Home / Featured / Rino Rakhmanta Mukti, Peluang dari Limbah Padi

Rino Rakhmanta Mukti, Peluang dari Limbah Padi

Memanfatkan silika sekam padi untuk penyulingan minyak bumi.

Hasratnya menemukan hal baru dalam dunia sains membuat Rino Rakhmanta Mukti, 41 tahun, memfokuskan penelitiannya pada material maju (advanced material). Material maju dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pemutakhiran teknologi di bidang industri. Material ini berukuran nanometer atau sepermiliar meter.

“Material maju ini sangat dibutuhkan dalam bioengineering,” kata dosen Kelompok Keilmuan Kimia Fisik dan Anorganik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung ini.

Rino kini meneliti zeolit, yang merupakan mineral berpori terbuat dari kristal alumina silika. Adapun katalis zeolit adalah zeolit yang dipakai sebagai penyokong dalam berbagai reaksi kimia. Ilmuwan dan praktisi perminyakan juga sudah me ngetahui bahwa kerangka zeolit bisa dipakai untuk menyuling minyak bumi.

Rino menggeluti bidang penelitian zeolit sejak 2003. Saat itu ia memilih zeolit alam yang ditambang oleh perusahaan di Indonesia. Di tengah penelitiannya itu, ia menemukan bahwa, selain dengan penambangan, zeolit bisa diproduksi dari limbah sekam padi. Menurut dia, sudah lama diketahui bahwa sekam pagi mengandung silika. Namun belum ada yang memanfaatkan silika tersebut untuk membuat katalis zeolit.

Ia melihat, di masa mendatang, sekam padi bisa dipakai untuk membuat zeolit dalam skala massal sehingga bisa dipakai di industri petrokimia atau industri hilir seperti pembuatan minyak sawit. “Sekarang kan gembargembor mengenai sumber energi non-impor, nah ini bisa,” ujar peraih gelar doktor teknik kimia dari Technische Universitat Muenchen, Jerman, pada 2007 itu.

Produksi zeolit dari limbah sekam padi, menurut Rino, tak akan berkurang. Pasokannya pasti terjamin karena banyak negara memproduksi padi.

Zeolit yang digunakan untuk menyuling minyak bumi berharga ratusan dolar Amerika Serikat per kilogram. Padahal zeolit dari alam, menurut dia, memiliki performa katalis yang lebih rendah dibanding zeolit yang dibuat di laboratorium seperti zeolit sekam padi. “Jika perusahaan dalam negeri seperti Pertamina mau memanfaatkannya, kita tak perlu lagi bergantung pada zeolit dari Amerika atau Jepang,” tuturnya.

Rino mengakui penelitian yang dilakukannya bersama sejumlah peneliti dari dalam dan luar negeri masih berskala laboratorium. “Tantangannya adalah mengembangkan proyek ini ke level komersial,” dia mengungkapkan. Pekerjaan itu, menurut dia, memerlukan sinergi antara peneliti, perekayasa, pemerintah, dan investor.

Dalam kurun delapan tahun ke depan, Rino memprediksi katalis zeolit berbahan baku sekam padi bisa dikomersialkan. Ia sudah menyusun tim guna pengembangan riset itu lebih lanjut. Ia juga menjalin relasi dengan komunitas internasional yang berfokus pada kajian katalis zeolit.

Penelitiannya tentang pengembangan zeolit diganjar penghargaan Ahmad Bakrie Awards 2016 untuk kategori peneliti muda. Tim juri menilai dia layak mendapatkan penghargaan atas sumbangsihnya terhadap pemikiran energi di masa depan.

Sumber: Koran Tempo, KAMIS, 16 AGUSTUS 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: