Reaktor Bekas Dikecam

- Editor

Kamis, 7 April 2011

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Inisiatif penggunaan reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir bekas dikecam sebagai tindakan salah dan mengelabui publik. Pemerintah dianggap bertindak terlampau jauh, mengambil peran yang seharusnya menjadi tanggung jawab investor PLTN nantinya.

”Kalau mau membeli reaktor PLTN bekas, itu tindakan salah,” kata anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Rinaldy Dalimi, Rabu (6/4) di Jakarta.

Rinaldy mengatakan, sebagian besar pengambil keputusan tidak mendapat informasi nyata tentang PLTN. Pemerintah selama ini juga dinilai salah memahami dan membuat sosialisasi PLTN hanya dari sisi positif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Pemerintah semestinya sebaliknya, memberi sosialisasi risiko negatif PLTN untuk meningkatkan kehati-hatian bagi siapa saja yang akan menjadi investor dan pengelola PLTN, jika itu nanti memang dibangun,” kata dia.

Inisiatif penggunaan reaktor PLTN bekas diungkap anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Perancis ketika mendampingi rombongan pejabat pemerintah yang studi banding di Perancis tahun 2007. Anggota PPI Perancis diminta menerjemahkan pertanyaan atau keingintahuan peserta rombongan, antara lain keingintahuan harga reaktor PLTN bekas dari Perancis.

Ketua Masyarakat Antinuklir Indonesia Dian Abraham mengatakan, inisiatif menggunakan reaktor PLTN bekas selama ini dipercaya sebagai rumor. Namun, ia kaget ketika ada saksi mata menyampaikan hal itu benar-benar nyata diinginkan para pengambil kebijakan di Indonesia.

”Perancis itu negara supplier (penghasil) teknologi PLTN,” kata Dian.

Bila keinginan membeli PLTN bekas diungkapkan di Perancis, itu menunjukkan karakter pengambil kebijakan PLTN sebetulnya belum siap. Dian menegaskan, hal itu menunjukkan kondisi yang mengelabui publik.

”PLTN kerap dikampanyekan para pengambil kebijakan bahwa teknologinya sekarang sudah sangat aman, canggih, dan murah. Namun, ternyata masih ada upaya untuk membeli yang bekas,” kata dia.

Hentikan wacana

Menurut Dian, sekarang saatnya menghentikan wacana pembangunan PLTN. Pemerintah tidak perlu malu. Bisa dikaitkan dengan unsur kehati-hatian setelah mencermati kecelakaan PLTN Fukushima, Jepang, akibat gempa dan tsunami beberapa waktu lalu.

Ahli nuklir, Sihana, dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan, pembelian reaktor PLTN bekas barangkali terinspirasi rencana pembelian kapal selam milik Rusia yang bertenaga nuklir. Rusia pernah menawarkan teknologi PLTN yang ada di kapal selam itu bisa membangkitkan listrik untuk menunjang kebutuhan listrik di darat.

”Secara teknis, pembelian PLTN bekas yang ada di darat sangat tidak mungkin. Radioaktifnya akan ada di mana-mana,” kata Sihana.

Menurut Rinaldy, perkembangan terakhir mengenai rencana uji tapak PLTN di wilayah Bangka Belitung oleh pemerintah merupakan tindakan salah. Semestinya, uji tapak PLTN tersebut dilakukan investor yang akan menjadi pemilik dan pengelola PLTN.

”Pemerintah membuang-buang duit dengan melakukan hal yang semestinya tidak perlu ditempuh,” kata Rinaldy. (NAW)

Sumber: Kompas, 7 April 2011

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 9 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru