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan inovasi rumah komposit ini merupakan jawaban atas masalah yang dihadapi masyarakat, pemerintah daerah, dan Badan nasional Penanggulangan bencana (BNPB) dalam penyediaan hunian sementara pascagempa.

Untuk itu BPPT merancang rumah komposit tahan gempa menggunakan material yang ringan sehingga mudah dibawa dan cepat pemasangannya, yaitu menggunakan sistem sambungan knock down yang mudah dibongkar pasang. Pembangunannya selama seminggu dengan melibatkan lima orang pekerja.

Desain Bale Kohana juga telah dikembangkan menjadi rumah hunian yang permanen, bagi masyarakat di kawasan rawan gempa. Menurut Hammam, mereka memerlukan rumah yang kokoh dari terjangan gempa karena fakta menunjukkan rumah mereka umumnya rumah biasa yang mudah roboh hingga berpotensi mengancam keselamatan jiwa mereka.

Data kebencanaan yang dikeluarkan BNPB menyebutkan selama periode 2000-2018 terjadi 228 gempa bumi, dengan korban meninggal dunia 8.747 orang. Fenomena kebumian ini menyebabkan hampir 1,2 juta rumah mengalami kerusakan mulai dari rusak ringan hingga rusak berat.

Ancaman kerugian ini akan semakin besar mengingat sebagian besar wilayah Indonesia tergolong rawan gempa merusak dan jumlah penduduknya terus meningkat. Untuk meredam korban jiwa dan kerugian harta benda yang besar BPPT menginisiasi mendesain dan merancang bangun rumah tahan gempa termasuk memperhatikan jenis material, pengujian struktur hingga aspek keekonomiannya.

Rumah komposit generasi kedua ini lebih besar dibandingkan generasi pertama yang bertipe 21, memerlukan anggaran Rp 40 juta, sedangkan Bale Kohana tipe 36 sekitar Rp 70 juta. BPPT kemudian menghibahkan dua rumah komposit kepada Pemerintah Kota Bogor untuk difungsikan sebagai fasilitas umum di Kelurahan Pasir Jaya.

Rumah komposit di Pusat Teknologi Material dan Balai Teknologi Polimer BPPT telah ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek Komposit Polimer pada tahun 2018. Salah satu hasil inovasinya adalah Bale Kohana bertipe 36 yang tahan api.

Pengembangan Bale Kohana ini akan terus berlanjut dengan mempersiapkan program Flagship Prioritas Riset Nasional 2020-2024 tentang Teknologi Sruktur Bangunan Tahan Gempa, Tahan Api, dan Cepat Bangun. Keluarannya berupa desain, SOP pembangunan Rumah, dan Standardisasi kualitas Bangunan.

Hammam mengharapkan program ini mendukung Rencana Kerja Pemerintah 2020 yaitu Penguatan Infrastruktur Kawasan Tertinggal dan Ketahanan Bencana yang ditetapkan Kementerian PPN/Bappenas pada saat Musyarawah Rencana Pembangunan Nasional 2019.

Oleh YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 27 Mei 2019

Share
x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: