Home / Berita / Rumah dengan Dua Sistem Listrik

Rumah dengan Dua Sistem Listrik

Salah satu tujuan pembuatan rumah ini ialah mengurangi ketergantungan kepada listrik dari negara. Pemilik bisa menghasilkan listrik sesuai kebutuhannya. Sistem kelistrikannya pun dirancang ramah lingkungan.

Memiliki rumah merupakan impian bagi setiap orang. Perkembangan zaman menjadikan kebutuhan hunian tidak lagi sekadar layak dan nyaman, tetapi juga murah dan ramah lingkungan. Fakultas Teknik Universitas Indonesia berupaya menawarkan solusi berupa hunian yang murah sekaligus hemat energi sehingga tidak membebani lingkungan.

Inovasi itu diwujudkan melalui Sofwan House, sebuah laboratorium berbentuk rumah yang dirancang khusus menyasar kelompok milenial (kelahiran 1979-1992). Peti kontainer bekas dipilih sebagai bahan konstruksi. Dalam hal ini, desainnya menggunakan dua peti kontainer.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Panel listrik di ruang tamu Sofwan House, laboratorium rumah murah dan hemat energi milik Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

“Kontainer merupakan bahan bangunan yang selain murah juga tahan guncangan gempa. Membuat rumah dari kontainer tidak memerlukan izin mendirikan bangunan. Selain itu, jumlah kontainer bisa ditambah maupun dikurangi oleh pemilik rumah sesuai kebutuhan banyaknya ruangan,” kata Direktur Pusat Energi Tropis Terbarukan (TERC) FT UI Eko Adhi Setiawan pada peresmian laboratorium yang dinamakan Sofwan House di Depok, Jawa Barat, Kamis (25/10/2018).

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Tampak samping Sofwan House FT UI.

Eko mencermati, materi kontainer mulai banyak digunakan di berbagai wilayah di Indonesia. Terutama wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal yang kesulitan mendatangkan bahan-bahan bangunan konvensional seperti pasir, batu bata, semen, dan besi. Penggunaan kontainer juga memungkinkan pendaur ulangan kontainer bekas dari truk maupun kapal tanker.

Dua sistem listrik
Keistimewaan Sofwan House selain berbahan baku murah ialah penggunaan dua sistem pembangkit listrik, yaitu panel surya dan tenaga hidrogen. Artinya, rumah dirancang bersistem listrik ganda. Panel surya diletakkan di atap dan menyerap energi sinar matahari sekaligus menabungnya ke dalam batere bertegangan 48 Volt. Energi yang diserap digunakan sebagai pembangkit listrik di siang hari. Adapun energi yang disimpan di dalam batere digunakan pada malam hari.

Ketika cuaca mendung, tenaga listrik yang berasal dari energi surya digantikan oleh tenaga hidrogen yang merupakan bahan bakar bebas emisi sehingga tidak merusak lingkungan. Hidrogen yang disimpan di dalam tabung harus diganti ketika habis. Apabila belum sempat mengganti hidrogen, pemilik rumah bisa mengombinasikan listrik dari energi surya dengan listrik dari PLN (Perusahaan Listrik Negara) sebagai cadangan.

Menekan ketergantungan
Salah satu tujuan pembuatan rumah ini ialah mengurangi ketergantungan kepada listrik milik negara. Pemilik bisa menghasilkan listrik sesuai kebutuhannya. “Pengubahan dari panel surya ke hidrogen masih dilakukan secara manual, akan tetapi kami sedang mengembangkan metode pemindahan otomatis,” kata Eko.

Pembeda rumah ini dari rumah lainnya juga dari sisi penggunaan listrik arus DC, yaitu arus searah. Rumah-rumah konvensional menggunakan arus AC yang bersifat bolak-balik sehingga aliran listriknya fluktuatif.

Arus DC selain stabil juga memiliki beban listrik lebih ringan. Apabila tegangan arus DC 230 Volt, listrik yang bisa dipakai juga sepenuhnya dalam jumlah itu. Berbeda dengan arus AC yang apabila tegangannya 220 Volt, kemungkinan jumlah daya listrik yang bisa dipakai berkurang 10 persen hingga 16 persen.

Terdapat juga konverter untuk arus DC yang berkapasitas 2.500 Watt hingga 4.000 Watt. Konverter ini sudah dikembangkan sejak tahun 2016 menggunakan hibah dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Penelitian tersebut dikembangkan sebagai bentuk inovasi memberi listrik yang efisien dan ringan kepada masyarakat.

Menurut Eko, arus DC cocok digunakan di rumah karena mayoritas peralatan elektronik memakai arus ini. Hal ini membuat peralatan elektronik bisa lebih awet. Beberapa perabotan besar seperti kulkas dan pompa air banyak yang masih menggunakan arus AC.

Namun, belakangan ini, di pasaran mulai bermunculan perangkat elektronik rumah tangga yang berbasis arus DC. Eko optimistis melalui perubahan pola pikir konsumsi listrik, masyarakat bisa memberi efek positif kepada produsen benda-benda elektronik untuk menciptakan lebih banyak produk berbasis arus DC.

Donatur Sofwan House, Direktur PT Radiant Utama Interinsco Sofwan Farisyi mengungkapkan, inovasi rumah ramah lingkungan oleh FT UI menunjukkan kepada masyarakat bahwa membuat hunian tidak perlu bergantung pada sumber daya alam seperti pasir, kayu, dan batu. Penggunaan gabungan panel surya dan tabung hidrogen sebagai sumber tenaga listrik juga merupakan terobosan yang memungkinkan wilayah tanpa jaringan listrik dari negara tetap mendapat pemenuhan kebutuhan listrik yang stabil.

“Dari segi ekonomi, harga panel surya terus menurun selama 15 tahun terakhir. Dulu harganya mencapai puluhan juta rupiah. Sekarang hanya belasan juta rupiah. Semakin banyak yang memakai, harganya akan semakin terjangkau,” tutur Sofwan.

Purwarupa Sofwan House yang terdiri dari dua kontainer berlapis dinding sebagai peredam panas ini memiliki ruang tamu, kamar tidur, dapur kecil, dan kamar mandi. Kedua kontainer juga dilengkapi penyejuk udara. Adapun harga komersil rumah dipatok Rp 250 juta.

Bermisi ganda
Eko menjelaskan, proyek Sofwan House ini berlandaskan pemikiran bahwa rumah yang murah tidak sekadar ramah lingkungan dan hemat energi, tetapi juga mudah dimanipulasi bentuk dan ukurannya serta lokasinya. Penggunaan peti kontainer selain mudah ditambah dan dikurangi jumlahnya juga mudah dipindahkan.

Ke depan, masyarakat menginginkan rumah yang portabel dan bisa diangkut ke wilayah baru. Pemilihan penggunaan listrik berarus DC juga karena alasan ini: penyusunan jaringannya tidak rumit. Di samping itu, walaupun sumber daya listriknya kecil karena cuaca mendung misalnya, arus listrik tetap stabil sehingga ramah terjadap peralatan elektronik.

Terdapat pula idealisme untuk mengubah peralatan elektronik di pasaran menjadi berbasis arus DC karena hemat listrik. Akan tetapi, jika menunggu perubahan berlandaskan inisiatif industri akan memakan waktu lama. Oleh sebab itu, dikembangkanlah inovasi hunian murah dan ramah lingkungan ini.

“Kami ingin mengubah pola pikir masyarakat terkait konsumsi untuk rumah dan energi. Kami optimistis, dengan perubahan di masyarakat, industri akan mengikuti dengan memproduksi makin banyak peralatan elektronik berarus DC,” tuturnya.

Bisa disebut, inovasi ini sarat misi ganda…–LARASWATI ARIADNE ANWAR

Sumber: Kompas, 5 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antarktika 90 Juta Tahun Lalu Berupa Hutan Hujan Beriklim Sedang

Pada 90 juta tahun lalu, benua Antarktika masih berupa hutan hujan beriklim sedang. Kini, Antarktika ...

%d blogger menyukai ini: