Home / Berita / Robot Perawat Pasien Covid-19

Robot Perawat Pasien Covid-19

Tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan Universitas Airlangga bekerja sama mengembangkan robot perawat pasien Covid-19. Penggunaan robot ini diharapkan menekan risiko penularan penyakit itu kepada tenaga medis.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA—Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak (keempat dari kiri) didampinggi Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Mochamad Ashari (kedua dari kanan) melihat Robot Medical Assistant ITS-UNAIR (RAISA) yang baru dibuat oleh Tim Robot ITS, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (14/4/2020). Robot yang dikendalikan dengan remote jarak jauh dan didukung kecerdasan buatan itu untuk membantu melayani pasien covid-19

Dua kampus di Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan Universitas Airlangga, menciptakan robot untuk menggantikan sebagian peran paramedis dalam merawat pasien Covid-19. Robot bernama Robot Medical Assistant ITS – Airlangga atau RAISA diklaim mampu mengurangi potensi transmisi hingga 50 persen.

Tenaga medis semestinya menjadi benteng terakhir dalam penanganan pasien Covid-19 atau penyakit yang disebabkan virus korona (corona) baru. Mereka dengan sadar melakukan kontak dekat karena harus menjalankan tugasnya untuk merawat pasien. Dokter dan perawat itu menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terpapar virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19.

Risiko yang besar itu membuat tidak sedikit paramedis yang terpapar bahkan meninggal akibat Covid-19. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat, hingga 19 April 2020 lalu, setidaknya ada 30 dokter meninggal dunia karena Covid-19. Sementara dari kalangan perawat, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) mencatat ada 14 perawat meninggal akibat terinfeksi virus korona baru.

Penularan Covid-19 ke paramedis berasal dari berbagai macam faktor, salah satunya penggunaan alat pelindung diri yang tidak tepat atau tidak sesuai standar. Bahkan, di beberapa fasilitas kesehatan, paramedis harus mengenakan jas hujan karena ketiadaan alat pelindung diri yang memadai. Meskipun sudah menggunakan alat pelindung diri sesuai standar medis pun, potensi penularan dari pasien tetap ada.

Salah satu solusi untuk mengurangi potensi transmisi dari pasien ke tenaga medis adalah menggunakan bantuan robot dalam merawat pasien Covid-19. Pemakaian robot dapat mengurangi intensitas kontak langsung antara pasien dengan dokter dan perawat sekaligus mengurangi penggunaan alat pelindung diri yang jumlahnya masih terbatas.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA—Robot Medical Assistant ITS-UNAIR (RAISA) yang baru dibuat oleh Tim Robot Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berjalan mengikuti perintah, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (14/4/2020). Robot yang dikendalikan dengan remote jarak jauh dan didukung artificial intelegent tersebut dibuat untuk membantu melayani pasien covid-19.

Di Indonesia, ada robot yang sudah digunakan untuk merawat pasien Covid-19 yakni Robot Medical Assistant ITS – Airlangga atau disingkat RAISA. Robot ini dikembangkan oleh peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan dokter dari Universitas Airlangga. Robot RAISA sudah mulai digunakan di Rumah Sakit Penyakit Tropis Infeksi, Universitas Airlangga.

Pengajar Teknik Komputer ITS, Muhtadin, di Surabaya, Minggu (19/4/2020), mengatakan, RAISA merupakan robot pelayan kesehatan yang bisa bergerak ke berbagai penjuru arah seperti manusia. Robot digerakkan oleh roda yang yang terhubung dengan motor listrik. RAISA ditenagai baterai berkapasitas 0,85 kilowatt hour dan mampu bertahan selama 10 jam dalam sekali pengisian baterai.

Robot itu dikendalikan dari jarak jauh menggunakan joystick yang terhubung melalui koneksi Wifi. Paramedis yang menjadi operator dapat melihat keadaan di sekeliling robot karena ada dua kamera yang dipasang, yakni kamera OmniVision di bagian paling atas yang memiliki sudut pandang 360 derajat dan kamera lebar di bagian depan untuk pandangan arah depan.

Robot dengan panjang 0,5 meter, lebar 0,5 meter dan tinggi 1,6 meter ini dilengkapi empat rak bersusun yang bisa digunakan untuk membawa barang-barang, seperti obat, makanan, pakaian, maupun barang lain kebutuhan pasien. Beban yang bisa diangkut mencapai sekitar 50 kilogram.

“Dokter dapat berkomunikasi dua arah dengan pasien karena RAISA dilengkapi dengan alat komunikasi berupa monitor, speaker (pelantang suara), dan mikrofon,” katanya.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA—Rektor ITS Mochamad Ashari berinteraksi dengan Robot Medical Assistant ITS-UNAIR (RAISA) yang baru dibuat oleh Tim Robot Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur, Selasa (14/4/2020).

Muhtadin mengatakan, RAISA dibangun oleh para peneliti dalam waktu dua minggu. Basis utama RAISA adalah robot sepak bola beroda, Iris, yang pernah meraih peringkat kelima dalam kompetisi Soccer Middle Size League di Sydney, Australia, Agustus 2019 lalu.

Selain dari Iris, RAISA juga menggunakan teknologi dari robot kapal tanpa awak (Barunastra), robot dalam Kontes Robot Indonesia (KRI), serta robot humanoid (Ichiro). ITS sesungguhnya memiliki teknologi robot humanoid, tetapi jalannya terlalu lama dan rawan jatuh sehingga platform yang paling dekat adalah robot sepak bola.

“ITS mengembangkan riset tentang robotika yang sangat variatif dan telah teruji dalam berbagai kompetisi. Kini, saatnya pengalaman yang kami miliki digunakan untuk membantu mengatasi pandemi Covid-19,” kata Muhtadin.

Rencananya, ITS akan membuat empat robot untuk membantu penanganan pasien Covid-19 di Rumah Sakit Penyakit Tropis Infeksi, Universitas Airlangga. Pembuatan satu unit robot memerlukan waktu antara satu hingga dua minggu. Adapun biaya pembuatan satu set robot RAISA menghabiskan dana sekitar Rp 100 juta.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Mahasiswa mengendalikan Robot Medical Assistant ITS-UNAIR (RAISA) yang baru dibuat oleh Tim Robot Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur, Selasa (14/4/2020).

Harus steril
Direktur Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS Unair) Prof Nasronudin mengatakan, robot harus steril agar tidak menjadi sumber penularan baru. Setiap selesai melayani pasien, robot akan disemprot dengan cairan disinfektan.

Keberadaan robot di rumah sakit rujukan Covid-19 bisa mengurangi potensi transmisi virus korona baru dari pasien ke paramedis. Intensitas kontak langsung antara paramedis dengan pasien berkurang karena sebagian tugasnya digantikan robot. “Transmisi berkurang hingga 50 persen karena intensitas kontak langsung antara pasien dan dokter berkurang,” ungkapnya.

Dalam sehari, ada beberapa kali kunjungan pasien, seperti pemeriksaan rutin, pengantaran obat, makanan, serta pakaian. Jika sebagian peran itu digantikan robot, maka intensitas kontak langsung bisa berkurang. Pasien juga bakal lebih nyaman karena tidak terlalu sering didatangi paramedis.

“Robot tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran paramedis. Sentuhan langsung dokter dan perawat masih sangat diperlukan karena dapat menumbuhkan semangat pasien untuk sembuh,” kata Nasronudin.

Oleh IQBAL BASYARI

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 27 April 2020

Share
x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: