Riset Perkebunan Diserap Pasar

- Editor

Jumat, 3 Januari 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teknologi Kultur Jaringan Masih Jadi Andalan

Hasil riset perkebunan menarik perhatian industri dan investor. Riset, seperti dilakukan PT Riset Perkebunan Nusantara, terbukti mampu menghasilkan produk-produk yang berpotensi menghasilkan keuntungan dari proses riset yang berongkos tinggi.

PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) menyebarluaskan hasil kegiatan riset untuk memacu produktivitas berbagai komoditas, seperti kakao, kopi, karet, kelapa sawit, tebu, dan teh, serta tanaman pangan lain. Selain untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, komersialisasi hasil riset juga menunjang kegiatan riset dan pengembangan berikutnya.

”Komersialisasi hasil riset di antaranya kami mengajukan penawaran pengalihan hak kekayaan intelektual perlindungan varietas tanaman (PVT) tebu kepada pemerintah. Juga pelepasan varietas baru kakao dan kopi,” kata Direktur Riset dan Pengembangan PT RPN Gede Wibawa, Kamis (2/1), di Bogor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

PT RPN melepas varietas tebu PSJK 922 tahun 2012 dan varietas tebu PSDK 923 tahun 2013. Jenis baru ini menghasilkan gula di atas 10 ton per hektar per tahun, melampaui produktivitas tebu yang sekarang diproduksi di bawah 8 ton per hektar per tahun.

Besarnya penawaran untuk pengalihan hak kekayaan intelektual PVT tebu itu senilai Rp 10 miliar kepada pemerintah. Selanjutnya, pemerintah punya hak memproduksi dan mendistribusikan benih tebu varietas baru tersebut secara massal.

ca6a68f9a28c444fbcd7f3555ebf3952Selain tebu, ada tanaman kopi. ”Hasil riset kopi robusta klon BP 936 akan dilepas tahun 2014. Jenis kopi ini memiliki akar dan batang bawah kuat yang tahan hama nematoda,” kata Gede.

Kopi robusta klon BP 936 diproyeksikan meningkatkan produktivitas kopi.

PT RPN juga akan melepas varietas baru kakao yang tahan hama VSD (vascular streak dieback) yang menyerang pucuk daun. Adapun hasil riset komoditas karet dengan okulasi juvenil dan akar ke bawah ditawarkan untuk meningkatkan pertumbuhan benih karet.

”Akar yang diarahkan tumbuh ke bawah lebih optimal pertumbuhannya daripada yang melingkar di polybag,” kata Gede.

Kelapa kopyor
Hasil riset komoditas perkebunan lain, seperti kelapa kopyor, juga memiliki peluang besar meningkatkan pendapatan masyarakat. Riset kelapa kopyor di bawah Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) dilakukan sejak belasan tahun lalu.

Direktur BPBPI Priyono mengatakan, teknologi pengembangbiakan kelapa kopyor sudah mendapat paten sejak 18 tahun lalu. Namun, kesadaran memproduksi massal baru muncul satu tahun terakhir dengan menggandeng produsen es krim dan investor.

Mereka menanam 400 pohon kelapa kopyor di Cikumpay, Purwakarta. Lalu, ditanam lagi 800 pohon kelapa kopyor di Ciomas, Bogor. ”Tahun ini diperluas lagi dengan 5.000 pohon kelapa kopyor di Ciomas dan Cibodas,” kata Priyono.

Minat industri terhadap produk kelapa kopyor saat ini ternyata sangat tinggi. Produsen es krim jaringan nasional meminta suplai daging buah kelapa kopyor 2 ton per bulan, tetapi masih sulit dipenuhi.

”Bulan Desember 2013, kami hanya mampu mengirim perdana 100 kilogram daging buah kelapa kopyor. Jauh dari jumlah permintaan industri itu,” katanya.

Kelapa kopyor BPBPI ada dua jenis. Jenis kopyor dengan pembuahan eksternal dan jenis pembuahan sendiri (genjah). Jaminan daging buah kopyor kedua jenis itu hampir seratus persen.

BPBPI menggunakan metode kultur jaringan untuk teknik pengembangbiakan kelapa kopyor itu. Akan tetapi, pengembangbiakan benih kelapa kopyor tersebut masih lambat karena dari satu butir kelapa hanya dapat menghasilkan satu individu benih.

Kepala Biro Riset PT RPN Sumaryono mengatakan, benih kelapa kopyor yang banyak beredar di tengah masyarakat saat ini hanya memiliki peluang berhasil 25 persen. Riset terkini memungkinkan benih kelapa kopyor menghasilkan hingga 99 persen buah daging kelapanya benar-benar kopyor. (NAW/GSA)

Sumber: Kompas, 4 Januari 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 15 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB